“Mantan Artis” Yang Jadi Ibu Rumah Tangga

Cak Nun menemani Ibu Via di lokasi syuting untuk film terbarunya: Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah.
Cak Nun menemani Ibu Via di lokasi syuting untuk film terbarunya: Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah.

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Membaca penggalan bait di atas, tak sengaja pasti teman-teman langsung berguman menyanyikannya. Ya memang penggalan bait tersebut itu begitu kuat dan membekas, menjadi salah satu drama serial yang sangat digemari dan paling ditunggu pada medio 90’an awal. “Keluarga Cemara” menemani masa kecil teman-teman pada tahun-tahun itu, menjadi salah satu tayangan televisi yang akrab dan menjadi salah satu tontonan wajib, dan salah satu serial yang fenomenal ketika itu. Sebuah serial yang menceritakan gambaran sebuah keluarga kecil dan sederhana, yang sangat Indonesia banget.

Layaknya kebanyakan keluarga di Indonesia, kedua orangtua; Abah dan Emak yang mengalami problem ekonomi, kemudian anak-anak mereka, selayaknya anak-anak mengalami problem sosial dalam berteman dengan anak sebayanya. Euis sebagai anak sulung menumbuhkan sikap selayaknya anak sulung dalam sebuah keluarga yang harus menjadi teladan bagi adik-adiknya. Dan keluarga adalah tempat mereka semua kembali, sepahit apapun masalah yang dihadapi, baik Abah, Emak, Euis, Ara dan Agil mengajarkan kepada kita bahwa ada keluarga sebagai tempat kita kembali.

Berbicara tentang Keluarga Cemara, saya sendiri tidak mungkin melepaskan ingatan bahwa Bu Via adalah salah satu aktris yang terlibat dalam memerankan sosok Emak di serial ini. Ada banyak memori sebenarnya yang mengingatkan saya terhadap sosok Novia Kolopaking. Sebut saja serial “Satu Kakak Tuju Ponakan”, atau “Siti Nurbaya” yang juga sangat fenomenal.

Saya ingat, ketika bertemu dengan Mas Dedi Setiadi bulan November 2019 lalu, Mas Dedi mengenang proses bagaimana membujuk Bu Via saat itu untuk mau memerankan seorang Siti Nurbaya. Mas Dedi bahkan bersabar untuk menunggu sampai 2 tahun, karena salah satu yang dipersyaratkan oleh Mas Dedi adalah agar rambut Bu Via lebih panjang lagi, untuk memaksimalkan peran sosok Siti Nurbaya sebagai seorang gadis melayu. Mas Dedi Setiadi adalah sutradara yang menemukan bakat seorang Novia Kolopaking untuk berakting di layar kaca.

Di dunia tarik suara, nomor lagu seperti “Asmara”, “Bunga Mawar”, “Untukmu Segalanya”, “Biar Kusimpan Rinduku” adalah nomor-nomor lagu yang melambungkan nama Novia Kolopaking di era 90’an. Lagu-lagu Bu Via, hampir selalu bertengger di urutan tangga lagu teratas di beberapa acara musik di televisi saat itu. Jauh sebelum Raisa dan Isyana, sudah ada Novia. Begitulah.

Setelah menikah dengan Mbah Nun, Bu Via “menghilang” dari spotlight popularitas selebriti di Indonesia. Benarkah demikian? Sebentar, kiranya kita perlu membenahi definisi dan sudut pandang kita mengenai bagaimana seseorang disebut sebagai selebritis di Indonesia. Apakah memang ukuran mainstream seorang artis atau selebritis adalah mereka yang selalu muncul dan dikenal adalah seseorang yang terus menerus nongol di televisi? Atau, jika kita gunakan parameter hari ini, apakah seorang artis hanya diukur dari jumlah followers di akun media sosial? Apakah memang ada konsep pensiun dalam dunia selebritis?

Seakan sudah memahami resiko sebagai Istri dari Mbah Nun, Bu Via memilih untuk fokus mengurus keluarga. Mbah Nun adalah orang yang sejak masih muda terbiasa dengan ritme jadwal yang padat. Bukan hanya menulis untuk kolom surat kabar, majalah, buku atau naskah teater, tetapi juga menjadi pembicara di berbagai forum. Hal ini yang tampaknya disadari oleh Bu Via, bahwa waktu yang dimiliki oleh Mbah Nun untuk keluarga akan sangat tersita. Mbah Nun bersama KiaiKanjeng berkeliling ke berbagai tempat, siklus ini sudah dijalani oleh Mbah Nun jauh sebelum menikah dengan Bu Via. Maka, setelah menikah Bu Via memutuskan untuk mengambil peran, dirinya yang bertugas di rumah, mendidik anak-anak dan mengurus keluarga.

