Mempelajari Kembali Arti Cita-cita

Jamak terjadi jika anak-anak ditanya tentang cita-citanya, mereka rata-rata menjawab dengan mengungkapkan ingin menjadi guru, dokter, artis, pilot, hingga astronot. Sangat sedikit bahkan tidak ada yang berani menjawab semisal menjadi petani, sopir, satpam, dan penjual angkringan. Kenapa

Kalau yang disebut di atas dianggap cita-cita, secara tak sadar kita sudah tidak adil sejak dalam pikiran. Ada semacam pengkastaan cita-cita. Menjadi polisi, guru, pilot, dokter, artis adalah jenis cita-cita tingkat tinggi. Level atas. Sedangkan menjadi petani, sopir, satpam, atau penjual angkringan merupakan cita-cita tidak tinggi. Kelas bawah. Dan kita semua sepakat tak ada satu pun orangtua yang menginginkan apalagi mengajarkan anak-anaknya bercita-cita seperti itu.

***

Perihal cita-cita, awalnya saya biasa-biasa saja. Sama sekali tidak memikirkannya. Bahkan porah! (Nggak peduli). Namun semenjak punya anak sekaligus mengajar anak-anak di Sekolah, kekhawatiran itu muncul.

Pertanyaan seputar cita-cita terhadap anak tak ubahnya sebuah jebakan. Bukankah polisi, dokter, guru, sopir, pedagang, petani, itu semua lebih tepat kita sebut sebagai profesi? Sebuah pekerjaan. Mata pencaharian.

Sengaja atau tidak, pertanyaan sekaligus persetujuan kita terhadap jawaban anak-anak perihal profesi (polisi, dokter, pilot, dll.) yang dianggapnya sebagai cita-cita, secara tak langsung telah menjebak mereka ke dalam kubangan berpikir yang sempit dan dangkal.

***

Profesi tidak sama dengan cita-cita. Profesi hanyalah salah satu jalan kebaktian (thariqat). Sarana pencapaian pribadi. Karier individu. Sedangkan cita-cita ialah output kemaslahatan yang bersifat luas dan komunal.

Masuk sorga itu pasti bagi Muhammad, tetapi ia mengisi malam-malamnya dengan tangis. Masuk sorga adalah pencapaian pribadi, dan Baginda Muhammad tidak bergembira-ria merayakan itu. Sebab hinalah bagi kepribadian beliau untuk bangga dan gembira oleh pencapaian pribadi.” — (DAUR 1 – 56, Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai).

Muhammad bin Abdullah dipilih Allah Swt sebagai Nabi dan Rasul. Ia menjalani profesi kenabian selama kurang lebih 23 tahun. (Rentang usia 40 hingga 63 tahun). Selama itulah Baginda Nabi menyebarkan dan membumikan Islam. Agama sempurna yang telah disempurnakan-Nya untuk diimani seluruh umat manusia.

Bersebab telah dipilih sebagai manusia pilihan, nasib dan takdir Rasulullah ditanggung sepenuhnya oleh Allah. Garansi sorga sudah di genggamannya (Muhammad). Namun apakah jaminan sorga dari Allah membuat Muhammad bermalas-malasan? Atau berpangku tangan? Tidak! Malam-malamnya Rasulullah justru diisi dengan tangis.

Ia tidak memikirkan nasibnya sendiri. Nabi ogah masuk sorga sendirian. Buat apa segala kebutuhan dan kenikmatan terpenuhi tetapi sendiri. Itu sama sekali bukan prestasi. Bareng-bareng dan berjamaah itu lebih nikmat. Sehingga Rasul ingin sangat ummatnya berbondong-bondong, bermakmum di belakang beliau masuk ke Jannah-Nya Allah Swt. Saking inginnya, saat ajal menjelang, bibir kelu beliau berseru: ummati, ummati.

Yang disebut cita-cita oleh Baginda Muhammad adalah keadilan akhlak ummat manusia di Bumi, perkebunan luas rahmatan lil’alamin, yang buahnya adalah kemakmuran rohani dan bonus kemakmuran jasmani.” — (DAUR 1 – 56, Tak Ada Cita-Cita Yang Tercapai).

Gelar Nabi yang disandang Muhammad hanyalah predikat. Jabatan. Tak lebih dari sekadar ‘profesi’. Profesi mulia yang diembannya atas titah Sang Pencipta. Lantas apa sebenarnya cita-cita Muhammad? Adalah menjadi rahmatan lil’alamin. (Al-Anbiya’ 107). Menyayangi sesama, merahmati semesta. Menyelamatkan nasib ummat di hadapan Tuhan kelak. Itulah cita-cita yang diidam-idamkan junjungan kita Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian dapat disimpulkan (versi saya sendiri) bahwa Nabi itu sebuah ‘profesi’ (Amanah dan tanggung jawab). Sama halnya dengan guru, pilot, dokter, polisi, buruh, petani, presiden, menteri, kuli bangunan, dll. Sedangkan rahmatan lil’alamin (menjadi rahmat lagi manfaat) sangat pantas dan tepat untuk disebut sekaligus dijadikan cita-cita bagi siapa saja. Apapun profesinya.

Maka tak heran jikalau segala titel, label, atau stempel (kiai, penyair, budayawan, esais, sastrawan, dll) yang disematkan kepada Mbah Nun ditolak habis-habisan. Sebab itu semua bukan prestasi. Hanya profesi. Tempelan, dan tak berumur lama. Satu-satunya gelar yang cocok dan disetujui oleh beliau adalah Mbah. Dan Mbah Nun gembira dengan sebutan itu.

***

Tak ayal, anggapan profesi yang diyakini sebagai sebuah cita-cita memang telah mendarah daging di benak masyarakat kita. Sudah ngoyot. Dan turun temurun. Apakah itu salah? Mungkin tidak. Apakah benar? Bisa jadi. Dan ini sama sekali bukan urusan benar atau salah. Melainkan semangat mengajak untuk melihat segala sesuatu lebih jernih, lebih luas, tak terpaku pada satu sudut pandang.

Caranya sederhana. Syaratnya ajeg, sregep, dan terus-menerus. Katakan kepada mereka (anak, cucu, santri, siswa, dan siapa saja), “Nak, kalian mau jadi apa saja silakan. Menekuni profesi apapun tak jadi soal. Asal profesi atau pekerjaan yang kalian geluti bisa menjadi jalan untuk menebar kemaslahatan sebanyak-banyaknya. Sehingga keberadaanmu dinanti, diharapkan, dan disyukuri banyak orang. Itulah cita-cita yang sesungguhnya.”

Tiba-tiba dari balik pintu Mbah Sot berseru.

“Jangan lupa tanggal 17 Maiyahan.”

“Kenapa Mbah?”

“Disana kita diajak belajar menemukan, dan memperjuangkan cita-cita.”

“Cita-cita apa Mbah?”

“Cita-cita mulia. Senada yang diemban Sang Kekasih tercinta.”

Shallu ‘alan Nabiy Muhammad.

Gemolong, 15 Januari 2020

Buku Cak Nun Majalah Sabana