Mbah Fuad Sang Pengantar Cinta Al-Qur`an

Sejauh pengalaman hidup saya, di Maiyah saya sering mengalami kejutan, bahkan ada kejadian yang menampar diri saya dan menumbuhkan kembali kesadaran hidup. Maiyah punya cara pandang, sikap dan tujuan yang khas dalam memandang dunia dan kehidupan. Yang kemudian secara sadar turut membentuk karakter saya.

Di Maiyah saya menemukan percikan cahaya dari kegelapan hidup yang mengepung pandangan, pikiran dan hati dalam melihat dunia dan kehidupan. Saya pernah mengalami masa di mana saya patah arang, bahkan frustrasi dengan kehidupan yang saya jalani. Namun kemudian Maiyah hadir pada momentum yang tepat, mendekap kebodohan yang saya angkuhi, membongkar cara berpikir yang saya anut sebelumnya, mengubah cara pandang yang kemudian membantu saya kembali optimis dengan hidup ini.

Maiyah bagi saya seperti angin di tengah pengap suasana perkotaan, seperti pertanyaan Umbu Landu Paranggi dalam puisinya, “Apa Ada Angin di Jakarta?” Pertanyaannya akan saya ubah menjadi: Apa Ada Angin di Surabaya? Sebab kala itu suasana alam pikiran, hati dan Surabaya terasa sangat pengap sehingga tak jarang membuat saya muring-muring gak jelas, serta cenderung lari ke budaya skeptis — yang mendorong saya berhenti sejenak dari kesadaran yang  terasa pengap dan sumuk.

Salah satu pengalaman di Maiyah yang membuat saya menakar ulang cara berpikir adalah pemahaman manunggaling kawula gusti-nya Syekh Siti Jenar. Istilah itu kerap membuat angan-angan saya bergumam, “Wah betapa istimewanya manusia yang sudah mencapai taraf dan kualitas manunggaling kawula gusti itu. Manusia yang sudah menyatu dengan Gustinya, Tuhannya. Manusia seperti saya sulit mencapai kualitas seperti itu, demikian benak saya bersuara. 

Saya kemudian mendapat penjelasan falsafah Syekh Siti Jenar dari Mbah Nun dengan bahasa yang sederhana, yakni manunggal-nya kawula, rakyat dengan gusti, pemimpinnya. Penjelasan yang tidak hanya memudahkan saya untuk memahaminya, tetapi juga memberikan sudut pandang baru dari pemahaman sebelumnya.

Mbah Nun menjelaskan bahwa jika suatu negara dapat menerapkan prinsip manunggaling kawula gusti—yang menitik beratkan rakyat sebagai bahan pertimbangan pemimpin di setiap keputusan dan kebijakan yang akan diambil, maka bukan tidak mungkin cita-cita gemah ripah loh jinawi benar-benar kita rasakan. Mbah Nun menjelaskan manunggaling kawula gusti dengan bahasa yang mudah dipahami dan lebih jelas arah aktualisasinya, tidak hanya sebagai istilah yang ndakik-ndakik. Penjelasan Mbah Nun itu memacu diri saya untuk lebih belajar lagi di Maiyah.

Selain mengalami pemikiran tak terduga, saya juga berkali-kali menemukan momentum “wow” di Maiyah. Momentum itu muncul ya itu tadi, karena kurang lincahnya cara pandang, cara berpikir, sikap kritis saya kepada hal-hal di sekitar saya. Sebelum bertemu Maiyah, saya menganggap shalat merupakan suatu pencapaian hidup paling puncak. Sehingga ketika shalat kita terpenuhi cukuplah sudah tugas kemakhlukan kita di dunia. Setelah mengenal Maiyah, saya mendapat paradigma baru bahwa shalat merupakan aktivtas yang sifatnya “dapur” — berdasar kualitas shalat, yang menentukan baik atau buruk sifat dan perilaku kita kepada diri sendiri dan sekitar kita.

Jadi, menurut cara pandang di Maiyah, shalat bukanlah suatu hal yang final dari pencapaian hidup kita, justru dengan serta melalui shalat dan ibadah fardhlu yang lain, kita terus meningkatkan kualitas ibadah — yang otomatis juga meningkatnya kualitas sifat dan sikap kita dalam memandang kehidupan, dunia serta hubungan kita kepada sesama makhluk dan manusia.

