Mahabbah, Ghirrah serta Dzauq Silaturahmi di Tengah Pandemi

Sabtu, 31 Oktober 2020 adalah hari yang membahagiakan bagi Hanan Farhana Sani puteri almarhum Syaikh Nursamad Kamba yang dinikahi oleh Weldi Rozika. Mbah Nun dan Bu Via hadir dalam acara akad nikah yang dihelat di sebuah hotel di bilangan Jakarta Timur. Mbah Nun dan Mas Sudjiwo Tejo diminta menjadi saksi pernikahan oleh pihak keluarga, sementara Gus Mus menyampaikan ular-ular. Mbah Nun, Mas Sudjiwo Tejo, dan Gus Mus memang sahabat Syaikh Nursamad Kamba, acara pernikahan Hanan dengan Weldi kemarin seperti menjadi momen reuni para sahabat Syeikh Nursamad Kamba. Beberapa teman penggiat Kenduri Cinta pun turut hadir menyaksikan Mitsaqon Ghalidza kemarin pagi.

Sore harinya, menjelang maghrib teman-teman Kenduri Cinta secara spontan berkumpul bersama Mbah Nun di kediaman Mas Novem, kakak dari Bu Via. Bertemu, berkumpul, bersilaturahmi, bukan hanya sekadar melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Cangkrukan santai, ngopi, dan nyemil-nyemil sembari ngobrol. Sembari ngobrol dan menikmati kopi, beberapa penggiat Kenduri Cinta umek mempersiapkan beberapa peralatan seperti wifi router, TV, webcam dan lain sebagainya. Malam harinya, Mbah Nun memang diminta teman-teman Mafaza untuk turut bergabung dalam diskusi daring. Sebelum diskusi daring dimulai, bersama Mbah Nun teman-teman penggiat Kenduri Cinta menikmati makan malam yang memang juga sudah disiapkan sendiri sejak sore.

Selain Mbah Nun, bergabung juga dalam acara tersebut Yai Toto Rahardjo dari kediamannya di SALAM Yogyakarta, Mas Sabrang juga bergabung dari rumahnya di Timoho Yogyakarta. Selain itu juga Risky Dwi Rahmawan dari Koordinator Simpul, kemudian Rony K. Pratama dari redaksi Caknun.com. Teman-teman Mafaza pun tidak berkumpul dalam satu lokasi, ada yang dari Jerman, Amsterdam dan juga ada yang sedang berada di Indonesia.

Di awal, Mbah Nun mencuplik sebuah surat dari Al Qur`an, yaitu Surat Al Anfal ayat 65. Dalam ayat tersebut Allah memberi kunci perjuangan bagi orang mukmin adalah bersabar. Mbah Nun menjelaskan bahwa orang mukmin itu bukan hanya sekadar orang yang beriman, tetapi juga orang yang mengamankan. Sudah sangat kita pahami, rumus keamanan yang selalu disampaikan oleh Mbah Nun yang diteladani dari Rasulullah Saw bahwa tugas seorang mukmin adalah mengamankan setidaknya tiga hal dari orang-orang di sekelilingnya; nyawa, martabat dan harta.

Ahmad Karim, seorang penggiat Mafaza yang sedang menyelesaikan pendidikan di Amsterdam melihat bahwa fenomena Maiyah adalah sebuah peristiwa yang bisa dikatakan sebagai sebuah keajaiban. Sebuah komunitas yang tanpa organisasi padat namun mampu menghadirkan keamanan bagi setiap orang yang bersentuhan dengan Maiyah.

Seharusnya, momen pertemuan semalam dilaksanakan dalam sebuah acara simposium yang digagas teman-teman Mafaza untuk dilangsungkan di Amsterdam. Namun karena kondisi pandemi Covid-19 ini tidak memungkinkan agenda tersebut terlaksana secara offline. Mbah Nun mengungkapkan kebahagiaan sekaligus rasa syukur bahwa Maiyah juga mampu menjangkau teman-teman di Eropa yang terkumpul dalam Mafaza ini.

