Memperkaya Pemahaman Mengenai Khusyuk

Menurut sebagian ahli antropologi Islam kontemporer, apa yang mencuat saat ini di ruang-ruang publik berkaitan dengan ekspresi-ekspresi Islam adalah semua ekspresi itu mengandung satu hal di dalamnya: dorongan untuk menjadi muslim yang saleh. Karenanya, banyak muncul pertanyaan seputar bagaimana menjalankan Islam sehari-hari dengan baik. Dalam konteks yang lebih luas, ekspresi-ekspresi itu terlihat dari dorongan untuk menerapkan Islam di wilayah seperti ekonomi, bisnis, gaya hidup dan fesyen, filantropi, dll.

Adapun contoh spesifik dalam hal dorongan untuk saleh adalah pertanyaan tentang bagaimana shalat yang khusyuk. Empat tahun silam, dalam Sinau Bareng di Dusun Sempu Wonokerto Turi Sleman pada 16 Juni 2016, pertanyaan yang sama juga muncul ditanyakan kepada Mbah Nun. Penanya ingin mencari tahu bagaimana pandangan atau jawaban Mbah Nun tentang khusyuk ini.

Sebagai catatan kecil saja, model pertanyaan yang demikian adalah pertanyaan ala tips atau kiat-kiat. Tak ada yang salah dengan pertanyaan model ini. Hanya saja kadangkala pertanyaan dan jawaban ala kiat-kiat ini membawa sedikit ilusi pada kita seakan-akan setelah membaca tips atau kiat itu langsung dengan mudah kita dapat mencapai apa yang dikiatkan. Contoh, kiat menjadi pebisnis sukses.

Maka, sering dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bergaya tip ini, Mbah Nun coba mendekonstruksi secara radikal. Ambil contoh, suatu ketika ada orang bertanya bagaimana cara supaya tidak stres, dan jawaban Mbah Nun simpel, “Cara supaya tidak stres adalah ya jangan stress.” Lain waktu ditanya juga tentang bagaimana caranya mencapai taraf spiritual yang tinggi, dan jawab Mbah Nun, “Ya nggak pakai taraf-tarafan. Dikerjakan saja apa yang harus dikerjakan.”

Adapaun terhadap pertanyaan tentang bagaimana cara shalat khusyuk itu yang dilontarkan salah seorang jamaah dalam Sinau Bareng di Wonokerto Turi itu, Mbah Nun menjawab kurang lebih seperti ini, “Pertanyaan Anda itu sesungguhnya adalah pertanyaan setiap orang. Tidak ada orang khusyuk. Yang ada adalah orang berjuang untuk khusyuk. Lagi pula, bagaimana memahami khusyuk? Apakah khusyuk adalah ingat Allah sembari melupakan segala sesuatu yang lain ataukah khusyuk adalah Anda ingat banyak hal dan Anda bawa ke Allah? Jadi, tidak bisa disepakati. Sebab, keduanya bisa benar. Maka, khusyuk jangan dipandang sebagai kebenaran objektif, yang isinya satu hal yang fixed. Jangan dijadikan pedoman objektif. Lagi pula, khusyuk yang temenanan (sungguh-sungguh) itu ya nggak bisa dibayangkan.”

Jawaban Mbah Nun ini dapat kita kupas lebih jauh. Umpamanya pada pernyataan bahwa “Pertanyaan Anda itu sesungguhnya adalah pertanyaan setiap orang” artinya adalah pada diri setiap orang atau masing-masing diri kita terkandung pertanyaan apakah kita sudah khusyuk atau belum. Implikasi pertanyaan ke dalam diri ini adalah bahwa tidak setiap kita dapat menilai kekhusyukan orang lain, sebab kekhusyukan bukan barang material yang tampak mata. Kita semua sama-sama belum tahu hasilnya. Kekhusyukan adalah lorong perjalanan yang ditempuh dalam proses dan dalam waktu yang bersifat individual.

Namun yang mungkin perlu kita garis bawahi adalah bahwa jawaban atau kiat untuk dapat menjalankan shalat secara khusyuk tentu cukup banyak yang telah diuraikan dalam berbagai literatur, dan jawaban dari Mbah Nun adalah satu jawaban yang kiranya dapat memperkaya jawaban yang telah ada dari sudut pandang seorang Mbah Nun.

Dalam konteks perkembangan keislaman kontemporer seperti disinggung sedikit dalam awal tulisan ini, apa yang dilakukan Mbah Nun adalah turut menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kesalehan dalam beragama namun dengan pendekatan yang tidak tradisional konvensional tapi juga kritis terhadap kecenderungan keislaman kontemporer serta berupaya mencari jawaban yang logis, rasional, dan manusiawi mungkin.

Yang dimaksud manusiawi di sini adalah memahami menjalankan agama namun dalam kerangka senyatanya psikologi manusia. Ini dikarenakan kadangkala kita mengkonsepsi agama di luar kerangka dinamika psikologi manusia. Adalah lumrah jiwa manusia sulit lepas dari dunia dan sulit mengosongkan segala sesuatu dalam pikirannya, tetapi manusia tetap berusaha mengarahkan dirinya ke arah khusyuk. Mbah Nun coba bertanya, seandainya ingat apa-apapun dari dunia tapi dibawa ke Allah, misalnya dengan dibawa dalam naungan do’a kepada-Nya, tidakkah itu juga sebuah kemungkinan bagian dari kekhusyukan. Pertanyaan Mbah Nun ini berpijak pada kejujuran dan kesenyataan realistis jiwa manusia.

Begitulah si penanya, juga jamaah yang lain, diajak berpikir lebih luas dan lebih menghayati agar lebih kaya dalam memahami hal-hal yang dipikirkannya.

Yogyakarta, 24 Januari 2020

Buku Lockdown 309 Tahun