MBELERTURBANDEL.CO.ID

Corona, 67

Saya sangat bergembira menyaksikan, dan sekilas terlibat, dalam sejumlah Maiyahan online yang diprakarsai “Kenduri Cinta” maupun “Mocopat Syafaat” dan “Bangbang Wetan.” Kegembiraan saya itu lahir karena rahmat Allah kepada Jamaah Maiyah yang di pusat laboratorium ijtihadnya memiliki Ulul Albab, Ulul Abshar dan Ulun Nuha yang memadai. Kita punya Syeikh Nursamad Kamba, punya Sabrang MDP, punya Kiai Tohar, punya Mas Ian L. Betts, punya teman-teman “As-Shiddiqin” di Amerika Serikat maupun di Mafaza Eropa. Belum lagi di setiap “sarang” Maiyah terdapat dedengkot-dedengkot Sinau Bareng yang penuh kesungguhan iman dan ilmu, serta punya ketangguhan, disiplin dan kerajinan.

Kegembiraan yang lebih utama adalah karena semua narasumber itu jauh lebih mengetahui apa yang tidak saya ketahui, memikirkan hal-hal yang saya kurang memperhatikan, serta daya tembus ke depan yang kebanyakan luput dari pandangan saya.

Sampai hari ini dengan 60 tulisan lebih, yang mampu saya lakukan hanyalah semacam pembekal pribadi. Bahan-bahan untuk sikap batin personal. Mesin berpikir pribadi untuk menemukan tetes dari penyerapan keadaan dunia oleh Covid-19. Saya terpojok oleh keterbatasan wawasan dan kesempitan ilmu saya, sehingga ambil posisi seolah-olah saya seorang Kiai, yang rujukan utamanya adalah firman-firman Allah.

Sungguh saya sangat awam terhadap kehidupan dunia dengan berbagai komplikasi dan kecanggihannya. Progress dan panitia caknun.com serta Jamaah Maiyah sebaiknya berinisiatif untuk menggali lebih dalam dan luas wawasan-wawasan dari Sabrang, Syeikh Kamba, Mas Ian, Kiai Tohar, teman-teman Mafaza dan semuanya. Menyerap dari beliau-beliau itu segala hal yang tidak mungkin didapatkan dari saya.

Kita tahu beribu-ribu ilmuwan Muslim sepanjang sejarah. Kita hapal nama beribu-ribu cendekiawan, intelektual dan kaum terpelajar Muslimin di negeri kita dan dunia. Sementara Rasulullah secara sangat misterius dikenal sebagai “An-Nabi al-Ummiyyi”. Awam dan buta huruf. Tidak ada maksud atau kesengajaan untuk menyelamatkan citra diri saya sendiri, tetapi di tengah kaum “Man of All Seasons” Maiyah ini saya dipaksa menemukan diri sebagai justru yang paling awam dan buta huruf. Puncak pengetahuan saya sebatas “Antum a’lamu bi`umuri dunyakum”. Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian. Hampir tiap hari saya ditabrak berbagai pertanyaan yang kemampuan jawaban saya hanya satu: “Tanyakan hal itu kepada Sabrang, Syeikh Kamba, Cak Fuad, Kiai Tohar atau marja’ kita lainnya.

Kita semua ummat manusia, termasuk Kaum Muslimin dan khususnya Jamaah Maiyah sedang menjalani ujian serius. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabut).

Tingkat dan kadar ujian lewat Corona ini tergolong besar, dan diyakini akan membawa perubahan-perubahan mendasar pada kehidupan manusia. Misalnya kapitalisme global disebut ambruk dan besok akan mengubah sistem itu pada peradaban manusia sesudah Corona. Termasuk Industri “barang tidak penting” akan gulung tikar. Sejak tahun 1980 pertama kali saya mengenal Mal, yakni Ali Mal di Manila, hasil pertandingan besar Muhammad Ali vs Joe Frazier, naluri saya menghitung berapa persen barang-barang yang sungguh-sungguh diperlukan oleh kehidupan manusia, dan berapa persen yang sifatnya hanya bermegah-megah bermewah-mewah saja.