“Apakah Maiyah ini akan menyumbangkan sebuah perubahan terhadap peradaban manusia? Saya hanya menggunakan rumus Allah; Innallaha laa yughayyiru maa biqoumin hatta yughoyyiru maa bianfusihim”, Mbah Nun menyampaikan. Sebuah ayat yang disitir oleh Mbah Nun sudah menjadi tema lama di Maiyahan. Yang sering dipahami oleh kita adalah bahwa kita sebagai manusia memiliki hak untuk melakukan perubahan atas hidup (nasib) kita sendiri. Padahal, sejatinya Allah jualah yang memiliki hak prerogatif lebih utama dalam melangsungkan perubahan itu.

Seperti halnya petani yang tugas utamanya adalah menanam benih. Selebihnya, ia hanya berjuang untuk merawat benih yang ia tanam. Sama sekali ia tidak mampu memastikan apakah benih itu akan tumbuh dan berbuah, kemudian panen pada waktu yang ia rencanakan. Sama sekali tidak. Allah jua yang memiliki hak untuk memastikan apakah benih yang ditanam itu akan tumbuh, berkembang kemudian berbuah dan panen. Begitulah juga perjuangan Maiyah. Sebanyak mungkin teman-teman Jamaah Maiyah di berbagai penjuru dunia, sama sekali tidak mungkin mampu memastikan apakah kita semua memiliki hak untuk mengubah peradaban yang ada saat ini.

Di awal Mbah Nun mengutip Surat Al-Anfal ayat 65, bahwa orang mukmin yang bersabar sejumlah 20 akan mampu mengalahkan orang kafir yang berjumlah 200. Mbah Nun memiliki pandangan bahwa sebaiknya kita tidak berandai-andai memiliki kekuatan yang lebih besar dari 20 orang mukmin yang bersabar itu. Bahkan, jika memang kita hanya memiliki kekuatan 20% dari 20 orang mukmin itu pun tidak masalah.

Terkadang, kita lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Mbah Nun lebih menitikberatkan kualitas. Tidak masalah bahkan mungkin kita sebagai Jamaah Maiyah hanya berjumlah 20% dari 20% orang mukmin yang bersabar di seluruh dunia, mungkin, asalkan kita semua istiqomah untuk terus menanam dan menanam, terus berkhusnudzon terhadap segala kehendak Allah, itu sudah lebih dari cukup. Apakah perubahan akan terjadi atau tidak, kita sama sekali bukanlah pihak yang memastikan itu semua.

Mbah Nun menyampaikan, apa yang terjadi akhir-akhir ini pada faktanya sama sekali tidak melahirkan perubahan apapun yang sangat mendasar dari kehidupan manusia. Yang terjadi hanyalah adaptasi dari sesuatu yang muncul, namun manusia kembali menjadi manusia yang seperti sebelumnya ketika pandemi Covid-19 ini belum ada.

Stand by terhadap keajaiban Allah

Mbah Nun kemudian juga mengutip Surat Al-A’raf ayat 172. Salah satu yang ditekankan oleh Mbah Nun adalah sikap tauhid. Bahwa persaksian diri terhadap Allah Swt bukan sekadar kalimat syahadat semata, namun juga laku hidup. Sikap tauhid ini menjadi penguat dari sikap tafaqquh yang ditekankan pada Surat Al-Anfal ayat 65 tadi. Mbah Nun menyampaikan bahwa kita sebagai manusia harus sungguh-sungguh dalam berjuang. Perjalanan Maiyah yang sudah memasuki dekade ketiga, salah satunya ditandai dengan perjalanan 27 tahun Padhangmbulan adalah bukti bahwa kita semua di Maiyah sedang melakuan perjuangan yang serius dan sungguh-sungguh.

