Mèlsos, Ngapsos Waswas Yuwaswisu Yo Wis

Corona, 34

Ayat-ayat Allah yang sudah sejak kecil kita hapal, sekarang kita alami. Benar-benar kita alami, dengan kadar yang tinggi, bobot yang berat dan kadar misteri yang tidak main-main.

Misalnya “Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja Penguasanya manusia, Maha Perkasa sesembahannya manusia. Dari kejahatan (tak terdengar, tak kelihatan) yang tersembunyi. Yang mengipas-ngipas dan membuat cemas dan waswas hati manusia. Yang sumbernya adalah Jin dan manusia”.

Media massa offline maupun online, medsos, aplikasi-aplikasi komunikasi, menjadi super-blower yang menghembuskan angin keras, berbau macam-macam, mendesak-desak wajah kita dan memasuki hidung dan telinga kita, sampai mengendap ke kerak jiwa kita jauh di kedalaman dada. Semua kandungan ada. Racun dan dusta ya banyak. Pelajaran dan hikmah juga tidak sedikit. Informasi dan tuntunan juga terus-menerus. Teror-teror ke hati dan pikiran juga tak habis-habisnya.

Sebelum Covid-19 datang dikirim ke ummat manusia di Bumi, Bill Gates, orang terkaya di dunia, bosnya Microsoft Windows yang mengubah peradaban pada dekade mutakhir ini, tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba bikin pernyataan bahwa akan segera tiba wabah virus mematikan yang merupakan ancaman ketiga terbesar di dunia. Dua ancaman lainnya yakni perubahan iklim dan perang nuklir. “Dunia harus mempersiapkan diri dari ancaman. Bukan saja perubahan iklim dan senjata nuklir, tapi merebaknya wabah virus mematikan yang bisa memicu perang,” katanya. Bahkan ia yuwaswisu fi shudurinnas dengan menyebutkan bahwa virus itu akan memakan korban kematian sekitar 30 juta orang, sedikit di bawah wabah Flu Spanyol pada tahun 1918-an yang meminta korban 50 juta orang.

Virus itu berasal dari binatang dan bermutasi, lalu menyerang manusia. Masa inkubasi virus tersebut antara 1 hingga 14 hari. Kemungkinan jumlah kasusnya akan terus meningkat. Studi terkini menduga virus tersebut berasal dari ular, belalang, kelelawar dan satu-dua binatang lainnya yang Tuhan ciptakan kayaknya tidak untuk dimakan oleh manusia.

Jamaah Maiyah mengalami beberapa bulan terakhir semacam riyadlah atau workshop kolektif massal yang menterminologikan “Rabbunnas”, “Malikinnas” dan “Ilahinnas”. Pembelajaran Maiyah itu tidak untuk urusan virus dan memang tidak dilatarbelakangi oleh kesadaran dan pengetahuan tentang virus apapun. Justru terminologi dari Surah An-Nas itu sendiri merupakan virus positif yang mudah-mudahan preventif menjadi vaksin “sedia payung sebelum hujan”.

Minal jinnati wannas”, virus itu berasal dari Jin dan manusia. Yang manusia saja tidak mampu meneliti dan mengidentifikasinya. Apalagi kalau sumbernya adalah juga kaum Jin. Di tengah paranoidnya semua manusia sedunia oleh Coronavirus, Dr. Rashid Buttar dan seorang pengamat Intelijen menyebar analisis dengan disertai bahan-bahan yang mereka maksudkan sebagai bukti-bukti. Intinya, Coronavirus ini bukan peristiwa alamiah, melainkan ditemukan sebagai bentuk “bio-war”. Perang biologis yang berefek ke seluruh dunia. Dengan dua penjahat yang merupakan dua suami poliandri-nya Indonesia: yaitu Amerika Serikat dan China, yang masing-masing bersaing untuk mencapai hegemoni internasional.

