Manusia Manusiawi: Kabar Baik Musik Indonesia

Grup musik Kotak baru saja meluncurkan single terbarunya yang berjudul “Manusia Manusiawi”. Yang menarik di lagu tersebut ada tulisan ft. Cak Nun. Langsung saja jari-jemari ini terkesiap untuk mendudul layar gawai. Dul!

Lagu Manusia Manusiawi dimainkan. Lembut. Bertempo lambat. Bahkan musik ini nyaris bukan karakter Kotak yang biasa mengandalkan gaharnya distorsi gitar, dentuman bass, dan kerasnya pukulan drum ditambah suara nge-rock mbak Tantri. Dan nyuwun sewu, saya pikir Cak Nun menyanyi lho! Saya tunggu, ini bagian Cak Nun ada di mana ini? Setelah intro belum muncul, sampai bait lagu pertama, kemudian reff, nggak muncul. Iya dong, ekspektasi saya nggak berlebihan kan? Seru dong menunggunya. Dan ternyata suara beliau muncul setelah reff pertama, “Manusia mengembarai langit…” baru sampai situ Mak Deg!

Lagu itu bener-bener hidup. Apalagi ditutup dengan, “Tetapi untuk tetap setia sebagai manusia…”

Mari sedikit mundur ke belakang. Sekira dua tahun lalu di sini saya pernah menulis tentang hubungan Cak Nun dengan musik (populer industrial) meski tidak secara langsung dan kesannya saya othak-athik-gathuk-an saja. Pertama ada Cak Nun dan Masa Depan Musik Indonesia dan yang kedua Musik Pemuda dan Olahraga. Ketika grup musik Kotak mengumumkan akan meluncurkan single terbaru dan mengajak kolaborasi dengan Mbah Nun, justru pertanyaan yang keluar ‘kenapa Mbah Nun?’. Padahal dari segi generasi mungkin sangat jauh. Kalau yang diajak mas Noe mungkin agak tidak mengagetkan. Tapi kemudian saya teringat tulisan Musik Pemuda dan Olahraga, di mana saya menyoroti anak band era kekinian yang mulai kenal lebih jauh dengan Maiyah, dengan Mbah Nun. Salah satu nama yang saya tulis di situ ada Tantri. Siapa gerangan? Yak. Beliau adalah vokalis grup Kotak. Kebetulan kah?

Sebagaimana yang tertuang dalam deskripsi lagu pada unggahan tersebut, Tantri, Cella, dan Chua mengaku sangat mengagumi sosok Mbah Nun dalam Maiyahan. Maka mereka juga bersyukur ketika Mbah Nun berkenan membacakan semacam puisi yang pendek namun padat berisi dengan bahasa yang mudah dipahami dan ini yang tak kalah penting, match dengan isi lagu tersebut. Bagaimana seorang manusia ketika jatuh terpuruk tidak lantas hilang kemanusiaannya kalau dengan sigap dia menyadari untuk bertahan sebagai manusia. Pun ketika manusia berada di puncak prestasi dunia, menerobos cakrawala, tidak diniatkan untuk merasa hebat, kuasa, atau perkasa, melainkan untuk tetap setia sebagai manusia. Terang yang demikian itu sulitnya minta ampun. Menjaga kesadaran sebagai manusia sekaligus mensetiainya.

Sebelum proses album baru Kotak bertajuk Identitas digarap, Tantri sempat vakum sekira 9 bulanan dari aktivitas bermusik. Semacam melakoni perenungan yang menurut hemat saya, dia sedang berdamai dengan masa lalunya. Pun sedang dilanda kebimbangan apakah aktivitas bermusiknya adalah pilihan hidup yang tepat. Apalagi masih ada beberapa pendapat yang saling bertabrakan apakah musik itu halal atau haram. Iya, sebagai manusia berada di posisi tersebut tidaklah mudah. Dia perempuan, terang juga sebagai seorang ibu. Bagaimana dia bisa menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Muslim, perempuan, dan rocker dengan kualitas vokal yang eman-eman jika tidak dimanfaatkan.

Selama vakum beberapa konser sebelum masa pandemi posisinya diganti oleh Melly Mono vokalis grup She. Jelas ada yang berbeda dengan warna musik Kotak kala itu. Saya salah satu orang yang mengikuti sepak terjang grup yang berawal dari ajang pencarian bakat Dreamband itu juga sempat agak kecewa. Karena posisi vokal adalah posisi vital dalam sebuah band. Dan sempat mencoba mencari tahu ada apa gerangan dengan Tantri. Maka tak heran ketika Tantri memutuskan kembali untuk bermusik, sebagaimana unggahan di akun instagramnya, dia merasa sangat bahagia. Seperti dilahirkan kembali. Bergabung lagi dengan Kerabat Kotak di event-event musik. Dan masih menurut tebakan saya, salah satu faktor yang membuat Tantri kembali menjadi ‘manusia’ sesuai pilihan hidupnya secara tidak langsung adalah persinggungan dia dengan Mbah Nun dan Maiyahan. Mungkin dia sering maiyahan via YouTube. Atau mungkin membaca buku-buku Mbah Nun.

Ini menjadi tambahan satu catatan penting perjalanan Mbah Nun dalam dunia musik kekinian. Juga menjadi pelajaran bahwa generasi terdahulu tidak mesti bersitegang dengan generasi sekarang. Keduanya masih bisa menjadi jamaah di dalam bidang apapun saja. Membuka mata pandang kita bahwa kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan memang sangat banyak jumlahnya bahkan tak terbatas. Mbah Nun sekali lagi memberikan contoh peluang kemungkinan itu dalam lagu Manusia Manusiawi. Tinggal dicari proporsi dan posisinya. Kalau panjenengan dengarkan dengan saksama, syair singkat dalam lagu tersebut secara struktural menjadi melodi inti lagu. Biasanya jatah isian gitar. Jadi memang pas posisinya di sana. Iya, nuansanya mengayomi. Memberikan keteduhan.

Kalau digambarkan dengan rekontruksi ulang, mungkin seperti ini situasinya.

Suatu hari di Maiyahan, sesi tanya jawab yang egaliter itu, ada salah seorang jamaah perempuan bertanya, “Cak, sebelumnya perkenalkan saya Tantri, mau bertanya, bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri?”

Lalu Cak Nun merespons dengan paparan tentang manusia. Sebagaimana syair yang ada di lagu tersebut.

Di belakang sendiri ada jamaah yang terkantuk-kantuk. Bangun kaget, “Eh Tantri? Vokalis Kotak?”

Lha itu saya.

Sekali lagi menurut saya ini merupakan kabar baik musik Indonesia. Di mana tema-tema tentang kemanusiaan terus didengungkan. Itu baru satu. Ada lagi single kedua dari Yudhi Doni Project yang berjudul ‘Ibu’. Ada puisi Mbah Nun yang dibacakan oleh Pak Seteng di sana. Nanti insyaallah ada tulisannya setelah ini.

Maturnuwun Cak, Mbah Nun masih kerso membersamai kami entah apa medianya.

Buku dan Merchandise