Malas Mencari Nafkah

Lazy
Image by Mote Oo Education from Pixabay

Betapapun hebatnya striker, mulai dari kelas sepakbola tarkam Agustusan sampai kelas Piala Dunia sekalipun, tidak ada yang bisa memastikan terciptanya gol. Tetap, momentum kapan terjadinya gol Tuhan yang menentukan. Itulah kesadaran rezeki.

Meski demikian, pemahaman itu tidak serta merta melahirkan kesimpulan bahwa, “kalau begitu, tidak perlu capek-capek latihan, bertanding asal-asalan saja, toh gol atau tidak Tuhan yang menentukan”.

Tidak, tidak seperti itu. Pemain terus berupaya memperbaiki teknik bermainnya, memperbaiki cara mendrible bola, menajamkan akurasi assist-assist-nya, menguatkan sundulan kepalanya, melemaskan goyang kocekan bolanya, belajar dan terus berlatih dengan harapan pada saat bertanding nanti ia mampu mencetak gol. Walaupun sekali lagi ia sadar bahwa keputusan gol atau tidak Tuhanlah yang menentukan.

Artinya kesadaran bahwa rezeki atau terciptanya gol adalah Tuhan yang menentukan tidak serta merta menyurutkan kesungguh-sungguhan striker dalam berlatih dan dalam bertanding. Sehingga ketika gagal mencetak gol, striker langsung mengevaluasi, mencari kelemahan, dan memperbaikinya.

Begitu juga dalam hal pengobatan. Rezeki kesembuhan ada di Tangan Tuhan. Apapun obatnya atau siapapun dokternya, tetap sembuh atau tidaknya seorang pasien bukan keampuhan obat dan dokter yang menentukan.

Meski demikian, bukan berarti lantas berkesimpulan bahwa “sudahlah, pasien kasih apa saja. Terserah seadanya, sekenanya, wong toh sembuh atau tidak Tuhan yang menentukan”. Tidak begitu, dokter dan ahli pengobatan senantiasa bersungguh-sungguh mempelajari gejala sakit si pasien, mendalami macam ramuan obat-obatan, menelaah riwayat penyakit. Artinya, kesadaran bahwa rezeki atau kesembuhan ditentukan Tuhan tidak menjadikan dokter dan paramedis kendur dalam mencurahkan segala upaya untuk meningkatkan kompetensinya. Sehingga ketika gagal menangani pasien dokter lantas mengevaluasi mencari di mana kesalahannya dan bertindak memperbaiki.

Akan tetapi hal ini agak berbeda ketika menyangkut persoalan nafkah. Sering kita mendengar ungkapan, “buat apa kamu belajar bisnis, toh rezeki sudah digariskan Tuhan”. Atau “tak usahlah capek-capek mikir dan bekerja, wong rezeki Tuhan yang menentukan”. Sehingga ketika dagangannya kurang laku misalnya atau bisnisnya jatuh tidak lantas mengevaluasi mungkin ada kesalahan manajemen keuangannya, lemah strategi pemasarannya, kurang tepat menentukan metode produksinya, atau tenaga kerjanya kurang berkualitas, dan sebagainya dan sebagainya, tetapi memvonis bahwa kegagalan usaha karena memang Tuhan yang menentukan.

Tidak salah memang, akan tetapi jangan-jangan kalimat “Rejeki Tuhan yang menentukan” justru menjadi ruang persembunyian paling nyaman bagi kemalasan dan ketidaksungguh-sungguhan dalam mencari formulasi yang tepat dalam memperoleh nafkah. Padahal striker yang yakin bahwa rejeki gol Tuhan yang menentukan tetap setia berlatih dan sungguh-sungguh dalam bertanding. Begitu juga dokter yang yakin bahwa Tuhan yang memberi kesembuhan, tetap setia belajar dan bersungguh-sungguh menangani pasiennya.

Agaknya kita perlu belajar kepada kesungguh-sungguhan Nabi Daud yang seorang pengrajin keranjang batang pohon kurma. Nabi Idris yang seorang penjahit. Nabi Zakaria yang seorang tukang kayu dan Nabi Musa yang peternak domba.

Dan Rasulullah Muhammad Saw berpesan “Yang sangat menakutkanku atas umatku adalah banyak makan, lama tidur, serta malas. Pengangguran hanya akan menjadikan seorang manusia menjadi keras hati” (HR al-Syihaab).

Dan beliau juga mengingatkan “Sesungguhnya, bila ia bekerja untuk menghindarkan diri dari meminta-minta, maka ia berarti dalam sabilillah. Dan jika ia bekerja untuk mencari nafkah serta mencukupi kedua orang tuanya atau keluarganya yang lemah, maka ia pun dalam sabilillah. Namun jika ia bekerja hanya untuk bermegah-megahan serta hanya untuk memperkaya dirinya, maka ia dalam sabilisy syaitan”.

Buku dan Merchandise