Semua kesengsaraan yang kini dialami oleh seluruh penduduk bumi ini adalah produk dari suatu agenda, meskipun multi-efeknya tidak persis seperti yang diperhitungkan semula. Ada poros New Jersey dengan Wuhan. Itu dimulai sejak 2015 di mana dua Pemerintahan itu membiayai sejumlah ilmuwan untuk mengembangkan Covid-19 yang aslinya tidak berbahaya. Dua “suami” itu saling tuduh. Partai Komunis China menyebarkan video yang menghubungkan Wuhan Coronavirus ke AS. Ilmuwan China mengungkap rahasia, empat protein yang diidentifikasi dalam virus diubah untuk serangan presisi — khususnya terhadap gen yang ditemukan pada orang China.

Pengamat intelijen Marsda (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan panjang lebar menggambarkan bahwa virus ini hanyalah output dari dialektika, kompetisi atau persaingan antara dua adikuasa dunia. Presiden Trump menekankan bahwa ini adalah “virus China”. Secara logika dalam persepsi intelijen, justru AS yang sangat takut dengan ancaman Covid-19, karena tahu ini jenis flu baru yang ganas, menular dan belum ada vaksinnya. Penulis perkirakan dari beberapa informasi, ini virus rekayasa yang dibuat ahli China sebagai persiapan senjata biologi. Bahkan dihipotesiskan bahwa nampaknya memang ada semacam subversi pembocoran sengaja virus ganas ini di akhir tahun 2019, dengan memanfaatkan karakteristik lima juta penduduk Wuhan yang selalu berlibur saat akhir tahun menjadi carrier. Akibatnya China mengisolasi 18 wilayah dan 56 juta penduduknya terkunci. Salah satu kompetitor keadikuasaan relatif sudah meraih hasil sebagaimana penyebaran Covid sudah dikalkulasi: China potensial akan diisolasi dan dikucilkan. Efek berantai meruntuhkan citra China dan dampak kerusakan ekonomi China yang menjadi kekuatan menuju impian hegemoni dunia otomatis tergerus. Meskipun Amerika Serikat sendiri juga bubrah keadaannya.

Kalau mau optimis, Marsda Prayitno mengatakan, “Mengingat masalah Covid adalah juga bagian konflik AS dengan China, maka dengan terjadinya kesepakatan kedua pemimpin negara ini, kita berharap akan ditemukan jalan keluarnya. Masing-masing memiliki rahasia, kelebihan dan kekurangan, yang apabila digabungkan, nampaknya masalah Covid akan dapat selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama”.

Kita kembali ke dalam gua: Allah memperingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasiq membawa informasi, maka lakukanlah tabayun, agar engkau tidak mencelakakan suatu kaum dengan kesembronoanmu, yang kamu nantinya akan menyesal”.

Jadi urutannya, sebelum tabayun atau rekonfirmasi dan reanalisis, kita perlu mendapat kejelasan dulu bahwa yang membawa informasi atau analisis itu adalah orang Fasiq. Ada metode yang sebaliknya: kita check and rechek dulu atas informasi itu, supaya kita tahu yang membawa berita ke kita itu Fasiq atau tidak. Hal-hal begini sangat jauh dari jangkauan kita. Dengan Peradaban “Mèlsos” (mèlet sosial) dan “Ngapsos” (mangap sosial) yang tiap saat tergenggam di tangan hampir setiap orang — tidak mungkin cukup memadai melakukan check and recheck, rekonfirmasi, tabayun, apalagi memperdebatkan Fasiq itu bedanya apa dengan Kadzdzab (pembohong), Kho`in (pengkhianat), di sisi Kafir, Musyrik, Munafik, yang kita semua masih sama-sama awam dan malas belajar.

Ada berita lain dari Kalibata bahwa Coronavirus ini nanti akan minta “sajèn” paling tidak 10 juta nyawa di Indonesia. Bahkan siap-siaplah badanmu pegal-pegal sampai mungkin November menjelang akhir tahun, meskipun ada yang lain mengatakan bahwa parno ini akan berakhir di sekitar hari saya memasuki usia 68 tahun. Tapi yo wis lah. “La Rabba illallah, la Malika illallah, la Ilaha illallah”.

Jamaah Maiyah khusyu’ dan cerdas menikmati Gua Kahfinya masing-masing saja. “Asyghilid dhalimin bidh-dhalimin”. “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung di dalam Gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu, dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”. *****

Buku dan Merchandise