Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, 15 Agustus 2020

Mempelajari Prinsip Pembelajaran Kontekstual

Bangbang Wetan Agustus 2020 diselenggarakan dengan bekerjasama dengan SMK Prapanca 2, Surabaya. Acara dilangsungkan dengan jumlah jamaah terbatas dengan sistem undangan dan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

BBW kali ini mengangkat tema “Nggulawentah Kepradah” sebagai respons kami kepada fenomena seputar pendidikan yang santer dibicarakan masyarakat akhir-akhir ini. Setelah berlangsungnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama hampir 6 bulan sebagian besar orangtua mengalami masalah baru dari anaknya yang menjalani proses Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ).

Semenjak berlakunya PSBB tersebut murid tetap harus memberlangsungkan kegiatan belajar dan penugasan jarak jauh dari rumah masing-masing, proses belajarnya via daring. Yang menjadi masalah bukan pada murid yang melangsungkan proses belajar dari rumah melainkan dari proses belajar dari rumah tersebut, para orangtua atau wali murid harus mempersiapkan segala fasilitas penunjang proses belajar anak via daring.

Dari menyediakan paket internet, laptop, hingga penugasan yang diberikan kepada murid pada masa PJJ dirasa menyulitkan murid, karena murid belum sepenuhnya paham dari yang diajarkan sang guru. Mungkin karena keterbatasan gerak dan bahasa ungkap dari sang guru untuk menjelaskan pelajaran kepada murid. Dan jika didaftari mungkin masih banyak masalah lain yang menambah kendala atau kesulitan.

Berangkat dari rasa kepedulian kita untuk ikut mencari jalan keluar dan jawaban atas masalah tersebut, kita mencoba urun jawaban seputar dunia pendidikan dengan nggulawentah atau mengolah kembali proses belajar kita supaya berlangsung sebagaimana yang kita harapkan sehingga tidak menambah masalah hidup kita dan orangtua tak kepradah.

Kami mempersiapkan acara BBW dari siang hari. Sudah menjadi kebiasaan bagi penggiat untuk datang lebih awal, lebih giat mempersiapkan segala kebutuhan penunjang acara dengan semaksimal mungkin. Sebab, Mbah Nun sendiri pernah ngendikan bahwa melakukan segala sesuatu harus sepenuh hati, supaya yang kita hasilkan juga maksimal, sesuai yang kita harapkan.

Di antara kami ada yang membagi tugas untuk masang backdrop, mbeber kloso, merangkai rangka terop sampai jadi, berdiri. Juga menyiapkan keperluan-keperluan lain.

Acara diawali dengan nderes surah Yasin dan Al-Hasyr, kemudian dilanjutkan dengan mewiridkan wirid Maiyah dan bershalawat bersama, menyapa Kanjeng Nabi supaya syafaat dan hidayah beliau turut membersamai Sinau Bareng kami.

Setelah itu dilanjut dengan sesi diskusi dan mbabar tema. Sesi diskusi dan mbabar tema dimoderatori oleh Cak Aminullah dan Mas Yasin. Mereka berdua semacam baut dan mur yang sangat klop dan pas jika disatukan untuk membawa cuaca diskusi yang gayeng dan penuh kegembiraan. Turut hadir pada sesi awal diskusi tersebut orang yang kami rasa perlu untuk menyampaikan pengalamannya dalam mendidik anak. Kami mempersilahkan Cak Ahid beserta istri, salah satu orang yang dituakan di Bangbang Wetan, dan Cak Fauzi, tetua dari Damar Kedhaton Gresik.

Cerita pengalaman mendidik anak diawali dari Cak ahid beserta istri. Cak Ahid yang dikaruniai empat orang anak berbagi pengalaman perihal mendidik anaknya. Beliau menyampaikan bahwa di dalam keluarga dan dengan anak-anaknya, beliau selalu bermaiyah. Dulu ketika masih belum sekolah, anak-anaknya sering diajak maiyahan. Mbak Nita, istri Cak Ahid, menambahkan pengalaman mendidik anak. Mbak Nita menceritakan bahwa dulu ketika anaknya masih kecil dan sudah tiba usianya untuk masuk sekolah, anaknya tak mau sekolah. Salah satu alasan adalah karena sejak kecil anak-anaknya sudah difasilitasi oleh hal-hal yang edukatif. Seperti tersedianya fasilitas komputer, VCD edukatif dan APE (Alat Permainan Edukatif).

