Mafaza dan Diskursus Baru Tentang Timur-Barat Peradaban

Setahun lebih hidup di Arnhem, Ibu kota provinsi Gelderland, saksi bisu operasi Market Garden dengan jejak operasi penerjun payung terbesar dalam sejarah Perang Dunia II, mungkin tidak terlalu kuat menyisakan rasa, aroma, nuansa, dan logika Barat yang sempat terekam dalam memori ke-Timur-an saya. Namun yang pasti, pertemuan itu menyisakan dialog kultural, percakapan emosional, dan terutama dialektika rasional dan spiritual yang hanya bisa didapatkan dengan mengalaminya sendiri; ilmu laku.

Tulisan ini merupakan refleksi penulis setelah melalui pendidikan pascasarjana di Belanda sembari tanpa disengaja aktif menjadi bagian dari penggiat Mafaza Maiyah Eropa. Ibu Nadloh As Sariroh, Adik kandung Mbah Nun, yang akrab disapa Bik Roh, yang juga merupakan mentor sekaligus panutan penulis, berjasa mengenalkan saya pada simpul Mafaza ini begitu menapakkan kaki di Belanda.

Pada Agustus lalu, pertahanan hati penulis runtuh ketika Mbah Nun membuatkan tulisan khusus pada ulang tahun pertama Mafaza lalu bertajuk Revolusi Hulu Hilir. Jelas, tajuk tersebut mampu memantik kawan-kawan Mafaza untuk merefleksikan diri, termasuk melalui “Grand Prix Merde-kah?”-nya Mas Karim penggemar Valentino Rossi yang membawa logika MotoGP senada dengan pesan Mbah Nun soal pusat mata air peradaban modern.

Revolusi Hulu-Hilir Mbah Nun bagi penulis pribadi seperti membawa dengan kuat napas Orientalisme, karya monumental Edward W Said yang membuka lebar diskursus soal pengetahuan Timur dan Barat dalam skala yang luar biasa. Perlu dicatat, diskursus ini membuka mata orang-orang Barat yang sekian abad memandang Timur sebagai objek yang eksotis, layak dikagumi, unik, namun pada dasarnya hanya sebagai kamulflase atas kaca mata skala the First World countries yang mereka ciptakan sendiri.

Timur, dan Selatan, memang eksotis, nilai pemaknaannya benar-benar jujur dan objektif, bukan dalih geopolitik dan sekadar perkara modes of capitalism yang dengan segala macam cara digemborkan untuk menopang peradaban dunia yang lebih maju. Singkatnya, perhitungan apapun dengan tujuan mendukung akselerasi modernitas dalam perspektif Barat harus ada kutub pembandingnya, dan paling mudah dicerna akal sebanyak mungkin orang adalah idiom eksotisme macam itu, yang dalam istilah lebih popular dikenal dengan the Third World countries.

Simpul Mafaza ini masih sangat muda, minim pengalaman, penggiatnya terbatas, anggotanya cuma puluhan namun tersebar ke seantero penjuru Eropa sehingga, Sinau Bareng yang digelar terkesan sporadis terbatas jarak geografis lintas negara. Namun, Mbah Nun menyebutkan produk ijtihad para pelaku Mafaza mungkin memiliki akurasi, presisi dan kompatibilitas tersendiri karena diasah langsung oleh dialektika selama berkarya di Eropa. Harus penulis akui, mungkin tidak mewakili seluruh anggota Mafaza, namun anasir Mbah Nun tersebut membesarkan hati sekaligus meninggalkan beban moral yang tidak ringan di pundak kami.

Selama di Belanda penulis menempuh studi master di bidang Food and Nutrition Security di Van Hall Larenstein University of Applied Science. Pada masa-masa awal, penulis masih mengagumi berbagai teknologi dan alat termutakhir yang mampu mendongkrak produk pertanian. Aneka tools dan metodologi tersebut yang kemudian membawa Belanda menjadi pengekspor produk pangan dan pertanian terbesar kedua di dunia, hanya kalah oleh Amerika Serikat.