Maka Mbah Nun beberapa waktu yang lalu menulis Esai di caknun.com yang merupakan bekal kesekian yang diberikan oleh Mbah Nun kepada kita. Bekal “Manifestasi Keajaiban” yang didalamnya terdapat Doa Nadi ‘Aliyyan Kabir yang bisa diamalkan teman-teman Jamaah Maiyah di seluruh dunia. Mbah Nun memberi tuntunan agar doa tersebut dibaca 9 kali setiap setelah sholat Wajib maupun Sunnah, dengan diawali 9 kali kalimat istighfar, 9 kali sholawat. Dan juga, doa tersebut diharapkan oleh Mbah Nun untuk dibaca pada setiap awal Maiyahan di setiap Simpul Maiyah.

Mbah Nun kemudian merefleksikan kondisi dan situasi peradaban manusia saat ini (di luar Covid-19), pada tahun 1970-an, Mbah Nun menulis buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya. Buku yang ternyata bagi banyak orang masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi peradaban manusia hari ini.

Pada saat yang bersamaan, Padhangmbulan di Menturo mensyukuri perjalanan ke-27 tahun. Bukan sebuah pencapaian mengenai jumlah durasi keberlangsungan Maiyahan di Padhangmbulan itu melainkan ungkapan syukur dan kegembiraan menikmati proses perjalanan. Malam kemarin Mbah Fuad bersama penggiat Padhangmbulan berkumpul di Menturo.

Mbah Nun semalam kembali menyampaikan bahwa Maiyah merupakan hadiah dari Allah yang tidak pernah sekalipun diminta oleh Mbah Nun. Bagi Mbah Nun, Maiyah ini hidayah sekaligus hadiah. Kondisi sosial peradaban manusia di dunia saat ini tidak bisa diperbaiki hanya dengan usaha manusia, melainkan justru yang utama adalah keajaiban dari Allah.

Mafaza, Mbah Nun mengambil dari Surat An-Naba’ ayat 31; Inna li-l-muttaqiina mafaza. Harapan Mbah Nun, teman-teman Mafaza dan juga Jamaah Maiyah memiliki spirit al muttaqin yaitu orang-orang yang bertaqwa seperti yang termaktub di dalam ayat tersebut. Kembali, Mbah Nun menjelaskan bahwa kata taqwa di Maiyah dipahami sebagai waspada. Maka, kita diharapkan menjadi orang-orang yang selalu waspada sehingga kelak kita akan benar-benar merasakan apa yang disebutkan oleh Allah berupa Mafaza di dalam ayat tersebut. “Termasuk sabar tadi adalah bagian dari kewaspadaan. Kenapa saya harus sabar, karena saya selalu waspada terhadap kemungkinan. Bahkan terhadap kepastian pun kita harus waspada”, Mbah Nun menambahkan.

Mas Reiza dari Putera JayaMalaysia juga bergabung serta turut menyapa teman-teman yang bergabung.

Sementara itu, Mas Sabrang menyampaikan bahwa kita membutuhkan langkah dan proses perjuangan yang panjang untuk mencapai cita-cita kesadaran yang tinggi dan universal. Mas Sabrang mencontohkan, kesadaran manusia saat ini dalam beragama misalnya lebih cenderung menggunakan aksioma sains. Hal ini yang menurut Mas Sabrang tidak tepat. Ketika berbicara mengenai Agama, yang ditekankan bukan mengenai “Apa dalilnya” terlebih dahulu.

Dalam agama Islam misalnya, ada matriks hukum 5; wajib, sunnah, halal (mubah), makruh dan haram. Matriks hukum lima ini sebenarnya menjadi bekal yang cukup baik bagi manusia untuk beragama. Pada setiap persoalan tidak melulu hanya persoalan benar atau salah, ada kadar tertentu yang juga harus dipertimbangkan. Menurut Mas Sabrang, manusia untuk menjadi manusia yang sejati itu tidak dicetak, melainkan ditumbuhkan sebagai manusia itu sendiri.

Mas Sabrang mengibaratkan bahwa Maiyah adalah media tanam. “Apapun yang terjadi, Maiyah sebagai media tanam dan tanaman bisa datang silih berganti. Media tanam bisa apapun saja. Nah, peran Maiyah adalah menyediakan wahana atau media tanam itu tadi”, pungkas Mas Sabrang.

