Lima Buku Cak Nun dan Segmentasi Pembacanya

Pak Toto Rahardjo pernah mengatakan tiap buku Cak Nun mempunyai segmen pembaca masing-masing. Meskipun tiap buku yang diterbitkan merupakan kumpulan tulisan, yang tiap gagasan di sana pernah tersiar di surat kabar tertentu, agaknya sukar mengkategorikan genre karya tertulis Cak Nun ke dalam tema khusus.

Namun, Yai Tohar, panggilan akrab Toto Rahardjo, berpendapat ada yang dominan dari kumpulan tulisan yang dibukukan itu. Ia membicarakan masalah benang merah yang mempertautkan gagasan antartulisan di dalamnya.

Saya sendiri menemukan aneka ragam pengklusteran rak buku secara tematis yang memampang karya Cak Nun. Salah satu toko menempatkannya di bagian rak bertemakan Agama. Bahkan satu toko buku tertua di kota ini meletakannya di meja bertuliskan Religi & Rohani. Beberapa di wilayah Sosial-Humaniora. Tapi kebanyakan di rak Budaya dan Sastra.

Dari sekian buku yang dijual, satu buku setidaknya masuk kategori Best Seller.

Kita tahu, buku karya Cak Nun masih dibaca, kendati riwayat cetakannya telah sampai digit dua. Jamak orang meminatinya untuk bacaan sehari-hari. Di antara mereka kemudian melanjutkan kajian atas buku Cak Nun untuk kepentingan studi.

Beberapa adik angkatan mahasiswa di kampus saya malah memakainya sebagai objek penelitian skripsi. Segmen bukunya, tentu saja, bergenre karya sastra. Analisis Semiotik Naskah Lautan Jilbab Karya Cak Nun. Berapa banyak sarjana kita yang meraih toga karena buku-buku Cak Nun?

Teman akrab saya terbilang radikal kalau sudah membicarakan cetakan buku. Ia berani membayar mahal untuk buku cetakan pertama Cak Nun. Kita tahu, mendapatkan buku lawas itu membanggakan, bukan semata karena isi, melainkan juga nuansa klasiknya.

Ada kebanggaan yang sukar terdeksripsikan saat ia memperoleh itu. Sudah malang melintang mencari ke loakan, akhirnya nihil mendapatkan. Tapi ia tak kehilangan tekad. Toko online satu-satunya jalan penyelamat.

Lalu, buku apa saja yang dibilang Yai Tohar mempunyai segmen tertentu itu?

Dari Pojok Sejarah

Buku sebanyak 285 halaman ini terbit pertama kali tahun 1985 oleh Mizan. Yai Tohar berkata bahwa buku ini sangat cocok bagi mereka yang ingin menjadi aktivis sosial. Saya kira tepat pernyataan itu. Buku berjudul Dari Pojok Sejarah ini mengandung nuansa protes Cak Nun terhadap kondisi sosial-politik di dunia era 80-an yang makin berkiblat kepada developmentalisme. Semua fragmen yang terkumpul di dalamnya praktis ditulis Cak Nun saat “menggelandang” di negeri Eropa.

Kita akan menemukan apakah benar dunia waktu itu terbagi atas dua ideologi besar, yakni sosialisme dan kapitalisme — kalau iya, siapakah aktor negara yang menganut, bagaimana kedua pemikiran klasik tersebut turut menyelimuti Perang Dingin? Cak Nun menggugat pula praktik penindasan masyarakat dan eksploitasi alam atas nama pembangunan.

Masalah ini ternyata menjadi perbincangan hangat di Eropa. Uniknya, meski ditulis di sana, Cak Nun menarik basis masalah ke ranah dalam negeri Indonesia. Pantas bila “nada protes” terekam jelas di buku ini. Saya kira Cak Nun memosisikan sudut pandang penulis dari sebuah sudut, tempat pojok paling pinggir yang orang dengan bebas menyaksikan ketidakberesan dan ketidakwajaran pembangunan dari akar rumput.

Belakangan saya baru tahu mengapa Cak Nun di buku Dari Pojok Sejarah sering menyebut “Dil”, “Adikku”, “Sahabatku”. Ternyata panggilan itu ditujukan kepada adik kandungnya sendiri, Cak Adil Amrullah. Buku ini ditulis dengan gaya “surat pribadi” Cak Nun kepada adiknya.