Tolong bayangkan, sebuah negeri seluas separo Provinsi Sumatera Selatan, dengan 18% persen wilayah berupa perairan, itu pun yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian hanya sepertiga daratannya. Secara klimatologis Belanda hanya dapat bertani maksimal 4 bulan selama musim panas. Selebihnya, karena memiliki empat musim, mereka bergantung pada teknologi greenhouse pada tiga musim yang lain. Lebih unik lagi 20 persen daratan berada di bawah permukaan air laut, serta 50% wilayahnya hanya satu meter di bawah permukaan laut. Kalau permukaan air laut dunia naik satu meter saja, Arnhem tempat saya tinggal mungkin adalah pesisir laut, dan Amsterdam sudah pasti tenggelam menjadi dasar lautan.

Jika kaum urban Indonesia berlomba memiliki apartemen dan perkantoran tinggi bertingkat, penduduk kampung negeri kincir angin ini efektif menciptakan teknologi pertanian greenhouse bertingkat yang menopang kebutuhan pangan eropa dan dunia, juga sebagai destinasi wisata, sekaligus industri ramah lingkungan yang berkelanjutan, banyak di antaranya yang sepenuhnya bebas pestisida dan pupuk kimiawi. Dan ini hanya secuil dari gambaran kreativitas melawan tantangan keterbatasan alam oleh penduduk negeri yang tiga abad lebih dikayakan oleh Nusantara itu.

Mafaza bisa jadi memiliki privilege berupa berkah untuk ngonceki dan nithili hasil peradaban manusia terbaru yang mampu menunjang kehidupan untuk menjadi lebih baik. Namun, untuk menuju penghayatan sejati atas kalimat hayya ‘ alas-shalah, hayya ‘alal-falah adalah hal yang sama sekali berbeda. Kemerdekaan dan kemenangan sejati tentu saja bukan sekadar materialisme murni atau efektivitas industrialisasi dan modernitas yang menuju kemegahan semu bernama kapitalisme. Dalam tulisan yang sama Mbah Nun menjelaskan bahwa kemenangan sejati berada di rentangan yang tidak mungkin dipahami dan diolah dengan pengetahuan dan ilmu saja. Penalaran akal pikiran menitipkannya kepada iman, taqwa dan tawakkal, tiga kosakata asing dalam logika Barat.

Dalam dunia pertanian dan peternakan, Belanda, dan lumrahnya negara-negara Eropa sudah dalam level di mana negara berusaha untuk menekan produk pertanian dengan kebijakan progresif. Petani di sana terlalu maju sehingga kelebihan jumlah hasil panen sudah dalam skala menakutkan bagi pasar dan pemerintah mereka sendiri. Kelompok atau private farm dengan tingkat produksi yang melebihi batasan atas harus dibentengi dengan pajak yang lebih tinggi. Berdasarkan pengamatan penulis output tersebut tidak mengherankan. Mereka memiliki konsep peternakan yang levelnya sudah “memanjakan dan memuliakan” hewan sehingga produk dairy yang dihasilkan bisa optimal. Belanda juga memiliki pertanian ultra presisi yang minim energi terbuang dan sangat efisien dalam segala aspek praktikal. Ini semua adalah sebuah paradoks jika dbandingkan dengan sebuah negeri di Timur jauh yang justru dikenal dengan sejarah kebesaran negara agrarisnya.

Dengan etos Jowo digowo, Arab digarab, dan Barat diruwat, secara pribadi penulis akhirnya mendudukkan dua hal itu, kepekaan Timur dan ketajaman Barat, dalam tesis di akhir studi. Penulis meneliti aplikasi sistem kalender pertanian tradisional Jawa; pranata mangsa, di tengah krisis iklim dan krisis birokrasi yang terjadi belakangan ini. Bayangkan nun jauh di Timur, kita masih berkutat dengan probematika birokrasi dan administrasi pemerintahan yang dalam bahasa salah satu Indonesianis kenamaan asal Amerika, Ruth T. McVey (1982) disebut sebagai ciri-ciri Beamtenstaat, tanpa pandangan jangka panjang yang lebih besar dan strategis sesuai dengan karakter dan kebutuhan di Nusantara.

