Macan Kok Nyari Motivasi

Gajah Masuk Desa

Dari Mocopat Syafaat 17 Januari 2020 saya mencatat satu petikan peristiwa yang menurut saya menarik. Saya mulai dari cerita Mas Fauzi yang memandu segmen awal. Dia bercerita seputar kondisi karut-marut saat ini melalui permisalan ada seekor gajah yang akan merusak sebuah desa dan ada tiga orang yang ingin menghentikan gajah tersebut.

Orang pertama dengan ide A, orang kedua dengan ide B, dan orang ketiga dengan ide C. Masing-masing merasa caranya adalah yang terbaik. Mereka eyel-eyelan bersikukuh “carakulah yang paling benar”. Hingga akhirnya mereka malah mati semua. Bukan karena gugur melawan gajah tapi karena saling bunuh. Sementara, gajah tetap bisa masuk dan merusak seisi desa.

Tapi yang saya alami dengan beberapa teman-teman Jamaah Maiyah bisa jadi sebaliknya. Suatu kali dalam sesi penggalian potensi, jamaah diminta menceritakan potensinya, yakni kemampuan apa saja yang dimiliki. Masih banyak yang berendah hati dan malu mengutarakan kelebihannya. Padahal jelas-jelas di situ waktu yang tepat untuk “memamerkan” diri.

Kalau memakai analogi gajah masuk desa tadi, yang terjadi bukan berebut carakulah yang paling benar melainkan, “Monggo pakai cara sampeyan saja, monggo kamu saja.” Masing-masing berebut mempersilakan sampai akhirnya tidak ada cara yang digunakan sama sekali karena tidak ada yang mau mengeluarkan “kesaktiannya” untuk menghentikan gajah. Sehingga, gajah berpotensi masuk dan memporak-porandakan desa.

Namun, pada sesi diskusi di Mocopat Syafaat 17 Januari 2020 pada segmen NM dan RMS, alhamdulillah adegan itu tidak terjadi. Saat diminta kerelaan untuk maju ke depan panggung, 2 orang bersegera maju maju.

Senasib-Semiris-Sepenanggungan

Mocopat Syafaat adalah oase bagi siapapun yang hadir. Bagi mereka yang sedang haus ketenteraman. Bagi mereka yanh ingin sejenak menarik napas setelah lelah berjibaku dengan rutinitas pekerjaan, bertahan dari bosannya perkuliahan, sibuk dodolan, perjuangan keluar dari predikat jomblo, serta aneka problem lucu-lucu umat manusia di bumi ini.

Mocopat Syafaat adalah tempat mengumpulkan kembali energi yang telah terkuras. Demikianlah pula yang terjadi pada Mas Macan. Ia datang ke Mocopat Syafaat untuk mencari motivasi melalui nderes Qur’annya, sholawatannya, dan Sinau Barengnya.

Dia bercerita tentang perjuangannya melamar seorang perempuan dengan maksud menguji. Berbekal diri apa adanya, salah satunya kuliah belum kelar, lalu memberanikan diri melamar perempuan. Coba, kira-kira dengan kondisi apa adanya ini apakah ada perempuan yang mau menerima lamarannya. Alhamdulillah, si perempuan masih waras sehingga menolak lamarannya.

Kemudian yang terjadi bukan dia menguji apakah ada perempuan yang mau menerima kondisi lelaki apa adanya, melainkan malah dirinya yang diuji oleh penolakan yaitu lamarannya gagal diterima.

Kecewa iya, sakit iya, ambyar iya. Dan wajar dengan kondisi tersebut Mas Macan ini juga ingin sambat dan berkeluh kesah. Terutama kepada temannya. Tapi jebulnya, ndelalah teman yang mau dicurhati ini kondisinya lebih miris dibanding yang dialaminya. Temannya ini dikhianati oleh perempuan yang dicintai. Boro-boro rencana sambat-curcolnya tercapai, yang terjadi malah Mas Macan ini yang sibuk memotivasi teman senasib-semiris-sepenanggungannya ini.

Anehnya, saat Mas Macan bercerita hal itu dihadapan banyak jamaah, ia tampak tanpa beban. Justru terlihat oleh saya, Ia sedang memotivasi jamaah yang hadir, khushushon Yang Terhormat kawan-kawan jomblo yang tidak sedikit jumlahnya.

Demikianlah di awal dia bilang nyari motivasi, di akhir malah dia yang sebenarnya berganti memotivasi. Di situlah sangat terasa nuansa Sinau Bareng.

Buku dan Merchandise