Majalah Sabana dan Hal-hal “Kecil” yang Dirawatnya

Majalah sastra Sabana yang tempo hari baru saja rilis edisi terbarunya, yakni edisi ke-11, seperti kita tahu, diterbitkan oleh para eksponen Persada Studi Klub (PSK) Malioboro Yogyakarta. Kawah candradimuka ini adalah tempat berproses kreatif banyak sastrawan pada tahun 70-an awal.

Dari sana, ada Iman Budhi Santosa, Budi Sardjono, dan Mustofa W Hasyim, yang sampai saat ini istiqomah dan konsisten dalam bercipta sastra, serta menggawangi majalah Sabana. Sementara itu, Cak Nun juga sebagai salah satu alumni PSK turut melatarbelakangi, mendukung, dan menjadi fasilitator terbitnya majalah sastra yang boleh dikata kian langka di Indonesia.

Lewat Sabana beliau-beliau nguri-nguri sastra Indonesia.

Dalam rangka untuk dapat lebih dekat melihat apa dan bagaimana nguri-nguri sastra Indoseia tersebut, ada hal yang lebih spesifik yang barangkali baik jika kita mengetahui dan menyadarinya. Kita bisa mendapati hal itu misalnya ketika kita menyimak sambutan pembuka Pak Iman Budhi Santosa pada saat acara Sastra Liman 5 Januari 2020 sekaligus launching Sabana edisi No. 11.

Di situ, selain sedikit menceritakan sejarah Sabana, kemudian evolusinya menjadi majalah sastra Maiyah yang bersifat terbuka bagi siapa saja, Pak Iman mengatakan Sabana akan membuat rubrik baru yang isinya beliau sebut sebagai Sastra Rantau. Menurut Pak Iman, Ini satu “sub” dalam sastra yang belum digarap oleh media sastra lainnya. Rubrik ini akan mengundang teman-teman TKI yang merantau dan bekerja di banyak negara lain seperti Arab Saudi, Hong Kong, Taiwan, Korea yang selama ini sebenarnya banyak menghasilkan karya sastra namun belum mendapatkan tempat dan perhatian.

Pak Iman sendiri bercerita pernah mengasuh teman pekerja Indonesia di Hong Kong dan dia akhirnya dapat mencipta novel dan telah dipublikasikan. Selain untuk membuka ruang bagi refleksi atau karya para TKI tersebut, nantinya Sastra Rantau pada akhirnya membawa kita tahu bahwa dunia TKI bukan sekadar urusan bekerja dan mencari nafkah di negeri rantau seperti citra yang terbentuk selama ini, namun juga sebagaimana kita semua, dunia mereka diisi insan-insan yang memiliki semesta kultural yang kita perlu mengenal dan mengapresiasinya melalui dan atas karya dan pemikiran mereka.

Sabana akan membantu kita melangkah ke sana. Selain itu, saat Pak Budi Sardjono memandu acara Sastra Liman kemarin, beliau memanggil maju beberapa penulis Sabana Edisi baru ini dan kita mendapatkan informasi dari Pak Budi bahwa salah satu yang penting dicatat adalah bahwa Sabana kali ini memuat sebuah cerpen yang ditulis oleh pelajar SMA kelas 10 atau kelas 1. Pada usia segitu sudah menulis cerpen, dan cerpennya bagus, liar, imajinatif. Begitu Pak Budi mengapresiasi dan memuji.

Ini tentu tak ubahnya Sabana mencari dan menemukan bakat-bakat muda yang potensial dan kita belum mengenal mereka. Sabana mengajak mereka dan turut memberi ruang, sehingga kita akan bisa menikmati karya mereka, para generasi baru ini. Sabana, dengan demikian, sedikit banyak itu memproses regenerasi dalam jagat sastra.

Nah, untuk bisa membaca cerpen yang dimaksud dan karya-karya lain, silakan otw langsung ke Majalah Sastra Maiyah Sabana edisi terbaru No.11 yang bertema utama mengangakat nilai-nilai kearifan lokal ke dalam karya sastra.

Satu dua hal di atas, sekurang-kurangnya buat saya, memberikan gambaran bahwa Sabana di samping mewujudkan dirinya sebagai majalah sastra yang ada di tengah perkembangan zaman dengan semua kompleksitasnya, ia juga majalah sastra yang punya perhatian dan rambahan yang hendak menyentuh apa yang barangkali belum disentuh oleh media sastra selama ini dan menjadikannya sebagai majalah sastra yang tidak as usual.

Pada titik itulah, kita belajar dari para beliau yang setia merawat dunia rohani bernama sastra, dan bahkan sebenarnya bukan sekadar merawat melainkan mencari, menguak, serta membukakan pintu bagi sesuatu yang baru dalam konteks fenomenologi maupun ide-ide dalam dunia sastra. Maka, kata “Kecil” dalam judul tulisan singkat ini segera kita ganti dengan “Besar dan Mulia”.

Yogyakarta, 8 Januari 2020

Lockdown 309 Tahun