Kenapa saya sebut “dapur”? Mbah Nun pernah menjelaskan bahwa ibadah (shalat) tidak perlu diumbar di depan publik. Yang harus kita bawa saat keluar rumah dan bersentuhan dengan orang lain adalah output dari shalat itu sendiri. Seperti halnya sebuah warung makan, yang dipajang di etalase adalah hasil masakannya, bukan para koki yang sedang memasak di dapur, bukan kompor dan wajan serta bahan-bahan mentah yang belum diolah menjadi masakan yang menyehatkan.

Pengalaman persentuhan saya dengan Maiyah tidak berhenti pada momentum “wow”, tetapi berlanjut pada tamparan keras kebodohan yang saya pertahankan dalam keangkuhan. Misalnya pada cara ber-Islam. Saya yang dari kecil hidup dalam lingkungan budaya santri menganggap bahwa kalau sudah fasih membaca Al-Qur`an sudah lumayanlah cara berislam saya. Sebab orang yang fasih membaca Al-Qur`an menurut saya kala itu lebih selamat dari hujatan ketika diajak tadarus di bulan Ramadhan, serta khataman. “Wah pulang sudah membawa berkah makanan yang lumayan, serta salam tempel amplop dan rokok cukup untuk menemani cangkruk malam”. Begitulah isi benak saya ketika dulu sering diajak kenduren untuk baca Al-Qur`an. Bukankah ini kebodohan yang saya pelihara dalam keangkuhan? Mungkin tidak salah, tetapi setelah saya rasakan kok sangat pragmatis dan egois. Ealah…

Kersane ngAllah, terselamatkanlah saya oleh Maiyah dari kebodohan yang angkuh tentang konsep membaca Al-Qur`an itu, terutama setelah menyimak pemaparan Mbah Fuad. Di Padhangmbulan awal-awal saya presenting dengan Maiyahan, saya tidak pernah absen datang ke Menturo. Momen yang ditunggu adalah kehadiran Mbah Nun tentu saja. Saat itu, saya lebih sering tidak menyimak narasumber lain selain Mbah Nun. Betapa “kebodohan yang angkuh, dan keangkuhan yang bodoh”.

Salah satu hal yang kurang saya perhatikan adalah sesi penjelasan tafsir Al-Qur`an yang disampaikan oleh Mbah Fuad, yang waktu itu saya tak mengenal siapa beliau, yang kemudian saya ketahui bahwa Mbah Fuad adalah kakak tertua Mbah Nun. Lha wong niat saya dulu selain menggali lebih dalam tentang Maiyah, juga ingin dihibur dan digembirakan oleh Mbah Nun. Kita tahu sama tahu lah, bahwa Mbah Nun memang sangat piawai dalam hal itu.  Hidup saya sudah terasa sumpek, ditambah kekalutan yang menyesakkan dada. Langkah praktis adalah mengharap dihibur dan digembirakan Mbah Nun di Padhangmbulan.

Seiring berjalannya waktu belajar di Maiyah saya menemukan bahwa kegembiraan bukanlah satu-satunya tujuan saya ber-Maiyah. Ada cara pandang, kesetiaan, kejujuran,  kesederhanaan, rendah hati, serta kecintaan kepada Al Qur`an yang justru saya dapat dari Mbah Fuad, yang diejawantahkan secara nyata dalam mengabdi kepada Allah.

Dengan hati segoro, keistiqamahan, serta rasa cintanya kepada kita, Mbah Fuad menyampaikan khasanah ilmu dan tasfir Al-Qur`an dengan sungguh-sungguh.

Semakin nyata kebodohan saya saat mendapati bukti sejarah bahwa dari awal Padhangmbulan lahir sampai sekarang, Mbah Fuad setia menemani dan memberi wawasan kepada kita mengenai Islam dan Al-Qur`an. Berkat kesetiaan dan kecintaan Mbah Fuad itulah Allah memberi hidayah atas kekhilafan sikap saya selama ini.

