Menabuh Rindu Bunda Cammana

Malam itu saya bertemu. Wajah saya tertunduk malu. Wanita ini yang diagungkan Mbah Nun. Saya membaca beberapa literatur tentang dirinya sebelum bertemu. Dan juga mendengar banyak cerita dari para sesepuh Maiyah di Mandar.

Pada malam itu, meski badan sedang kurang sehat, tapi senyum tak lepas dari wajahnya. Rumahnya yang sederhana, khas masyarakat Mandar. Rumah panggung. Tempat menjamu tamu pun sangat sederhana. Bagi kami, yang mengaku-ngaku anak cucunya di Jawa, jamuan makan sangatlah istimewa. Berkah melimpah bagi kami.

Tapi, jauh lebih istimewa, ketika Bunda Cammana dan anak-anaknya menjamu kami dengan shalawat berbahasa Mandar yang diiringi tabuhan rebana khas Mandar pula. Senandung yang biasanya kami dengar hanya melalui suara mbak Yuli KiaiKanjeng pada saat Maiyahan dimana-mana.

Beliau manusia shalawat. Shalawat tak lepas dari mulut dan batinnya. Anak-anak kecil dilatih menabuh rebana. Sebuah alat musik terbuat dari kulit sapi yang digunakan untuk menemani masyarakat Mandar bershalawat. Dengan tabuhannya yang khas, Bunda Cammana sudah mendidik beberapa generasi penabuh rebana khas Mandar. Gaya tabuhannya serasa istimewa. Dari sinilah Bunda Cammana mendapat banyak penghargaan dari pemerintah, karena termasuk pelestari musik tradisional khas masyarakat Mandar. Maestro Rebana Nusantara.

Bunda Cammana selalu menggunakan Bahasa Mandar untuk komunikasi dengan siapapun. Saya yang tak mengerti, harus dibantu oleh teman-teman dari Teater Flamboyan untuk menerjemahkannya. Selalu ada isak tangis ketika berbicara. Apalagi jika menyinggung Mbah Nun. Tak ada kata yang bisa dia ucapkan. Kami pun ikut terharu. Sewaktu kami akan pulang, Bunda Cammana menitipkan hadiah untuk Mbah Nun. Sekotak sederhana dengan tulisan, “Untuk Cak Nun, dari Bunda Cammana”. Kata beliau, khusus untuk Cak Nun. Anaknya berkata, hadiah itu berisi rokok kesukaan Mbah Nun beberapa bungkus.

Bunda Cammana ini orang sakti. Begitu untuk kalangan masyarakat Mandar. Banyak warga masyarakat yang datang kesitu, meminta air minum yang didoakan untuk hajat mereka. Beberapa barang hilang pun, Bunda Cammana dimintai tolong untuk mencari informasinya. Minta doa, tanya hari baik, Bunda Cammana selalu menjadi rujukan. Setiap malam Jumat, sehabis maghrib Yasin tahlil dan shalawat selalu menghiasi rumahnya.

Ya Allah, rindu kami membuncah.

Kami sedih atas kepergianmu, tapi juga berbahagia atas berkahnya kepada Masyarakat Maiyah. Bunda Cammana tidak pergi, tapi hanya pulang. Tabuhan rebananya terdengar di surga, bersenandung mesra di hadapan Kanjeng Nabi. Kami di sini mendoakanmu selalu. Sembari terngiang-ngiang tabuhan rebana khas Mandarmu.

Purwokerto, 7 September 2020

Buku dan Merchandise