Menjadi istri dari Mbah Nun, sudah pasti secara otomatis Bu Via memiliki persambungan dengan KiaiKanjeng. Bukan hanya soal mengaktualisasikan salah satu potensi Bu Via dalam bernyanyi, tetapi lebih dari itu. Pada saat tour KiaiKanjeng ke Eropa, dan perjalanan KiaiKanjeng ke pelbagai benua dan negara lainnya, Bu Via meng-handle seluruh pernak pernik kebutuhan KiaiKanjeng, mulai dari dokumen-dokumen, itinerary, peralatan-peralatan, hingga kostum yang akan dikenakan oleh KiaiKanjeng selama di Eropa saat itu. Semua termanage dengan baik dan detail. Dan saat itu, Bu Via sedang hamil tua.

Dalam pementasan teater, naskahnya ditulis oleh Mbah Nun pun Bu Via terlibat sebagai salah satu pemerannya. Satu diantaranya adalah dalam teater “Tikungan Iblis”. Dengan latar belakang pengalaman sebagai seorang aktris, Bu Via sangat total memerankan salah satu peran di “Tikungan Iblis” tersebut.

Bagi Bu Via, bermain teater atau bernyanyi adalah sebuah pekerjaan. Maksudnya adalah, bahwa Bu Via menjalani profesi tersebut benar-benar dijalankan secara profesional. Ketika keluar rumah dan memang tujuannya adalah untuk bernyanyi, maka bernyanyi itu adalah sebuah pekerjaan yang harus dilakukan secara total dan sungguh-sungguh. Begitu kembali ke rumah, Bu Via pun langsung switch kembali menjadi seorang Ibu bagi anak-anak dan seorang Istri bagi Mbah Nun.

Apakah sampai disitu saja? Tentu tidak. TK IT Alhamdulillah di Kasihan, Bantul adalah salah satu bukti aktualisasi lain Bu Via setelah menjadi istri Mbah Nun. Meskipun saat ini TK tersebut dikelola oleh adik perempuan Mbah Nun, tetapi Bu Via masih memiliki peran yang sangat penting di TK tersebut. Bisa kita lihat bahwa berdirinya TK IT Alhamdulillah ini juga merupakan bukti nyata betapa Bu Via juga sangat memperhatikan dan sangat concern dengan dunia pendidikan.

Yang sangat jarang kita hitung adalah betapa banyak waktu yang dimiliki oleh Mbah Nun, yang seharusnya menjadi hak keluarga untuk berkumpul dengan Bu Via dan anak-anak, justru digunakan oleh Mbah Nun untuk Maiyahan, menemani kita. Apa yang diceritakan oleh Mbah Nun bahwa seringkal hanya bertemu Bu Via di Bandara itu adalah cerita nyata. Ketika Mbah Nun baru mendarat dari Maiyahan di suatu kota, sementara Bu Via juga harus terbang menuju kota lain untuk satu urusan yang juga penting. Dan kita dengan polosnya sering bertanya; “Kapan ada Maiyahan lagi Mbah Nun?”….

Betapa tidak ringan pengorbanan yang dilakukan Bu Via, harus menjadi seorang Ibu bagi anak-anak di rumah sekaligus menjadi seorang Ayah ketika Mbah Nun harus berkeliling bersama KiaiKanjeng di berbagai daerah. Teman-teman yang sudah berkeluarga pasti sangat paham betapa tidak mudahnya mendidik anak-anak di rumah. Belum lagi harus menghadapi problematika berkeluarga. Dan Bu Via berkeluarga dengan Mbah Nun pun demikian, tidak lantas lancar-lancar saja dalam berkeluarga, ada riak-riak, ada ujian, ada cobaan di tengah kebahagiaan dalam berkeluarga. Dan memang seperti itulah hidup dinamikanya.

Dan Bu Via adalah Ibu yang sangat mandiri. Bu Via harus mengimbangi padatnya jadwal Mbah Nun yang sering meninggalkan rumah, sehingga pekerjaan-pekerjaan rumah harus tetap dikerjakan sendiri oleh Bu Via. Jika suatu hari teman-teman mendapati Bu Via nyetir mobil sendiri, itu bukan suatu hal yang aneh. Karena memang seperti itu yang dilakukan oleh Bu Via. Bahkan, dari Bogor menuju Yogyakarta, Bu Via dan Mbah Nun mengendarai mobil pun pernah. Bu Via sendiri yang duduk di belakang kemudi.

Lho, ternyata kesibukan Bu Via sangat padat. Mengurus keluarga sudah pasti. Bersama KiaiKanjeng, Bu Via masih bisa mengaktualisasikan kemampuan dalam bernyanyi. Dan kemampuan dalam berakting Bu Via pun ternyata tidak hilang begitu saja. Berbicara kemampuan berakting Bu Via di depan kamera, denger-denger Bu Via sedang menyiapkan kado istimewa untuk kita semua Masyarakat Maiyah di akhir maret nanti untuk kita semua. Apa itu? Kita tunggu saja.

Buku Cak Nun Majalah Sabana