Majelis Ilmu Gambang Syafaat Semarang, 25 Juli 2020

Manusia di Dunia Layar

Teknologi informasi mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Banyak ruang publik online muncul di kalangan masyarakat Indonesia. Pemanfaatan gadget semakin hari semakin menggeliat. Selama adanya pandemi, dunia maya menjadi jalan alternatif bagi banyak orang untuk saling bersilaturahmi. Biasanya orang-orang mengadakan pertemuan secara langsung, sekarang hanya bisa bertatap muka secara online. Anak-anak sekolah mendapatkan pelajaran dan tugas dari guru juga secara online. Menghadirkan kesan bahwa sekarang anak kecil sampai orang tua sudah semakin akrab dengan dunia maya.

Kegiatan rutin Sinau Bareng bulanan edisi Juli 2020, kembali diselenggarakan Maiyah Gambang Syafaat Semarang dengan mengusung tema ‘Manusia Layar’. Kita bisa melihat dari isi pamflet kegiatan. Karakter orang berlari ke dalam layar. Di dalam layar wujudnya tidak lagi nyata melainkan maya. Banyak perspektif yang bisa digunakan.

Mendengar manusia layar, Mas Ali langsung teringat dengan kata akun atau username. Manusia layar adalah orang yang punya akun di dalam berbagai kanal media. Sedangkan orang yang tidak punya akun bukan termasuk ke dalam kategori manusia layar. Layar merupakan media komunikasi.

Mas Ali membuat istilah baru menyangkut bentuk komunikasi. Komunikasi polosan dan oplosan. Komunikasi polosan bermakna bahwa informasi yang disampaikan tulus, asli, tidak ditambah atau dikurangi muatan nilainya. Seseorang benar-benar berniat mengabarkan sebuah informasi pada orang lain. Komunikasi oplosan yaitu cara penyampaian informasi seseorang yang telah diberikan bumbu penyedap rasa, sehingga esensi nilai kabur. Singkatnya, jika komunikasi polosan; mengabarkan, dan komunikasi oplosan; mengaburkan.

Ada empat tipe manusia layar. (1) Manusia yang menggunakan layar sebagai ruang ekspresi, umumnya tidak bisa ditampilkan di ruang realita. Dia ingin mengabarkan ada ‘sisi lain’ di dalam dirinya. Beberapa orang memutuskan untuk tampil dengan menyembunyikan identitas. Bisa jadi, orang-orang ini sering memalsukan jati diri saat tampil di dunia layar. Kita sering menyebutnya sebagai akun anonim. (2) Manusia yang sengaja menggunakan layar untuk media mengenalkan jati diri. Menguatkan eksistensi diri di dunia layar. Mereka tidak menutupi identitasnya. Sebaliknya, orang-orang ini akan menampilkan sifat asli mereka sama seperti saat berada di dunia nyata. (3) Manusia yang fokus mendapatkan manfaat di dunia layar. Mereka akan mengambil atau sengaja menciptakan peluang mengambil keuntungan. Ada yang bertujuan baik dan buruk, misalnya orang jualan produk, dakwah, atau mencari simpatisan. (4) Manusia yang tidak paham layar. Mereka tidak tahu bahkan tidak sadar dengan semua yang ada di layar. Orang jenis ini menganggap jika apa yang mereka temukan di dunia layar sebagai kenyataan yang tidak terbantahkan. Padahal apa yang ada di layar seringkali sudah dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat nyata. Cara mengarungi dunia maya cukup sederhana. Selalu bersikap biasa saja dalam menanggapi informasi di layar. Tidak dijadikan sebagai rujukan informasi utama.

“Kita hidup dengan layar-layar,” ucap Habib Anis yang malam itu tersambung melalui Zoom. Layar seperti topeng. Seseorang bisa memanfaatkan layar untuk kepentingan tertentu. Komunikasi dunia maya semakin mengkhawatirkan. Ketika ada sebuah masalah yang sama. Didiskusikan oleh orang yang memiliki perspektif dan daya tangkap berbeda. Pasti akan memunculkan banyak kontroversi dan keributan.

Akhir-akhir ini, kita bisa melihat banyak contoh masalah yang muncul di dunia layar. Sebuah masalah yang awalnya sederhana dan diperdebatkan dari lingkup kecil, mungkin efek kontroversinya masih kecil. Ketika masalah sederhana tersebut diangkat di layar besar media sosial, maka akan memancing perdebatan dan kontroversi dari banyak orang.

Menurut Habib Anis, masalah yang terjadi di dunia digital karena manusia belum menemukan kedewasaan dalam peradaban. Era sekarang membuat masyarakat membedakan antara dunia real dan dunia layar. Mereka beranggapan jika dunia layar tidak nyata. Dunia layar menciptakan manusia-manusia pengecut, hanya berani lempar batu sembunyi tangan. Cara berpikir masyarakat digiring untuk mudah menyalahkan, seperti seseorang yang melihat sedikit noda hitam di tembok putih besar. Noda hitamnya saja yang diperhatikan dan mengabaikan warna putih pada tembok.