Sang anak terdidik untuk belajar membaca dan mengoperasikan komputer, sehingga ketika usianya sudah masuk usia sekolah, dirinya diminta masuk sekolah cenderung menolak karena sudah merasa bisa semua hal-hal mendasar perihal pendidikan. Tetapi Mbak Nita tak lantas menyerah untuk membiarkan anaknya tak sekolah, sebab Mbak Nita menilai bahwa sekolah merupakan tempat untuk bersosialisasi yang tepat untuk anaknya. Maka Mbak Nita menggunakan metode membujuk anaknya mau sekolah dengan rundingan kepada gurunya untuk lebih meningkatkan hal-hal yang diajarkan dan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak.

Cerita pengalaman mendidik anak turut dilengkapi Cak Fauzi. Pengalaman Cak Fauzi dalam mendidik anak berbanding terbalik dari Cak Ahid. Kalau Cak Ahid berusaha supaya anak mau bersekolah, Cak Fauzi malah memilih tidak mensekolahkan anaknya, mendidik sendiri anaknya di rumah. Sebab menurut Cak Fauzi anak dianugerahi rasa ingin tahu untuk mencari kesejatian hidupnya, peran Tuhannya. Nah menurut Cak Fauzi risiko terburuk sekolah adalah memadamkan rasa ingin tahu anak. Cak Fauzi tak mau rasa ingin tahu anaknya dipadamkan, supaya tak padam ide atau gagasan hidupnya yang selama ini menurut Cak Fauzi tak diajarkan di sekolah. Maka Cak Fauzi memilih tidak menyekolahkan anaknya.

Plus Minus Pembelajaran Jarak Jauh

Berjalannya diskusi terasa semakin gayeng dan menggembirakan karena Mas Sabrang, Pak Darmaji dari ITS, dan Pak Bogi, Wakasekhumas sekolah setempat, turut hadir di tengah kemesraan kita Sinau Bareng dan mendiskusikan dunia pendidikan.

Sebagai tuan rumah Pak Bogi dipersilahkan untuk berbagi cerita dan pengalamannya terlebih dahulu perihal mendidik muridnya. Beliau tak ingin berteori seputar pendidikan, sebab beliau sebagai pengajar tak menginginkan muridnya pintar melainkan menginginkan muridnya bisa bekerja, iso urip. Kepada murid-muridnya beliau tak pernah memvonis. Beliau melakukan pendekatan manusiawi kepada muridnya. Sebab menurut beliau melalui pendekatan manusiawilah yang akan membuat Pak Bogi dekat dan di-gugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Saking asyiknya Pak Bogi merasakan suasana kebersamaan kita semalam, Pak Bogi sampai membagikan tentang prinsip hidup yang beliau pegang selama ini. Bahwa sejak muda beliau tidak ingin loyalitas terhadap salah satu partai sebab tak sesuai dengan hati nuraninya. Beliau lebih memilih loyalitas terhadap dunia pendidikan.

Pemaparan dilanjutkan oleh Pak Darmaji. Beliau mencoba merespons apa yang dikeluhkan para orang tua tentang PJJ. Menurut Pak Darmaji, PJJ merupakan bentuk dari tidak ada rotan akar pun jadi dalam mensikapi dunia pendidikan pada suasana yang belum normal, meskipun banyak kurangnya.

Yang terpenting menurut Pak Darmaji mau Pembelajaran Jarak Jauh atau Pembelajaran Jarak Dekat, ada tiga perkara yang harus disampaikan dalam prsoses pendidikan. Yang pertama peningkatan skill (keterampilan), knowledge (pengetahuan), dan attitude (karakter).

Untuk tidak turut menambah kekecewaan para orang tua dalam memfasilitasi anaknya menjalani PJJ, Pak Darmaji menyampaikan bahwa ada hikmah yang bisa kita diambil dari Pendidikan Jarak Jauh. Di antaranya bahwa dalam proses pendidikan sebenarnya ada tanggung jawab orangtua dalam mendidik anak. Dengan pembelajaran daring ini kita bisa mengambil hikmahnya adalah bahwa tidak mudah menjadi guru untuk mendidik anak, serta tak mudah menjadi orangtua untuk mendidik anak.

Apa yang Bisa Dibebankan Kepada Sekolah dan Apa yang Tidak

Sesi diskusi semakin gayeng ketika sampai pada giliran Mas Sabrang—yang menurut Mas Yasin merupakan role model pendidikan kita di Maiyah. Mas Sabrang mengajak kita membedah lebih dalam pengetahuan kita mengenai pendidikan, sebab menurut beliau kita selama ini salah mengartikan pendidikan sehingga banyak membebankan soal-soal yang sebenarnya bukan tanggung jawab sekolah.

