Mbah Nun dan Strategi Sepakbola

Memetik Ilmu dari Reboan on the Sky 20 Mei 2020

“Ada orang gondrong masuk Istana Negara, pasti dia ini orang istimewa,” Pak Indra mengenang kesan pertama melihat sosok Mbah Nun di televisi. Mei 1998 adalah momen yang mencuri perhatian seluruh masyarakat dunia tentang Indonesia. Sohearto lengser keprabon saat itu.

Bagi Pak Indra Sjafri, Mbah Nun adalah sosok unik. Yang selalu diceritakan adalah seorang pria berambut gondrong masuk ke Istana Negara. Itulah yang pertama kali dilihatnya. Tentu saja, saat itu Pak Indra tidak mengenal dekat, apalagi mengetahui bahwa pria gondrong itu adalah juga pemain sepakbola andal, meskipun tidak pernah dicatat sebagai pemain klub profesional seperti saat ini.

Ada banyak cerita mengenai kisah Mbah Nun bermain sepakbola, menjadi pemain andalan sebuah tim sepakbola untuk memenangkan kejuaraan. Jika tidak salah ingat, Mbah Nun pernah bercerita posisi kiri luar adalah posisi favoritnya. Teman-teman pecinta sepakbola hari ini mungkin tidak begitu akrab dengan istilah posisi kiri luar. Ya, dulu ada posisi kiri luar, kanan luar, kiri dalam dan kanan dalam.

Sepakbola memang sangat akrab dengan Mbah Nun. Ada banyak tulisan bertema sepakbola yang pernah dibuat Mbah Nun. Ulasan khas Mbah Nun di awal-awal 90-an mengenai pertandingan sepakbola di Piala Dunia dan Piala Eropa adalah ulasan yang sangat dinantikan oleh para pembaca surat kabar saat itu. Sangat dinantikan kehadirannya, karena tulisan-tulisan itu mampu memotret sisi lain dari sebuah pertandingan sepakbola. Dan bukan hanya sepakbola, duel Tinju dan UFC juga menjadi inspirasi bagi Mbah Nun untuk menulis sebuah tulisan yang menarik.

Bahkan, berdasarkan penuturan Yai Toto Rahardjo, Mbah Nun mampu memotret 5 sudut pandang dalam satu pertandingan sepakbola, yang kemudian dituangkan dalam 5 tulisan berbeda. Dari tulisan-tulisan sepakbola Mbah Nun, saya sendiri membaca bahwa Mbah Nun tidak begitu tertarik mengupas strategi tim yang sedang bertanding. Tetapi, Mbah Nun begitu cerdik memotret sisi lain yang tidak dipotret oleh banyak orang saat itu.

Dalam buku Bola-Bola Kultural, alm. Pak Umar Kayam mencatat bahwa Mbah Nun memiliki semesta yang luas dalam menulis tentang sepakbola. “Bagi Emha, semua hasil pertandingan selalu dalam kerangka rasionalitas. Kambing hitam Dewi Fortuna muncul karena menurut Emha, perspektif rasionalitas yang menjadi acuan paham persepakbolaan tidak menyentuh perspektif rasionalitas yang lebih luas yang terungkap dalam sebuah turnamen,” begitu kata Pak Umar Kayam.

Jika teman-teman beruntung dapat memiliki buku “Bola-Bola Kultural” yang diterbitkan tahun 1993, teman-teman akan menemukan bagaimana Mbah Nun meramu konstelasi politik dunia saat itu dalam tulisan sepakbola. Generasi Z hari ini, bisa jadi jika membaca buku “Bola-Bola Kultural” ini akan mengenal pemain-pemain yang tidak diketahui sebelumnya. Umumnya, orang mengenal sosok Diego Maradona, Roberto Baggio, Ruud Gullit, van Basten hingga Bebeto yang bersinar saat itu. Melalui buku ini, kita akan mengenal sosok-sosok pemain yang juga di era 90’an sangat bersinar.

Kita pernah mendengar Mbah Nun mengatakan di Maiyahan bahwa seorang pemain tidak mungkin bisa memastikan akan mencetak berapa gol dalam sebuah pertandingan, pernyataan itu sudah ditulis Mbah Nun 30 tahun yang lalu. “Manusia tidak bisa menentukan dirinya sendiri. Tidak juga superstar Gullit, Basten dan Maradona. Mereka tidak akan bisa merancang bahwa mereka akan bermain bagus. Mereka hanya bisa berusaha, paling jauh berjanji. Mengapa? Karena kesejatian, kemutlakan, dan keabadian memang bukan hak milik manusia,” begitu tulis Mbah Nun dalam ”Seribu Kali Hidup dan Seribu Kali Mati”.