Hidayah itu menitik pada ubun-ubun kesadaran, bahwa ada beberapa hal yang disampaikan Mbah Fuad  menjawab permasalahan yang sedang saya hadapi. Saya menyadari bahwa Mbah Fuad memiliki peran dalam menyelamatkan kehidupan saya.

Saya merasakan sejak mengenal Maiyah dan merasakan hubungan batin dengan Mbah Fuad membuat saya lebih tertarik belajar Al-Qur`an secara lebih dalam. Bahkan setiap hari terasa ada yang kurang jika belum baca Al-Qur`an. Apalagi ketika mau tidur atau pikiran sedang sumpek, yang biasanya mendengar musik menjadi penenang, kini lantunan Al-Qur`an yang menjadi favorit pilihan.

Sebab saya merasakan ada beda rasa dan output yang dihasilkan ketika mendengarkan musik dibandingkan dengan mendengarkan lantunan Al-Qur`an. Pada sebagian musik pop yang menjadi pilihan favorit saya justru ketika didengarkan akan menguras energi, sedangkan lantunan Al-Qur`an yang saya rasakan justru menghimpun energi, menghadirkan kesegaran kembali.

Saya menyadari kalau tidak karena kesetiaan dan kecintaan Mbah Fuad terhadap Al Qur`an yang beliau tularkan di Maiyah, terasa mustahil juga saya mendapat hidayah Allah berupa kecintaan dan kedekatan dengan Al-Qur`an.

Lha wong rumuse jelas. Dalam syair Tombo Ati, wong kang sholeh kumpulono. Istimewanya bukan karena kita yang bergerak ngumpuli wong kang sholeh, tetapi wong kang sholeh-nya yang bergaul dengan kita. Apalagi ngumpuli wong kang sholeh membuat kita semakin rajin untuk moco Qur`an sak maknane.

Keberkahan berlanjut pada Padhangmbulan edisi khusus “FUADUSSAB’AH” di bulan Juli 2017. Mbah Fuad mencuplik salah satu ayat Al-Qur`an, ya ayyuhal-ladzina amanu Inna min azwajikum wa auladikum ‘aduwwal lakum fahdzaruhum. Wa in ta’fu wa tashfahu wa taghfiru fa innalloha ghofurur rohim. Beliau menyitir ayat tersebut untuk menjawab tentang gen. Menurut beliau kebencian anak kepada orang tuanya disebabkan ada peran gen dan peran mendidik orang tua kepada anaknya. Berdasar ayat tersebut Mbah Fuad memberikan solusi kepada orang tua dalam mensikapi anak yang membencinya, yaitu dengan mau memaafkan, berlapang dada, dan juga mengampuni.

Pada penjelasan Mbah Fuad mengenai orang tua yang dibenci oleh anak tersebut, saya temukan persambungan makna dan solusinya pada hubungan kita kepada tetangga, teman maupun saudara (sebab saya belum mengalami kehidupan berkeluarga alias masih jomblo, hehehe).

Jika ada di antara tetangga, teman atau saudara yang membenci kita bisa saja disebabkan oleh kesalahan kita sendiri. Solusinya bisa dengan meminta maaf, berlapang dada, juga mengampuni kebencian dan juga memohon ampun kesalahannya. Supaya kebencian yang meliputi hubungan kita segera berakhir dan tidak berlarut-larut menjadi dendam.

Setelah saya mengalami loading, mencerna apa yang disampaikan Mbah Fuad, saya mulai ngeh dan mengubah sikap berkat ayat yang disampaikan Mbah Fuad saat itu. Dan rasa syukur tiada terkira atas peran dan jasa Mbah Fuad kepada saya selama ini.

Ketika mengetahui Mbah Fuad sedang milad beberapa waktu yang lalu, yang bisa saya haturkan adalah permintaan maaf atas kesalahan dan kebodohan saya, memohon semoga Mbah Fuad tak pernah lelah berlapang dada menemani kita, juga memohon ampunan dari sekian banyak sikap dan perilaku salah saya kepada beliau.

Semoga Allah berkenan menurunkan hidayah kepada saya serta teman-teman Jamaah Maiyah.

Miladukum sa’iid, Mbah Fuad.

Lainnya

Mengalami Maiyah

Kita Bersalah Hingga Allah Merajuk

Tak Berani Menjabat

Keterbatasan

Buku dan Merchandise