Lima Minggu #DiRumahSaja, Ngapain Saja?

Awakmu kuwi sopo-sopo wae?”, Febri mengambil pertanyaan workshop dari Mbah Nun pada sebuah kesempatan Sinau Bareng beberapa waktu lalu untuk merespons mengalirnya diskusi Selasaan virtual dua hari lalu. (Selasa, 21/04/20). Ya, pada dirimu sendiri terdapat peran apa saja yang harus ditemukan untuk menghadapi situasi Pandemi hari ini, sih? Begitu kurang lebih pertanyaan pemantik Febri.

Ada peran jadi kepala rumah tangga, ada peran jadi pengurus karang taruna, ada peran jadi diri sendiri dan seterusnya. Sikap terbaik adalah mengoptimalkan peran tersebut. Menurut Febri, sikap itu lebih baik untuk diambil daripada kita membiarkan diri termakan gelombang PHP berharap kesadaran kolektif umat manusia berubah setelah Pandemi ini selesai.

Kemudian Rizky merespons dengan sebuah pantikan pertanyaan? Apakah tampil heroik, menjadi pahlawan di keadaan seperti ini itu penting? Forum kemudian merespons bahwa menjadi pahlawan keadaan atau tidak itu bukanlah hal yang penting-penting amat. Walaupun tidak dipungkiri, media sosial kita hari ini diwarnai dengan aksi-aksi heroisme yang banyak juga diantaranya merupakan megalomania. Tapi semua itu ya tidak apa-apa, jangan terlalu banyak menyalahkan, celetuk salah seorang dalam forum.

Membawa pada kutub pandang sebaliknya, Hilmy yang seorang pamong di desanya menyampaikan bahwa di posisi perannya, ia justru mau tidak mau harus tampil heroik. Mengikuti selasaan virtual malam hari itu sembari lembur olah data bansos di balai desa ia menuturkan bahwa alur bantuan dari pemerintah itu ruwet, ruwet, dan ruwet. Padahal sejumlah masyarakat benar-benar membutuhkannya. Maka ia mau tidak mau harus tampil bak pahlawan, bersama sejumlah warga menghimpun donasi sembako yang kemarin seketika terkumpul langsung didistribusikan.

Menurutnya, yang penting seminggu ke depan warga saya aman pangannya. Urusan seminggu berikutnya dipikir lagi. Itulah realitas yang dihadapi di tengah-tengah keribetan pendataan dan darurat kebutuhan yang mesti segera dipenuhi. Realitas lainnya yang ia rasakan adalah jangankan berbicara yang muluk-muluk, bahkan edukasi untuk hidup bersih saja ia masih harus tak jemu-jemu menyampaikan kepada para warga.

Di dusun tempat ia tinggal yang terletak di pinggiran utara Kota Purwokerto itu diakui PHK belum merajalela. Persoalan ekonomi yang dihadapi paling ekstrem adalah kalangan pedagang kecil yang menjadi sepi drastis. Dampak bagi karyawan yang paling umum adalah terkena perumahan parsial, yakni sehari masuk sehari libur.

Syukurlah di tengah pendapatan yang menurun tersebut, berbagai pengeluaran juga ikut menurun. Misalnya, beli BBM lebih sedikit karena berpergian lebih jarang. Kemudian pengeluaran kondangan juga saat-saat ini tidak ada. Pengeluaran primer ada pada kebutuhan pangan pokok. Oleh karena itu meskipun sifat bantuan sembako adalah temporer, tetapi hal itu sangatlah bermanfaat meringankan beban warga. Kemudian ia menuturkan, warga yang terbebani pengeluarannya lebih berat adalah mereka yang masih harus didera tanggungan cicilan.

Conference call yang dimulai jam 20.00 itu bergulir melanglang pada banyak topik sharing kawan-kawan penggiat. Okka, Penggiat Juguran Syafaat yang saat ini menjadi buruh migran di Malaysia saat ini hanya bisa berdiam di rumah kongsi karena perusahaannya diliburkan oleh pemerintah. Suasana sudah seperti perang dunia kedua, katanya. Kota begitu sepi, patroli polisi dan tentara di mana-mana. Helikopter menyisir kota setiap dua jam sekali menjadi penambah efek mencekamnya keadaan.

Berbeda dengan Okka, Anggi merasa lebih betah selama tinggal di rumah saja 5 minggu lebih ini. Ia yang tinggal di desa berjarak 1,5 jam dari kota Purwokerto itu mengaku baru sekali datang ke pusat kota Purwokerto sejak awal semi-lockdown tengah bulan Maret lalu. Selain berjualan online kini dia menikmati kesibukan baru yakni beternak lebah ondohan dan lebah madu klanceng. Ia juga sedang menyemai bibit bunga matahari untuk mendukung ekosistem si Lebah nantinya.

Ini sejalan dengan apa yang disampaikan Pak Tanto mendut tentang ketahanan masyarakat desa. Selain tidak ada suasana mencekam, halaman dan pekarangan yang luas membuat leluasa untuk menciptakan berbagai kesibukan baru. Sejalan pula dengan yang disampaikan Kyai Tohar, bahwa ini saatnya membangun ketahanan pangan.

Budidaya lebah untuk menghasilkan madu baru ia coba. Menurut tutotial yang ia pelajari, selain perawatannya mudah, madu juga kaya nutrisi, termasuk terdapat kandungan probiotik yang menurut sains sangat berguna mendongkrak imunitas tubuh. Selain itu, ia sudah terbiasa jual-beli madu via online, ini kesempatan untuk punya sumber budidaya sendiri. Walaupun ia mengaku masih tahap agrak-egrek karena baru belajar.

Pembahasan tentang nandur-nandur menjadi topik yang menarik, Andri mengaku berminat untuk segara memanfaatkan lahan pekarangan yang ada untuk gardening. Lain halnya dengan Kusworo yang memang istrinya hobi bruwun alias memasak dari tanaman di sekitar rumah. Tanaman bayam yang ada di sisa lahan di perumahannya ingin ia perbanyak, supaya bisa kuat seperti Popeye.

Masih sejalan dengan topik ketahanan pangan, Kukuh sedang merintis mekanisme sirkulasi panen hasil pangan di pokja ekonomi Karang Taruna Kabupaten Banyumas yang ia pimpin. Ia merancang iuran wajib anggota 100.000 dan iuran sukarela 1.000.000 untuk modal perputaran membeli bahan pangan hasil anggota karang taruna dan mendistribusikannya kepada masyarakat. Meski baru tahap gagasan, ia yang belakangan ini sibuk menjahit masker orderan donatur dan pemda mengaku sangat bersemangat untuk segera menjalankan program ini. “Minta doanya dari teman-teman semuanya saja,” katanya.

Meskipun dilangsungkan secara virtual, tetapi suasana tetap gayeng. Memang beberapa terkendala gangguan signal sehingga suara kurang jelas terdengar. Perlu persiapan lokasi yang baik sebelum conference call meeting memang mengingat kualitas internet di Indonesia apalagi di daerah yang serba pas-pasan kualitasnya.

Memasuki minggu ke-5 pada tatanan keadaan yang baru ini, agaknya di antara penggiat, mereka mulai mampu bergerak lebih seimbang dalam merespons ke dalam yakni kontemplasi men-jejeg-kan sikap batin, sekaligus juga merespons ke luar yakni mengambil peran produktif sejauh atau sependek apapun yang mampu dijangkau.

Buku Lockdown 309 Tahun