Kemegahan dan kemewahan itu yang membuat manusia abad sekarang merasa lebih maju dan paling modern dibanding manusia dalam sejarah masa silam. Padahal mereka belum pernah bisa mendaur-ulang teknologi bagaimana Piramida diarsiteki. Bagaimana patung raksasa Fir’aun bisa berdiri megah di atas bukit. Bikin patungnya dulu baru dibawa naik, dan harus melalui sungai, atau batu raksasa di atas bukit mereka pahat menjadi patung Fir’aun.

Jangankan lagi menandingi “Iroma dzatil ‘imad”, “jabus-shaakhra bilwad” zaman Nabi Hud yang jadul banget kurun waktunya, atau era Sulaiman “gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba). Stasiun-stasiun angkasa luar, runaway pesawat terbang raksasa tak usah di Kerajaan Sulaiman, mungkin sekadar di Kediri.

Manusia modern merasa mereka yang paling hebat, paling dahsyat peradaban dan kebudayaannya, hanya karena produk parfum, benda mengkilat, browsing dan interneting seakan-akan mampu melampaui spektrum mata Hud-hud, serta barang-barang mewah lainnya.

Diasumsikan juga Health System Quality akan menjadi faktor sangat penting untuk sistem ekonomi dunia selanjutnya. Pada kehidupan manusia esok hari akan terbangun suasana gotong-royong, saling berbagi, saling mencukupi, saling menguatkan, dan saling mengamankan.

Bisa jadi saya agak seaspirasi dengan para Malaikat terutama ketika Kanzuljannah belum menjadi Iblis bahwa sukar dipahami kenapa Allah menciptakan manusia yang toh kegiatan utamanya adalah merusak bumi dan menumpahkan darah. Minimal saya tergolong orang yang tidak terlalu optimis atas kebanyakan manusia, yang Allah sendiri mengulang-ulang “aktsaruhum la ya’qilun” (kebanyakan mereka tidak pakai otak) “aktsaruhum la yatafakkarun” (kebanyakan mereka malas mikir) “aktsaruhum kadzibun” (kebanyakan mereka pembohong), “aktsaruhumul fasiqun” (kebanyakan mereka fasik), “aktsaruhum la yasykurun” (kebanyakan mereka tidak tahu terima kasih), “aktsaruhum musyrikin” (kebanyakan mereka penyelingkuh Allah), bahkan “aktsaruhum lilhaqqi karihun” (kebanyakan mereka membenci kebenaran), serta banyak “aktsaruhum” lainnya menurut Allah sendiri.

Mungkin baik bikin web judulnya mbeler.com atau bandel.co.id yang memuat betapa makhluk manusia tidak bisa dipandang dengan optimisme yang berlebihan. Kalau penderitaannya reda, manusia akan balik lagi ke kekonyolannya, sebab itu pekerjaan yang termudah paling pragmatis dan instan. Jangan dipikir pembelajaran mereka atas penderitaan akan membawa mereka ke perubahan mendasar. Jangan dipikir mereka lantas berhati-hati terhadap apa yang kemarin mencelakakan. Manusia itu mbeler dan bandel tak terkira. Kutipkan sejumlah statemen Allah yang tersirat maupun tersirat menjelaskan itu.

Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim.” Allah akan nuruti saja level dan kadar perubahan manusia, tapi jangan dipikir itu akan cukup fundamental, kecuali dalam hal keuntungan duniawi belaka.

Kalau rahmat Allah, pasti, dan itulah yang membuat masih selamat sampai hari ini. “Wala taisu min rauhillah”. Tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Tapi kalau terhadap manusianya, butuh ketabahan ekstra untuk tidak putus asa.

Alhakumut-takatsur hatta zurtumul maqabir. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (At-Takatsur). “Maka setelah Kami hilangkan adzab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.” (Al-A’raf). “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d).

Dan jika Kami menjadikan manusia merasakan suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami jadikan mereka merasakan kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.

Kepada Jamaah Maiyah saya mohon maaf bahwa saya menjadi makelar dari ayat-ayat Allah. Kita semua benar-beriman kepada Allah, tapi kepada manusia, nanti dulu. Adapun kepada Jamaah Maiyah, kita berjuang bersama untuk tidak digolongkan oleh Allah dalam terminologi-Nya itu.

Sampai waktu yang mungkin lebih lama dari yang kita sangka, apalagi yang kita maui, kita diuji oleh Allah. *****

Buku dan Merchandise