Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Yogyakarta edisi November 2020

Memperteguh Dimensi Tawakal dan Kalimat Thayyibah

Seusai Mas Ramli memimpin tadarus ayat suci Al-Qur’an, Mas Lutfi — sedulur Bangbang Wetan — melanjutkan shalawatan. Ia ditemani sejumlah jamaah BBW lain, yang malam itu kompak berseragam polo merah dan berpeci Maiyah.

Shalawat Alfu Salam sampai Marhaban Ya Nural ‘Aini dilantunkan kolosal. Sewaktu puji-pujian kepada Kanjeng Nabi beralun khidmat, rerintik hujan turun membasahi Kadipiro dan sekitarnya. Begitu tenang, begitu damai.

Mocopat Syafaat (14/11) malam itu Cak Nun mengajak kepada jamaah yang hadir secara terbatas di Rumah Maiyah untuk terus produktif menjalani aktivitas sehari-hari selama pandemi. Ia mengingatkan agar jamaah mempertimbangkan tiap sebab-akibat atas kegiatan yang dilakukan.

“Hidup ini menjalankan sebab-sebab untuk memperhitungkan akibat-akibat,” terang Cak Nun. Jeli memprediksi akibat yang dilakukan akan membuat pelaku senantiasa waspada. Kewaspadaan ini harus dilandasi pula oleh sikap tawakal kepada Allah.

Ibarat orang mencari laba, ia mesti diusahakan dan dipasrahkan kepada Yang Maha. Namun, pencarian laba ini bukan dalam pengertian kalkulasi ekonomi. “Karena kita harus melihat mata uang lebih hakiki. Yakni mata uang kita di sini adalah tawakal,” ujarnya.

Tawakal bukan saja penting, melainkan ia menjadi basis utama hubungan antara Tuhan dan hamba. Manusia tak dapat menjangkau sesuatu, sehingga ia harus bertawakal kepada-Nya. “Sebaik-baik laba itu dari Allah,” imbuhnya.

Tawakal berhubungan erat dengan shalawat. Maiyah sendiri menyebut keterjalinan itu lewat Solusi Segitiga Cinta: memosisikan Allah sebagai faktor primer bersama Rasulullah dalam mengupayakan solusi atas pelbagai persoalan.

Solusi Segitiga Cinta ini inheren dan berbeda dengan Solusi Bulatan, yang cenderung mendudukkan Tuhan sebagai faktor sekunder — menjadi pelengkap penderita saat seseorang sedang menghadapi masalah.

Bertawakal di jalan Tuhan, sambung Yai Muzammil, akan membuat Tuhan mencukupi kebutuhan hamba. “Ini sesuai dengan firman Allah di dalam Al-Qur’an. Dan kalau di Maiyah, tadi seperti kata beliau (Mbah Nun) katakan tentang produktivitas, maka kita akan ditinggikan derajatnya,” ucapnya.

Maiyah adalah majelis ilmu, tempat sinau bareng. Menurut Yai Muzammil, amal yang didapatkan saat seseorang berada di majelis ilmu itu lebih besar ketimbang takziah. Besarannya seribu kali lipat. “Kalau majelis di Maiyah semuanya tentang ilmu, sedangkan di takziah itu amal saja,” tambahnya.

Kalimat Kebaikan

Satu contoh konsep tadabbur yang diwedarkan Cak Nun malam itu menarik disimak. Ia mencoba memberi makna baru atas kalimat thayyibah yang di dalam Islam sudah sedemikian akrab.

Subhanallah itu urusannya syahwat. Syahwat itu keinginan. Semacam nafsu dalam hal apa pun,” jelasnya. Dari sini Cak Nun menambahkan soal lain, yakni alhamdulillah yang cenderung bernuansa kesejahteraan. Relatif berbeda dengan kalimat persaksian seperti Laa ilaaha illallah. Ia merupakan suatu peneguhan yang dalam istilah Cak Nun disebut sebagai patrap.

Bila patrap mengasosiasikan situasi sadar akan keberadaan Tuhan yang esa maka, “Kita punya potensi untuk mendapatkan berkah,” lanjutnya, “sehingga berikutnya baru takbir. Allahu Akbar itu analoginya seperti kepala.” Letak kepala berada di atas, bahkan menjadi sesuatu yang paling vital bagi manusia.

Kalimat thayyibah, dengan kata lain, adalah perumpamaan tentang kelengkapan dari metabolisme kehidupan manusia. “Itu mengapa iradah letaknya di hati. Bukan di otak manusia,” tegas Cak Nun.

Manusia adalah makhluk yang memenuhi prasyarat itu. Bahkan malaikat pun tak memiliki kelengkapan demikian sebagaimana dimiliki manusia. Sangat logis jika manusia diciptakan terakhir daripada makhluk-makhluk Tuhan lainnya. “Karena malaikat itu tidak memenuhi kamil. Setan juga begitu. Manusia itu ahsani taqwim,” katanya.

Begitu lengkap manusia, sedemikian hormatnya ia di hadapan Tuhan.

Penjelasan itu menarik seorang penanya. Tepatnya ia bukan bertanya, melainkan meminta dukungan moral dan doa. Nama orang itu adalah Imam Buchori. Asal Balangan, Kalimantan Selatan. Kini ia sedang Yogya, tinggal di pesantren Yai Muzammil. Pergi ke Jawa karena sedang dalam kemelut masalah.

“Semoga saya bisa menjalankan apa yang disampaikan Mbah Nun. Soal kalimat thayyibah itu,” ungkapnya. Cak Nun berpesan kepadanya agar selama menjalani proses lelaku ia terus menemukan dirinya yang sejati.

Cak Nun juga memberikan “ijazah” khusus kepadanya. “Dalam rangka mencari jati diri itu Anda misalnya subhanallah lebih banyak dari yang lain. Contohnya sembilan kali, lalu lainnya tiga kali. Baru kemudian subhanallah lagi sembilan kali. Tergantung ukuran yang Anda alami,” responsnya.

Lainnya

Nyenyuwun Vaksin Syafaat

Tiga Nilai Hidup dari Mbah Nun

Ada Atau Tak Ada Corona

Operasi Bypass dengan Maiyah

Hukum Timbal Balik

Buku dan Merchandise