Ada hal menarik dari pendapat Habib Anis. Manusia memiliki kemampuan menyimpan memori, berekspresi, dan bertingkah laku. Selain menjadi kelebihan dibandingkan makhluk lain, bisa juga menjadi peluang bagi manusia-manusia tertentu memanipulasi manusia yang lain. Manusia mudah dikendalikan dengan harapan dan ketakutan berlebih.Dunia yang sudah ada banyak alat, kebenarannya semakin mengalami penurunan. Alat bantu komunikasi manusia semakin berevolusi. “Kita butuh layar untuk posisi yang diperlukan dan tidak menggunakan layar untuk sesuatu yang tidak diperlukan.”

Pak Ilyas turut menyumbang respons dari sudut pandangnya. Menurut beliau, banyak orang yang tidak bisa menentukan posisi saat berada di dunia layar. Berbagai penipuan di layar sudah sering terjadi. Pemalsuan jati diri dan informasi dalam banyak kasus menjadi contoh nyata.

Berkomunikasi melalui layar sangat berbeda dengan komunikasi di dunia nyata. Seseorang bisa menyembunyikan ekspresi, perasaan, dan perhatian dengan lawan bicaranya saat berbicara di dunia layar. Pernah menelepon seseorang sembari melakukan kegiatan lain? Tentu hal ini tidak bisa dilakukan saat dua orang berbicara secara langsung. Mereka akan berkonsentrasi penuh menggunakan semua upayanya untuk saling menyatukan frekuensi. Menghargai lawan bicara dengan sungguh-sungguh. Berbeda dengan dunia layar, di mana seseorang bisa mengirimkan pesan bahagia, tersenyum atau girang, padahal dirinya sedang nggrundel. Tanpa pembiasaan, kualitas berkomunikasi di dunia layar jauh lebih rendah dibandingkan saat berkomunikasi di dunia nyata.

Pak Budi Maryono pernah mendengar dari teman jika nantinya manusia akan terperangkap dalam layar. Hidup manusia akan berpindah dari layar ke layar. Manusia akan terlalu banyak hidup di dunia layar. Mereka akan kehilangan waktu bermenung-menung.

Dunia layar membuat seseorang menjadi terlalu mudah bereaksi terhadap sebuah informasi. Tidak merenung, tidak mengambil jarak, dan menganggap semua informasi di layar sebagai fakta mutlak. Orang modern sekarang menganggap jika tidak mengikuti informasi di dunia layar, maka dia akan tertinggal. Kita sering melihat di komentar ‘pertamax’ pada postingan di media sosial menandakan setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi pengakses informasi pertama. Tanpa melakukan proses seleksi dan klarifikasi kebenaran atas informasi tersebut.

Pak Budi menjelaskan tentang perbedaan buku dan internet yang dipandang sebagai jendela informasi dunia. Kenapa dampak internet lebih banyak buruknya dibandingkan dengan buku? Buku merupakan jendela dunia yang dibuka sedikit demi sedikit. Jendela yang dibuat dengan proses lama oleh pengarangnya. Pembaca juga ikut mengalami proses selama mengakses informasi di dalam buku. Sedangkan internet, jendela yang terbuka sangat lebar. Berpotensi besar memunculkan kepanikan untuk pembacanya. Beliau menambahkan jika dunia nyata dan maya bukan dua dunia berbeda, melainkan dua dunia yang saling terhubung. Contoh kasusnya; jika ada seseorang memblokir akun temannya di dunia maya, maka akan terbawa ke dunia nyata. Dia akan menjauhi temannya yang diblokir tadi. Bijak ketika berada di dunia maya dan nyata menjadi pilihan paling aman.

Dunia layar tidak selamanya salah. Semua mempunyai potensi menjadi baik dan buruk yang sama. Bergantung bagaimana seseorang mampu menempatkan diri. Sebuah penutup dari beliau; ‘senyata-nyatanya kenyataan itu juga maya dan semaya-mayanya kemayaan itu juga nyata’. Maya bagian dari nyata dan nyata bagian dari maya.

Gambang Syafaat edisi Juli 2020 masih dilaksanakan secara virtual. Salah satu bentuk pemanfaatan dunia layar. Mengobati kerinduan jamaah berkumpul untuk sinau bareng. Semoga semua Jamaah Maiyah selalu istiqamah bersikap bijak di dunia nyata ataupun di dunia layar. Amin.

Penulis adalah Penggiat Gambang Syafaat Semarang.

Buku dan Merchandise