Membangun Imun Lewat Jalan Iman

Foto: Adin (Dok. Progress 2014)

Bencana besar yang dapat merenghut korban jiwa yang masif dalam perjalanan sejarah umat manusia, bukan hanya karena gempa bumi, gunung meletus, tsunami, cuaca ekstrem, meteor jatuh atau perang dunia, tapi juga “wabah virus atau bakteri”.

Setidaknya dalam periode per satu abad, pandemi besar menimpa umat manusia. Pertanyaan berkait pandemi bukanlah “apakah wabah itu akan terjadi?”, tapi, “kapan terjadi?”, dan tentu pertanyaan yang lebih penting lagi, “seberapa besar kesiapan umat manusia mengantisipasinya”?

Umumnya sebagian besar penduduk bumi tidak pernah benar-benar siap ketika menghadapi pandemi. Semua terkaget pada sesuatu yang begitu halus seperti siluman, tiba-tiba saja menyerang secara masif, dan menyebar dengan amat cepatnya. Serangan yang menimbulkan malapetaka penyakit dan teror ketakutan.

Kehadiran Novel Corona Virus atau SARS Cov-2 yang menimbulkan penyakit Covid-19 menjadi perbincangan paling populer di tahun 2020 ini. Tidak ada berita di media cetak, elektronik hingga akun-akun media sosial setiap orang yang tidak mempergunjingkannya. Laporan-laporan sensus angka positif kesakitan baru, angka sembuh, hingga angka kematian, setiap hari di-update oleh pemerintah pusat dan daerah.

Terkhusus bagi “Jamaah Maiyah”, Mbah Nun sendiri setiap hari menuliskan refleksinya dengan sudut pandang yang komprehensif berkaitan dengan wabah Corona ini. Mbah Nun sempat menegaskan “semua tulisan tentang segala sesuatu yang terkait Coronavirus, memakai pola pandangan dan pemetaan yang mengungkapkan keterkaitan antara virus dengan kesehatan jasad, struktur kejiwaan, kekuasaan Tuhan, metode taqwa dan tawakkal, iman, doa, wirid, dzikir, hizib dan seluruh famili konteksnya menurut pola pandang yang saya pakai”.

Tulisan-tulisan tersebut oleh penerbit Bentang kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul “Lockdown 309 tahun”. Pendek kata, SARS Cov-2 adalah sosok paling selebritis di tahun 2020 melebihi apapun dan siapapun. Bahkan secara revolusioner, SARS Cov-2 berhasil mengubah tatanan-tatanan pola kehidupan masyarakat modern, betapa terdengar ironis bahwa mahkluk paling kecil ini mampu “menghentikan” putaran mesin dunia.

Perang asimetrik atau “berdamai” dengan Corona?

Berbeda dengan “perang menghadapi bakteri”, ilmu kedokteran sejak lama menginformasikan bahwa tidak ada obat definitif untuk “membunuh” virus. Tata laksana pengobatan medis untuk penyakit infeksi segala jenis virus, sebatas terapi yang sifatnya suportif (bantuan: pernapasan, kebutuhan cairan, pemenuhan gizi & kalori, penanganan infeksi sekunder bila ada).

Virus adalah penghuni paling senior di planet bumi yang berada di luar taksonomi kemakhlukan yang lazim. Walau memiliki DNA atau RNA, oleh sebagian ahli, status “kemakhlukannya” masih diperdebatkan, apakah ia entitas hidup atau mati? Sebut saja, ia adalah makhluk transisi antara organisme dan an-organisma, berada di luar klasifikasi dari kelompok flora atau fauna, dan terbebas dalam rumusan gender. Ukurannya yang teramat kecil (diilustrasikan 1 mm dibagi sejuta), membuatnya hingga kini mustahil “dibidik oleh peluru farmakologis” buatan manusia.