Slilit Sang Kiai

Saya sendiri pertama kali mendengar judul ini tahun 2007 dari guru Bahasa Jawa di SMP. Saya masih ingat betul guru ini menjelaskan materi beragama secara sederhana di kelas. Saya menyimak, meski di awal bertanya-tanya: apa kaitannya antara beragama dan slilit seorang kiai? Setelah membaca sendiri, saya baru tahu kalau buku ini memang, meminjam istilah Yai Tohar, belajar Islam itu tidak rumit.

Pertama kali terbit bulan Desember 1991, Slilit Sang Kiai merilekskan anggapan orang banyak kalau Islam itu tak sekaku alaram haram-halal, surga-neraka, dan sekadar mengurusi tata cara ibadah secara protokoler. Cak Nun ingin mendobrak anggapan itu melalui tokoh kiai yang selama hidupnya penuh aktivitas islami dan niscaya akan mendapatkan kapling surga.

Ternyata sang kiai itu dikabarkan gagal masuk surga. Santrinya bermimpi melihat kiai yang ditakzimi itu tertahan di depan pintu. Ia mengatakan kalau pelbagai dosanya di dunia diampuni kecuali satu. Gara-gara ia menyuir pagar bambu rumah seseorang sepulang kenduri, tentu saja untuk membersihkan sisa makanan yang menyangkut di gigi, Tuhan tidak berkenan memberikan kapling surga milik-Nya ditempati sang kiai.

Bukankah masalahnya sepele? Sang kiai sendiri menyadari khilafnya. “…Aku tidak sempat meminta izin pemilik rumah untuk mengambil sedikit dari bambunya untuk kujadikan tusuk gigi.” Tapi penyesalan tinggal penyesalan. Kiai itu mustahil kembali ke dunia untuk meminta maaf. Kesempatan kedua tak pernah datang.

Gelandangan di Kampung Sendiri

Umar Kayam dalam tulisannya bertajuk Emha (1994) menyebut Cak Nun dalam kondisi “go, go, go, go” untuk menyebut begitu padatnya jadwalnya. Suatu malam menulis di depan mesin tik, seraya melayani para tamu, sekian jam berikutnya lahirlah tiga sampai empat esai sekaligus. Sering wartawan ditugaskan khusus untuk meminta tulisan kepada Cak Nun. Bahkan sampai menunggu dirinya semalam suntuk.

Hari berikutnya, Cak Nun sudah terbang ke belahan wilayah lain. “Kadang-kadang saya bertanya dalam hati, ajian apa yang dimilikinya maka dia mampu mengerjakan itu semua,” komentar kolumnis Mangan Ora Mangan Kumpul itu.

Bertemu banyak latar belakang masyarakat dengan aneka ragam kegelisahan masing-masing membuat Cak Nun menjadi seseorang yang menurut bahasa Yai Tohar: “keranjang sampah”. Buku Gelandangan di Kampung Sendiri (1995) turut membantu kita untuk memahami “sampah” macam apa yang disodorkan orang-orang kepada Cak Nun.

Sampah di sini merupakan kata perumpamaan untuk menyebut kegelisahan, keterputusasaan, keterasingan, dan ketersingkiran wong cilik yang tak tahu hendak disampaikan kepada siapa kecuali Cak Nun.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian: Pengaduan I, Pengaduan II, Ekspresi, dan Visi. Dari penggolongannya saja tercitra gamblang kalau langgam tulisan Cak Nun di dalamnya mengandung suatu “corong” kekalutan orang-orang menghadapi himpitan persoalan hidup. Oleh Cak Nun suara riuh-rendah itu dipantulkan menjadi refleksi, terkadang bernada menggugat: mengapa kaum papa merendahkan martabat rakyat, sementara di singgasana mereka hanya mengurus kenyangnya sendiri?

Sedang Tuhan pun Cemburu

Dari judul sekilas orang menganggap buku ini membahas persoalan teologi. Padahal bukan. Yai Tohar menilai buku yang terbit tahun 1994 ini kental akan dimensi “analisis sederhana tapi kritis” sehingga patut dibaca oleh mubalig dan pemerhati masalah sosial. Mengapa?

Mubalig dan pemerhati masalah sosial praktis berada di tengah masyarakat. Mubalig berhadapan dengan jamaah yang beragam, sedangkan pemerhati sosial mengobjekkan masyarakat sebagai bahan kajian. Mereka sama-sama berhadapan dengan dimensi manusia dan kemanusiaan. Kita tahu, dimensi ini tak pernah tunggal. Ia selalu kompleks.