Sebuah pernyataan yang mengandung nilai spiritual, bahwa sebaik apapun pemain sepakbola menggiring bola di lapangan hijau, pada akhirnya kemampuan tekniknya hanya salah satu unsur yang menentukan apakah ia akan mencetak gol atau tidak, jika lebih luas lagi, kemampuan teknik 1 pemain tidak menentukan apakah sebuah tim akan juara dalam sebuah turnamen atau tidak. Bukti paling sahih salah satunya adalah betapa “ajaibnya” Yunani menjuarai Piala Eropa 2004 silam.

Sering Mbah Nun bercerita didatangi sepasang suami-istri yang berkeluh kesah, sudah menikah beberapa tahun tapi tak kunjung juga diberi momongan. Mbah Nun selalu berkelakar; “Njur aku kudu piye? Kudu tak tengi bojomu, ta?”. Tidak jauh berbeda dengan penjelasan Mbah Nun mengenai menanam dan panen. Tugas petani adalah menanam benih, kemudian merawat lahan. Kepastian panen itu hak prerogatif Allah. Melalui tulisan-tulisannya, Mbah Nun punya banyak cara untuk menyadarkan kita agar selalu rendah hati dan sadar diri, bahwa kita ini hanya manusia biasa.

Kembali bagaimana Pak Indra mengenal sosok Mbah Nun, yang pertama kali dilihat oleh Pak Indra adalah sosok pria berambut gondrong masuk Istana. Jika kita tarik mundur, pada saat Mbah Nun hadir di Istana Negara saat itu, atas permintaan Pak Harto adalah masa-masa genting yang sedang dialami Bangsa Indonesia.

Pada peristiwa Mei 1998 ini kita menyadari ada banyak sudut pandang yang harus kita cermati. Di Maiyah, kita mendapat sudut pandang yang diceritakan oleh Mbah Nun, peristiwa yang dialami oleh Mbah Nun secara runtut, mulai dari Padhangmbulan 11 Mei 1998 hingga puncaknya 21 Mei 1998. Mbah Nun memiliki kisahnya tersendiri dalam hari-hari bersejarah itu.

Ibarat sebuah pertandingan sepakbola, pergolakan politik nasional Indonesia di tahun 1998 ternyata bukan hanya mempertemukan 2 tim sepakbola; Pro Soeharto vs Anti Soeharto. Tetapi, ada tim-tim lain yang diam-diam menyelinap ke lapangan, untuk mencari kesempatan mencetak gol. Dan mencetak gol itu bukan ke gawang tim Pro Soeharto, jika memang ada kesempatan emas untuk mencetak gol ke gawang tim Anti Soeharto, pasti tetap akan diceploskan itu bola ke gawang mereka. Dan Mbah Nun mencermati ada kemungkinan tersebut saat itu.

Komite Reformasi adalah satu hal yang dipotret menarik bagi Mas Erik Supit. Ibarat pertandingan sepakbola, saat itu dibutuhkan strategi yang tidak biasa. Komite Reformasi adalah gagasan yang sangat brilian yang diinisiasi oleh Mbah Nun dan Cak Nur (Nurcholish Madjid) saat itu. Sebuah komposisi tim, yang terdiri dari puluhan tokoh-tokoh nasional, mulai dari politisi, pengusaha, teknokrat, militer hingga rektor dan akademisi. Dan lebih brilian lagi, Mbah Nun dan Cak Nur memutuskan untuk tidak terlibat dalam tim yang mereka inisiasi tersebut.

Konon, salah satu sebab kenapa pada akhirnya Soeharto memutuskan untuk mundur adalah karena tidak bersedianya Mbah Nun dan Cak Nur untuk masuk dalam Komite Reformasi ini. Setelah Soeharto ditinggalkan 14 menterinya yang mengundurkan diri, kekuatan politiknya semakin melemah. Bahkan, ada Menteri yang mengundurkan diri, padahal jelas-jelas dia adalah bagian dari rezim Orde Baru, namun hanya karena ia muncul di Gedung DPR ikut berada di tengah-tengah mahasiswa, ia disebut sebagai salah satu tokoh reformasi.

22 tahun Reformasi berlalu, gagasan Komite Reformasi terlupakan. Yang juga kemudian dilengkapi oleh Mas Erik memotret Mbah Nun dalam sudut pandang politik, pada setiap orang yang meminta Mbah Nun untuk melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Mbah Nun pada tahun 1998 adalah Mbah Nun selalu mempertanyakan; “Siapa yang akan menggantikan mereka jika harus diturunkan?”