Seperti yang diungkapkan oleh Mas Sabrang sebelumnya mengenai pertanyaan khalayak masyarakat mengenai keterlibatan Maiyah, Yai Toto Rahardjo mengungkapkan ada beberapa feedback dari video yang dirilis oleh Progress bahwa terkesan Maiyah sedang menuju padatan. Sehingga muncul istilah; “Wah Maiyah sudah akan turung gunung nih..”, seakan-akan selama ini yang dilakukan oleh Maiyah adalah sesuatu yang berada di puncak gunung. Keresahan ini diakui oleh Yai Toto Rahardjo sebenarnya juga muncul di dalam pergerakan sosial lainnya. Ternyata ada paradigma yang berubah di mata masyarakat, bahwa aksi “turun gunung” itu baru dianggap sebuah aksi apabila mereka mendapat manfaatnya, jika tidak maka tidak dianggap sebagai sebuah aksi.

Memang menjadi sesuatu yang tricky, diungkapkan oleh Yai Toto Rahardjo, Maiyah tidak mungkin akan menjadi sebuah gerakan padat seperti 212 misalnya untuk bergerak memobilisasi massa, justru yang menjadi tantangan sekaligus perjuangannya adalah bagaimana teman-teman Maiyah di setiap Simpul Maiyah menjadi agen perubahan dengan perannya masing-masing. Tidak menjadi sebuah gerakan yang seragam, tetapi tetap memberi manfaat bagi manusia di sekitarnya dengan memaksimalkan potensinya masing-masing.

Pada kesempatan ini, teman-teman Mafaza selain menyampaikan rencana untuk menyelenggarakan sebuah simposium juga menyampaikan rencana akan menulis buku yang berisi tulisan-tulisan dari para penggiat Mafaza. Tulisan-tulisan tersebut diharapkan menjadi sumbangsih dari teman-teman Mafaza.

Mbah Nun kemudian merespons, bahwa semua Jamaah Maiyah memiliki kebebasan untuk membuktikan diri dalam beraktualisasi di masyarakat untuk menjadi apapun saja, menjadi bagian yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Jika memang harus menjadi Lurah, jadilah Lurah. Jika memang menjadi Bupati, anggota DPR bahkan Presiden sekalipun tidak ada larangan sama sekali. Tetapi tidak kemudian diartikan bahwa Maiyah akan menyodorkan calon-calon pemimpin. Seperti yang diungkapkan Mas Sabrang sebelumnya, Maiyah hanyalah sebuah media tanah yang bisa ditumbuhi oleh tanaman yang mana saja untuk tumbuh dan berkembang.

Mbah Nun menyampaikan, bahwa kita tidak perlu muluk-muluk untuk memaksakan diri menghadirkan perubahan dalam peradaban manusia hari ini, karena yang paling mampu menghadirkan perubahan itu hanya keajaiban yang datang dari Allah.

Di akhir acara, Mbah Nun kembali berpesan kepada teman-teman yang bergabung dalam diskusi daring, dan juga teman-teman penggiat Kenduri Cinta khususnya untuk mengamalkan Ijazah Madhharal Aja’ib yang dituliskan oleh Mbah Nun dalam Esai “Manifestasi Keajaiban”. Setiap ba’da shalat wajib, juga shalat sunnah, agar membaca Istighfar sebanyak 9X kemudian Shalawat (seperti dalam Tahiyat) sebanyak 9X, kemudian membaca 9X doa Nadi ‘Aliyyan Kabir. Ditambah shalat malam sebanyak-banyaknya dengan wirid yang sana. Juga setiap memulai Maiyahan di Simpul-simpul dan Lingkar juga afdhal diawali dengan wirid yang sama.

Menjelang pukul 12 malam, diskusi daring dipungkasi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Afif Amrullah, penggiat Kenduri Cinta. Pertemuan secara daring dengan teman-teman Mafaza dan juga beberapa penggiat Simpul Maiyah semalam berlangsung sangat cair. Meskipun terpisah ruang, jarak dan waktu namun sama sekali tidak mengurangi kegembiaraan bersilaturahmi.

Lainnya

Buku dan Merchandise