Virus adalah zombie kimia yang satu-satunya misi utamanya hanya membajak material genetik di dalam sel pada suatu makhluk, agar ia dapat memperbanyak dirinya. Virus hanya bertahan hidup dalam diri makhluk hidup sebagai tuan rumahnya (host). Maka sebenarnya virus “berkepentingan agar hostnya tetap hidup”.

Jenis virus seperti Ebola atau SARS yang menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, tidak akan pernah dapat berkembang menjadi pandemik, karena korban yang terinfeksi otomatis berdiam di rumah (ter-lockdown) karena sakitnya yang parah, atau sebagian mungkin tidak selamat. Agar suatu virus dapat menyebar menjadi pandemik ke seluruh dunia dalam hitungan yang singkat, ia harus memiliki “keseimbangan antara tingkat penularan dan efek mematikan”.

Novel Corona yang digolongkan sebagai virus dengan penyebab prosentase kematian rendah pada korbannya, memenuhi keseimbangan syarat itu. Namun justru karena prosentase mortalitasnya yang rendah, yang menjadi dikhawatirkan oleh para ahli, karena dalam rentang masa yang memanjang Novel Corona virus pada akhirnya menghasilkan akumulasi jumlah korban yang bisa jadi jauh lebih banyak daripada jenis-jenis virus-virus ganas mematikan lainnya.

Di Indonesia kasus resmi pertama mulai dilaporkan pada 2 Maret 2020. Lebih dari 3 bulan sudah kita “berjuang” dengan berbagai strategi pendekatan. Suatu perjuangan yang tidak mudah, yang telah menimbulkan banyak korban jiwa bagi komunitas yang rentan bahkan hingga kalangan medis, dan berdampak sangat besar terhadap kondisi sosial perekonomian. Hingga hari ini, grafik kasus harian belum memperlihatkan tanda-tanda menuju ke arah landai. Malah belakangan terdengar seruan dari pemerintah untuk “berdamai” dengan Corona? Bagaimana kita memahami seruan tersebut?

Bila istilah “damai” kita posisikan pada term peperangan, maka berdamai tentu memerlukan keterlibatan aktif dari kedua pihak yang berseteru. Mustahil berdamai dengan cara “bertepuk sebelah tangan”. Corona virus sudah tentu adalah entitas yang “tidak punya kehendak” alias bukan wujud yang (berkesadaran) sengaja hadir untuk memerangi manusia, tapi kehadirannya menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia.

Kita tentu tidak bisa membayangkan perlawanan model apa yang akan kita lakukan, jika benar seperti yang dikatakan WHO bahwa Novel Corona Virus ini akan tetap menyertai hidup manusia hingga akhir zaman! Apakah damai yang dimaksud adalah ungkapan sopan untuk menyebut makna aslinya sebagai “menyerah kalah”? Apakah memang saatnya kini kita berdamai (baca: mengibarkan bendera putih) pada Corona? Suatu saat mungkin kita memang akan hidup berdampingan dengan Novel Corona Virus, sebagaimana kini kita hidup berdampingan dengan HIV, Dengue, Hepatitis, dan virus-virus Influenza lainnya yang masih menjadi kerabatnya Corona. Kita bisa berdamai pada Corona sebagai entitas virus, tapi bagaimana cara kita berdamai dengan Corona sebagai pandemi?

Pada dasarnya mayoritas mikro-organisma ditakdirkan hidup secara komensal atau berdampingan dengan manusia. Seorang mikrobiologis lazimnya mengatakan “we never win the battle with microorganism”. Mikroorganisma seperti virus atau bakteri, meskipun wujudnya tidak kasat mata, tapi mereka ada di mana-mana, eksistensinya pada hakikatnya mendunia, “mencengkeram” planet bumi ini. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, umat manusia kini menghadapi “musuh” yang tidak terlihat, tersamar, dan bisa ada di mana-mana serta tanpa memiliki persenjataan buatan apapun untuk melawannya. Tidak ada pemetaan musuh yang bisa dipastikan dalam berperang padanya. Oleh karena itu strategi yang kemudian dilancarkan selama ini adalah “menghindar dan sembunyi” (lewat seruan-seruan seperti: social distancing, physical distancing, stay at home, PSBB dsb).

