Maiyah Sebagai Perantara Punya Momongan

Bojonegoro, Maret 2020. Foto: Adin (Dok. Progress)

Malam Minggu adalah malam yang dinanti bagi para pemuda untuk dinikmati dengan penuh kisah dan kegembiraan. Entah dengan pasangan atau (bagi para jomblo) dengan teman-teman komunitas dengan, misalnya, ngopi bareng.

Malam Minggu beberapa waktu lalu ada beberapa Jamaah Bangbang Wetan yang mengajak saya ngopi bareng. Ada istilah bareng-nya karena memang terkandung di dalamnya perasaan sedang merindukan Maiyahan, Sinau Bareng. Maka ngopi bareng-lah yang menjadi obat pelepas rindu kita terhadap Maiyahan.

Ngopi bareng yang tempat dan waktunya sudah disepakati melalui GWA itu dihadiri tak lebih dari lima orang.

Kami saling berkenalan, menyatukan frekuensi, dan setelah suasana sudah cair dalam kebersamaan, kami lanjutkan untuk saling berbagi cerita pengalaman dan kisah selama Maiyahan.

Dari berbagai kisah dan pengalaman selama Maiyahan yang kami ceritakan malam itu, ada kisah dari Mas Guntur yang menarik.

Mas Guntur adalah Jamaah Bangbang Wetan, yang sebelumnya adalah Jamaah Kenduri Cinta. Dia arek Suroboyo yang dulu bekerja di Jakarta. Dia pertama kenal Maiyah dari Kenduri Cinta. Dari sanalah dia merasa menemukan sabana yang menyegarkan pikiran dan menenangkan hati di tengah pengapnya udara perkotaan.

Pada akhirnya entah ada masalah apa dengan pekerjaannya di Jakarta, dia memutuskan pulang ke kampung halamannya, Surabaya. Bekerja di Surabaya, dan bergabung serta melanjutkan kegembiraan Maiyahan di Bangbang Wetan.

Latar belakang arek bonek-lah ang membuat Mas Guntur mengalami hal unik selama bermaiyah. Dia bercerita bahwa dia merasakan dan mengalami barokah Maiyah di mana Maiyah menjadi jalan bagi datangnya jawaban atas apa yang sedang dia butuhkan kala itu.

Satu kisah ia ceritakan, ketika dulu sudah memasuki usia pernikahan hampir dua tahun dan belum diberikan momongan oleh Allah, situasi ini membuatnya tertekan dan menjadi beban psikologi bagi diri beserta istrinya. Apalagi teman, saudara, dan keluarga tak jarang menanyakan perkembangan istrinya apakah sudah ada tanda-tanda mendapat momongan atau belum.

Dengan beban yang menyumpekkan kala itu, dia dan sang istri datang ke Kenduri Cinta dengan niat kepada Allah semoga mendapat jawaban atas apa yang sedang dialaminya. Lha kok ndilalah waktu itu ada jamaah yang menanyakan hal yang sama, mengenai persoalan momongan ini. Maka dari sekian yang telah disampaikan Mbah Nun malam itu, yang menjadi perhatian Mas Guntur adalah pada momentum ketika jamaah itu menanyakan kepada Mbah Nun perihal istrinya yang tak kunjung hamil dan jawaban Mbah Nun atas pertanyaan jamaah tersebut.

Waktu itu Mbah Nun merespons dengan menyarankan kepada jamaah yang bertanya itu untuk setiap kali bertemu anak kecil, meminta izin kepada ibunya untuk menggendongnuya, atau membelikan sesuatu, sebagai wujud kasih-sayang kepada anak. Dengan maksud untuk juga meyakinkan Allah bahwa diri kita memang sudah pantas dititipi anak.

Sepulang dari Maiyahan, jawaban tersebut langsung Mas Guntur praktikkan tanpa mikir panjang. Setiap dia bertemu anak kecil selalu dia membelikannya jajan atau ice cream, terkadang juga menggendong anak kecil dan keponakannya. Selang beberapa bulan dia dan istri mendapat jawaban yang menggembirakan. Bahwa yang dikeluhkannya telah dijawab oleh Allah dengan pertanda istrinya hamil.

Betapa bahagianya Mas Guntur dan istrinya mendapat kepercayaan dititipi anak, juga betapa sangat bersyukurnya diriya karena sudah dipertemukan dengan Maiyah yang menjadi washilah atau perantara.

Itulah salah satu cerita dan pengalaman yang saya dapatkan dari ngopi bareng di malam Minggu itu, dan saya tahadduts binni’mah-kan lewat tulisan ini.

Buku dan Merchandise