Sudah pasti, jawaban gentho-gentho bludrek akan meneriakkan nama Mbah Nun untuk menggantikan mereka yang duduk di Istana jika harus ada pemakzulan lagi. Tetapi, tidak sesederhana itu. Saya ingat, di satu momen pada 2014, ketika Mbah Nun berada di Jakarta, kemudian forum Reboan Kenduri Cinta bergeser dilaksanakan di kediaman Syeikh Nursamad Kamba. Malam itu, ada beberapa orang yang menyayangkan hasil Pilpres, yang kemudian mengeluhkannya kepada Mbah Nun.

Pertanyaan Mbah Nun saat itu sangat menarik. Saya ingat, saat itu Mbah Nun menyampaikan sebuah pertanyaan “Andaikan saya memiliki hak untuk menyusun susunan kabinet Menteri, siapa saja orang-orang yang pantas saya pilih? Jika saya tidak memilih kalian, kira-kira kalian siap menerima atau tidak?”. Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang sangat di luar prediksi.

Mari persempit sudut pandangnya. Andaikan saat ini Anda terpilih menjadi Presiden, sudah pasti orang-orang di dekat Anda adalah yang akan dipilih untuk menduduki jabatan strategis di beberapa posisi. Baik sebagai Menteri, Kepala Lembaga, Staf Istana, atau bahkan Komisaris BUMN. Sangat kecil kemungkinannya Anda memilih orang yang jauh dari jangkauan Anda untuk ditempatkan pada sebuah posisi strategis. Setidaknya, ada yang mempromosikannya untuk menduduki jabatan tersebut. Tidak ada kemungkinan memilih orang yang tidak kita kenal.

Saya merefleksikan pernyataan Mbah Nun itu dengan kisah yang diungkapkan Pak Indra Sjafri. Pak Indra mengenang final Piala AFF U-19 tahun 2013 di Sidoarjo. Susunan tim dibuat berdasarkan komposisi pemain terbaiknya, berdasarkan kemampuan taknik dan stamina. Selama 90 menit bahkan sampai 2 kali 15 menit perpanjangan waktu berakhir imbang. Adu tos-tosan pinalti pun menjadi penentu.

Singkat cerita, seorang Ilham Udin Armaiyn adalah penentu juara Indonesia saat itu. Pemain yang menurut Pak Indra tidak memiliki kemampuan tendangan pinalti yang baik. Bahkan saat melakukan eksekusi pinalti itu, Ilham Udin hanya mengambil 2,5 langkah mundur untuk ancang-ancang. Dan lebih mendebarkan lagi, Ilham Udin mengambil posisi menendang dengan kaki kiri, yang menurut Pak Indra adalah kaki terlemah Ilham Udin. Di atas langit masih ada langit, gol Ilham Udin Armaiyn menjadi penentu Indonesia menjadi juara saat itu.

Bahwa pada akhirnya, tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan sesuai rencana kita. Keindahan justru bisa ditentukan oleh sosok yang tidak kita duga-duga.

Maka bagi Mbah Nun, salah satu alasan mengapa Komite Reformasi ditolak oleh para tokoh Reformasi sangat tidak masuk akal. Saat itu, tokoh-tokoh Reformasi 1998 melihat ada 3 sosok Orde Baru di dalam komite tersebut, sehingga tidak mungkin Reformasi berlangsung dengan baik. Mbah Nun sendiri secara sederhana melihat sangat aneh 40 orang tokoh Reformasi khawatir dengan 3 orang tokoh Orde Baru dalam sebuah tim.

Maka, sebaiknya kita berpikir ulang untuk kembali meminta Mbah Nun untuk “turun gunung” seperti pada Mei 1998. Tidak semudah itu. Bukan tentang bagaimana proses menurunkan Soeharto saat itu yang hanya kita catat dan garis bawahi, tetapi justru yang harus kita pahami adalah bagaimana Mbah Nun menyiapkan strategi pasca lengsernya Soeharto itulah yang juga menyimpan banyak ilmu. Sayangnya, gagasan Komite Reformasi itu tidak terwujud. Maka tidak salah jika banyak orang yang menyatakan bahwa Reformasi 1998 gagal total.

Dalam sudut pandang sempit saya pribadi, Maiyah ini sendiri merupakan salah satu strategi yang digagas Mbah Nun dalam rangka merangkul semua kalangan masyarakat. Hari ini Mbah Nun sedang menyebar benih-benih masa depan, yang Mbah Nun sendiri pun tidak mampu memastikan benih mana yang akan tumbuh dan berbuah. Gagasan Baldah Maiyah adalah salah satu upaya Mbah Nun untuk menuju lahirnya generasi baru peradaban masa depan, setidak-tidaknya kelak anak-anak Maiyah akan mampu memberi warna baru, tidak terseret arus yang ada saat ini.

Lainnya

Buku dan Merchandise