Bila berkaca pada sejarah wabah di masa-masa lalu, strategi-strategi tersebut, bila dilakukan tepat pada momentumnya dan bersabar dalam menjalani prosesnya, maka strategi isolasi dan karantina sesungguhnya dapat efektif menekan pandemik secara signifikan. Namun, efek kolateral bencana akibat Corona berdampak nyaris ke seluruh dimensi kehidupan; resesi ekonomi, pasar lesu, saham anjlok, harga minyak jatuh, PHK massal dan kebangkrutan menghantui banyak sektor industri, mungkin di antara hal yang dijadikannya alasan pelonggaran atas strategi “menghindar dan sembunyi” (PSBB) ini.

Apabila pada suatu saat atas alasan-alasan itu semua PSBB sudah tidak mungkin lagi dijalankan, maka benteng pertahanan dan perlawanan utama yang dimiliki hanya tinggal sistem imunitas yang dimiliki setiap individu. Penyembuhan yang terjadi pada penyakit virus selama ini dikenal dengan istilah “self limiting disease”, yang lagi-lagi diperankan oleh Antibodi tubuh. Istilah itu secara verbatim, mungkin bermasalah jika dilihat dari perspektif tauhid. Pada hakikatnya, umat manusia selama ini dapat selamat dan bertahan dari kepunahan menghadapi pandemi, karena “karunia Ilahi” berupa sistem imunitas yang begitu canggih yang ada di dalam tubuhnya.

Tuhanlah wujud yang bertanggung jawab menghadirkan pasukan-pasukan perlawanan untuk menghadapi segala ancaman dan bahaya dari invasi mikroorganisma. Kalimat “penyakit dapat sembuh sendiri secara spontan!” terdengar aneh di telinga kaum beriman. Tapi di zaman di mana paradigma ilmu harus serba terukur, terindera dan dapat dibuktikan, maka ungkapan kehadiran dan campur tangan Tuhan dipandang sebagai bukan sesuatu yang saintifik ilmiah.

Bila disepakati bahwa imunitas tubuh adalah “KATA KUNCI” satu-satunya dalam menghadapi serangan infeksi virus, maka tidakkah segala wacana tentang apa atau bagaimana upaya-upaya untuk menghadirkan atau memperkuat sistem imunitas dalam diri kita seharusya lebih banyak dieksplorasi? Menghadapi persoalan global yang menyangkut seluruh umat manusia ini, tidakkah seyogyanya segala jenis diskursus yang berniat baik hingga penelitian yang sahih, diizinkan dan dibuka selebar-lebarnya? Apalagi toh hingga kini juga belum ada solusi yang sifatnya final dan tuntas. Jalan-jalan atau metode-metode apa saja yang dapat kita lakukan?

Secara umum, ada dua metode untuk menghadirkan dan memperkuat sistem imunitas kita; secara eksternal dengan vaksinasi dan secara internal dengan memperbarui pola-pola kehidupan. Vaksinasi adalah upaya secara sengaja memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh kita, agar tubuh teraktivasi untuk membentuk imunitas baru dan spesifik untuk menghadapi kuman yang sesungguhnya. Namun, berkait dengan novel Corona virus, WHO memprediksi keberadaan vaksin paling cepat baru tersedia pada 2021. Maka perhatian utama kita, mestinya dicurahkan pada upaya-upaya memperkuat sistem imunitas tubuh secara internal.

Dalam artikel tulisan kali ini, izinkan saya mentadabburi pola-pola kehidupan yang dimungkinkan memperkuat imunitas yang digali dari jalan-jalan keimanan.

Lockdown 309 Tahun