Maiyah Sabrang dan Rampak: Antara Kecerdasan Rasio dan Kecerdasan Rasa

Cak Nun pernah mengirim satu audio ke wa saya. Ternyata rekaman suara menyanyi Rampak, anaknya yang saat itu masih SD. Bagi saya mengejutkan, sebab Rampak tidak menyanyikan lagu kanak-kanak, melainkan lagu Barat, berat untuk ukuran penyanyi dewasa seumumnya, apalagi bagi kanak-kanak seusia Rampak. Lagu “What A Wonderful World”, yang dinyanyikan dedengkot jazz hitam gaek Louis Armstrong pada 1967.

Lagu yang dinyanyikan Louis dengan suara serak berat, ditembangkan Rampak jadi melantun lepas. Tapi saya mendengarkannya, tidak seperti suara kanak-kanak belajar menyanyi. Tetap ada rasa — estetika, taksu, entah apalah istilahnya yang menghidupkan lagu itu. Bukan sekadar soal bahasa — English atau misalnya ada terjemahan subtitle Indonesianya, apalagi saya buta English. Bukan sekadar tekstual, tapi ada komunikasi rasa yang kena, menyentuh, klik sebagai seni (suara) itu, yang Rendra menyebutnya: tegursapa antara sukma dan sukma.

Dalam hati saya bilang, menggunakan sesanti Sujiwo Tejo, “Jancuk..!” Betapa untuk mencapai klik atau taksu itu, seorang seniman paling mumpuni mesti telah melewati pengalaman bertahun-tahun, berkeringat bahkan berdarah-darah. Lalu pengalaman Rampak ini dari mana, bocah masih ingusan, masih bau bawang, yang kalau mau bobok mungkin masih minta dikeloni ibunya atau didongengi ayahnya.

Saya judeg, saya kehabisan ilmu untuk menyelidik misteri Rampak sampai kemungkinan paling tidak mungkin. Mungkinkah ini soal infinity, invinita kembar, atau dalam Jawa secara biologis disebut kakang kawah adi ari-ari, secara spiritual dibilang ketungguan, secara sukma ada yang menunggui, entah nenek-moyangnya yang mana. Hahaha..baiklah, merdekakan saja imajinasi kita, asal bukan ilusi apalagi delusi.

Sebelum Rampak, saya pernah diperdengarkan satu album. Kalau tidak salah sewaktu masih “promo” album rekaman lagu-lagu Letto. Diperdengarkan di dalam mobil, seusai Cak Nun dan Mbak Via mengajak makan malam tempe penyet di Jl Solo Yogya. Di dalam mobil, saya di sebelah sopir, di belakang kami Cak Nun dan Mbak Via. Lagu-lagu Letto mengalun bening dan lembut dengan suara Sabrang, anak pertama Cak Nun, yang dalam komposisi musiknya terasa cerdas — tidak seperti kebanyakan lagu pop Indonesia yang semanis permen. Pun syairnya lebih terasa puitis, ketimbang sekadar kata-kata manis lebay.

Bagi saya Letto telah menemukan satu konsep berdasar pengalaman kelompok. Bahwa, ada dua pengalaman, pengalaman alam dan pengalaman intelektual. Menurut saya pengalaman Letto lebih memberat ke pengalaman intelektual. “Cerdas iki Cak, suarane Sabrang,” kata saya. Pada gilirannya Sabrang Mawa Damar Panuluh dikenal dengan nama artis: Noe.

Merupakan pengalaman sebagaimana kreativitas dunia manusia modern, yang merupakan integralisasi kreativitas konseptual dan kreativitas sosial. Kreativitas konseptual berpuncak pada ilmu-seni-filsafat, kreativitas sosial dipuncaki politik. Jadi syarat kreatif seorang seniman (modern) mesti menguasai berbagai ilmu tadi. Tak terkecuali bagi perupa, aktor, musisi. Walau musisi misalnya, medianya suara. Hasilnya, Letto, yang saya bilang cerdas itu.

Saya pernah terlibat pembicaraan antara Sabrang dan Anis Sholeh Ba’asyin sebelum Maiyahan Gambang Syafaat Semarang, tentang “atmosfer” kecerdasan. Bahwa kira-kira, pertanyaan: siapa yang menggerakkan gerak-hidup manusia. Benarkah sekadar otak dan semua syaraf dalam diri manusia. Atau, ada atmosfer di luar kemungkinan itu, sebagaimana saat orang bermain musik. Benarkah itu sekadar perintah otak, ilmu, dan teknik. Tentulah, misalnya, saat Noe menyanyi semua itu sudah tidak terpikirkan, sebab kalau masih, tentulah akan serupa robot yang menyanyi. Lalu dari mana pusat kendali itu, dari atmosfer mana.

Saya kira, fenomena Maiyah bisa dilihat dari dunia Rampak dan dunia Sabrang. Taruhlah kalau kita menilik kreativitas KiaiKanjeng, dari mana bisa tercipta musik gamelan yang nada dan komposisinya, termasuk alat serta cara membunyikannya, tidak selazim seumumnya gamelan Jawa. Kemudian lagu-lagu ciptaan Nevi Budianto, terutama yang sakral klasik puitis orkestrais. Dari mana tercipta dari seorang yang katakanlah otodidak. Saya tidak boleh membandingkan atau menyamakan dengan Deep Purple atau Queens, sebab masing-masing punya jiwa tapi rasanya KiaiKanjeng dalam lagu-lagu Nevi ada dalam atmosfer yang sama.

Katakanlah, Nevi KiaiKanjeng ada dalam dunia Rampak dengan kecerdasan rasa. Tapi mengapa Letto yang punya kecerdasan rasio juga ada dalam atmosfer yang sama. Bukankah seringkali, kecerdasan rasa dan kecerdasan rasio tidak bisa bertemu. Rampak akan bingung menghadapi Sabrang. Juga Sabrang akan pusing menghadapi Rampak. Bagaimana Letto bisa memahami proses penciptaan Nevi KiaiKanjeng, dan sebaliknya bagaimana Nevi bisa memahami proses kreatif Letto.

Saya pikir dua dunia itulah yang merupakan formula dari kenyataan Maiyah, dari simpul ke simpul, dari jamaah ke jamaah, dan keduanya merupakan dunia komplit. Cak Nun dan KiaiKanjeng memberikan pemenuhan dua dunia itu, walau tidak mungkin. Bagaimana Rampak dan Sabrang bisa saling kompromi. Bagaimana dua dunia itu bisa menyatu dalam papan tulis — sebagaimana teori Sabrang — bukan semata lingkaran kapur dalam papan tulis. Bisakah bahkan meruang, mensemesta dalam maiyah persaudaraan.

Bisa, jawabannya ada pada Cak Nun, “Iso wae, Ek.”

“Tapi aku luwih condong neng Rampak, Cak.”

“Piye piye,” tanya Cak Nun seperti penasaran.

“Misale aku meh tekok soal Corona,” sahut saya, “Aku ora meh tekok mbek sampeyan opo maneh Sabrang, aku pilih tekok mbek Rampak.”

“Lha nopo?”

Cetus saya yakin, “Mergo Rampak luwih cedak Allah….”

Buku Cak Nun Majalah Sabana