Sebagai warga mungkin kita berhak kaget bagaimana bisa dengan segala anekdot, kontradiksi, dan kelucuannya ini, kita masih mampu bertahan sebagai negara selama lebih dari 75 tahun. Sementara kita memiliki warisan pengetahuan luhur yang membuat orang Barat cuma bisa geleng-geleng kepala dan para sarjananya menjadi ilmuan termashur setelah meneliti setiap jengkal bagian Nusantara. Bagaimana mungkin keberadaan belalang atau laron atau tunas bambu, mampu menjadi pertanda bagi petani nusantara untuk megetahui perubahan musim. Jawabannya mungkin saja, di Jawa kita sudah mempraktikkannya sejak ratusan tahun yang lalu.

Lebih dari segala kemegahan Barat tersebut, Maiyah menjadi semacam filter untuk ojo gumunan akan masa kini dan bayangan masa depan, memuat berbagai macam revolusi pandangan hidup yang tetap menghargai tradisi dan masa lalu, melatih radikalitas intelektual dan spiritual, dan membangun hubungan timbal-balik antarelemen yang dianggap bertolak belakang. Maiyah mengeksplorasi kemungkinan cakrawala baru pandangan hidup bagi masa depan seluruh umat manusia. Dalam Revolusi Hulu-Hilir Mbah Nun menyebutkan, “Maiyah menawarkan jawaban dan solusi baru untuk hati manusia, untuk alam pikiran manusia, untuk psikologi dan mentalitasnya, serta untuk keseluruhan perilaku budaya dan peradabannya.” Di rentang itulah Maiyah melakukan revolusi pandangan hidup dengan berbagai kacamata sudut pandang yang berbeda baik dari individu maupun kolektif.

Banyak hasil riset menunjukkan bahwa krisis perubahan iklim harus didedah menggunakan pendekatan yang selokal mungkin, bukan kemutakhiran teknologi yang dibuat jauh dari konteks lokalnya. Berbagai disiplin ilmu Barat pun mengamini hal tersebut dan bisa jadi memutar balik hegemoni ilmu pengetahuan modern. Secara pribadi penulis yakin khasanah pengetahuan lokal nusantara adalah mutiara-mutiara terpendam yang bisa dielaborasikan sejalan bersamaan dengan pendekatan pengetahuan saintifik. Tulisan ini hanyalah awal diskusi satu meja antara Timur dan Barat, Selatan dan Utara. Maiyah adalah embrio sumbangan tunas optimisme bagi bangsa Indonesia. Melalui Mafaza, rekan-rekan di benua biru berikhtiar dan bertawakkal di bidangnya masing-masing untuk “menjadi manusia”.

Mafaza berencana menuliskan pengalaman-pengalaman tersebut dalam buku kecil yang semoga mampu mengabadikan bagimana para penggiatnya bergulat dan berdialektika dengan laboratorium, para ilmuwan tersohor, jurnal, keluarga Eropa, toko, kantor, hingga warungnya masing-masing. Kumpulan pengalaman itu semoga menjadi pengganti rencana kehadiran Mbah Nun dan Kyai Kanjeng yang sempat kami ikhtiarkan dan jadwalkan di Oktober tahun ini di Amsterdam, namun harus kami ikhlaskan karena pandemik Covid-19.

Akhirnya, kami mohon doa dari Mbah Nun dan semua sedulur Maiyah untuk ikhtiar kecil itu. Semoga dapat menjadi cerminan bagaimana kami berproses di sini dan meninggalkan warisan jejak sejarah bagi komunitas ini, anak-cucu kami kelak, dan mungkin masyarakat yang lebih luas, atau setidaknya bagi disiplin ilmu dan aktivitas rutin kami masing-masing di benua Biru.

Bait puisi Mbah Nun yang dikolaborasikan dengan Kotak dalam lagu Manusia Manusiawi ini adalah elaborasi dialektika atas firman Tuhan “Dan berjalanlah kamu di muka bumi, dan lihatlah kebesaran Tuhanmu”. Sebuah pesan kuat bagi teman-teman maiyah di manapun, tidak hanya di Eropa, belahan bumi lainnya atau juga rekan-rekan di Indonesia.

Manusia mengembarai langit
Manusia menyusuri cakrawala
Tidak untuk menguasainya
Melainkan untuk menguji dirinya
Apakah dia bertahan Menjadi manusia
Tidak untuk hebat, kuasa, atau perkasa
Melainkan untuk setia sebagai manusia

Amsterdam, 2 Oktober 2020

Buku dan Merchandise