Menurut Mas Sabrang kalau ngomong pendidikan harus tahu tujuannya apa. Seperti tujuan orang tua supaya anaknya baik. Kalau sekolah atau sistem pendidikan lebih mendidik anak untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif. Jadi kalau yang tidak cukup didapatkan di sekolah, maka jangan bebankan ke sekolah. Software pendidikan ada pada peran orangtuanya, seperti mendidik anak untuk menjadi baik, jujur, patuh kepada orang tua. Nah, sekolah wilayah garapnya ada pada hardware-nya, menjadikan anak lebih produktif di masyarakat.

Mas Sabrang menekankan kepada kita semua yang hadir untuk membangun laku belajar. Laku belajar membentuk kesadaran kita untuk belajar setiap saat. Karena di dalam diri pelaku belajar sudah menemukan kenikmatan mencari ilmu. Misalnya dalam diri manusia itu ada pendidikan objektif dan subjektif.

Pendidikan objektif adalah seputar matematika, IPA. Sedangkan pendidikan subjektif adalah belajar segala sesuatu dengan menemukan kontekstualnya, contextual learning. Sehingga data menjadi pengetahuan ketika menemukan konteksnya, dan menjadi ilmu ketika pengetahuan itu kita terapkan atau menjadi laku dalam hidup.

Salah satu cara untuk membangun laku belajar dalam konteks orangtua kepada anaknya adalah membangun anak dengan hipotesis untuk menemukan sendiri jawaban yang lain dari yang sudah diketahuinya. Membiasakan anaknya untuk mandiri menemukan jawaban lain dari setiap pertanyaan yang menyertainya. Sebab kalau anak tak terdorong menemukan jawaban yang lain, maka anak tidak dapat menemukan inovasi.

Mas Sabrang usul simpel satu hal kepada sekolah maupun orangtua dalam pendidikan menemukan konteks tersebut. Menurut Mas Sabrang selama ini anak dari SD sampai SMA diajarkan mencatat, tapi tidak diajarkan metodologi mencatat yang efektif. Metodologi mencatat yang efektif adalah mencatat dengan menemukan kontekstualitasnya dari yang sudah diketahui. Efeknya me-recall apa yang disampaikan guru, dan sekaligus mengaitkan dengan kontekstualitasnya sehingga berguna bagi kehidupan sang anak. Maka menjadi PR kita bersama untuk menggulawentah perlahan sistem pendidikan supaya lebih efektif bagi tumbuh kembang anak.

Dari sekian hal yang disampaikan Mas Sabrang perihal pendidikan, Mas Sabrang juga menyampaikan bahwa ada hikmah di balik Pembelajaran Jarak Jauh yang berlangsung saat ini. Misalnya, pada model pembelajaran tematik. Model pembelajaran tematik menurut beliau  merupakan suatu lompatan yang baik, sebab anak dilatih untuk menemukan konteksnya dari data yang dipelajari.

Pembahasan meluas sampai pada dua pilihan paradigma yang perlu dibangun kepada anak. Paradigma korban atau paradigma agen. Paradigma korban menjadikan anak ketika melihat masalah, dirinya merasa menjadi korban dari masalah tersebut. Sedangkan paradigma agen menjadikan dia ketika melihat masalah yang sama memilih lapangan peran apa yang mampu dilakukan. Di situlah, dia menjadikan masalah bukan sebagai beban melainkan sebagai tantangan.

Mengacu pada paparan Mas Sabrang mengenai dua paradigma utama korban atau agen tersebut, sepertinya kebanyakan kita ada pada paradigma yang pertama. Kita lebih banyak melihat masalah yang sedang kita hadapi dengan paradigma korban. Dalam kesadaran kita merasa bahwa kita hanya korban dari kerancuan sistem, ketidakefektifan PJJ. Padahal kalau kita mau merenungi paparan Mas Sabrang tentang dua paradigma itu, kita dapat lebih bijak menghadapi perihal PJJ itu ketika kita membangun paradigma agen. Kita akan menjadikan PJJ sebagai suatu tantangan yang harus kita hadapi dan temukan jawaban bersama seperti dari yang sudah kita diskusikan bersama tadi malam.

Di penghujung acara, Cak Amin mengungkapkan rasa syukur bahwa paparan para narsumber menambah khasanah dan sangu untuk menghadapi masalah sebagai tantangan dan belajar segala sesuatu dengan menemukan kontekstualitasnya dengan diri kita.

Malam itu BBW ditutup dengan bershalawat dan bermunajat melalui Ma Lana Maulan Siwallah, dan doa dipimpin oleh Cak Lutfi.

Surabaya, 16 Agustus 2020

Buku dan Merchandise