Apakah Tuhan bisa cemburu? Kalau demikian, berarti cemburu sebagai sifat manusiawi, juga dipunyai Tuhan. Ini pertanyaan analitis dan Cak Nun menegaskan iya. Kecemburuan Tuhan mengemuka saat manusia menuhankan hal-hal sepele di sekitarnya. Namun, kecemburuan itu bukan berarti bukti kelemahan Tuhan. Ia menjadi bukti kemesraan sekaligus keintiman antara Tuhan dan manusia. Islam menyebut fondasi ini dalam ranah tauhid.

Kecemburuan itu juga bersifat sosial. Saya sendiri menganggap pertanyaan “apakah Tuhan bisa cemburu” cenderung bersifat kognitif. Pertanyaan ini tak mungkin timbul bagi makhluk yang tak berakal. Terlebih makhluk berakal ini berada di situasi sosial yang plural, sehingga kecemburuan bukan sebatas reflek, melainkan juga sebuah sikap tak mau diduakan.

Cak Nun sendiri mengatakan di buku ini kalau modal paling besar manusia adalah akal budinya. Masalahnya jamak orang berperangai serupa binatang. Tak berarti ia berubah menjadi hewan tapi kebinatangan itu cenderung menggeser sifat kemanusiaannya.

“Makhluk tingkat ketiga sesudah benda dan tetumbuhan. Binatang plus akal adalah kita. Binatang plus akal plus tataran-tataran lain dari spiritualisme adalah kesempurnaan yang seyogyanya diperjuangkan oleh manusia,” tulis Cak Nun.

Nasionalisme Muhammad

Selain menulis esai untuk media massa, Cak Nun juga aktif menulis makalah. Buku Nasionalisme Muhammad (1995) ini salah satu kumpulan makalah dari pelbagai seminar ataupun sarasehan yang digelar sepanjang tahun 80-an. Judul buku yang diambilkan dari tajuk makalah yang pernah disiarkan di Yayasan Hatta tanggal 30 Januari 1988 ini mendudukkan dua masalah pokok, yakni “nasionalisme” sebagai wacana negara-bangsa dan “Muhammad” sebagai representasi gagasan.

“Bila mau jadi aktivis Islam terpelajar, baca Nasionalisme Muhammad,” begitu pesan Yai Tohar. Saya sendiri senada dengan pernyataan ini, namun perlu diperluas bukan hanya untuk “aktivis Islam”, melainkan juga akademisi itu sendiri. Mengapa demikian?

Makalah yang terkumpul di sini mencoba mengetengahkan pokok kajian dari sudut pandang yang tak umum (inkonvensional). Sebagai contoh, Nasionalisme Muhammad. Ia mencoba mendefinisikan nasionalisme sebelum kata ini dipakai, dibakukan kamus, dan dijadikan diskursus di lembar karya akademis. Pertanyaan sederhana dari gagasan ini: adakah praktik nasionalisme sebelum kata nasional(-isme) dipakai? Misalnya sejak era Muhamamd?

Cak Nun berangkat dari problem nasionalisme yang menurutnya cenderung dipakai untuk menerangkan konsep negara ketimbang bangsa. Problem ini kemudian sering diperhadapkan, misalnya, antara “nasionalisme-kerakyatan” dan “nasionalisme-keagamaan” — istilah ini saya kutip secara verbatim dari tulisan Cak Nun.

Kedua hal itu acap kali diposisikan secara antagonistik. Lalu apa hubungannya dengan Muhamamd?

“Jika segala nilai hidup, segala konsep dan isme, digali dan dikelola oleh manusia (kualitas kepribadiannya), maka komitmen kebangsaan Muhammad bukan saja tidak dibatasi oleh ras dan geografi, bukan saja meluas ke pembelaan atas kaum tertindas sebagai sebuah ‘bangsa’ tersendiri, namun bahkan juga bersih dari kehendak kekuasaan dan nafsu ekonomi yang berlebihan,” tulis Cak Nun.

Cak Nun bermaksud mencairkan konsep nasionalisme yang melampaui sekat-sekat primordialisme ranah negara-bangsa. Ada keterhubungan di antara masyarakat yang didorong oleh rasa nasionalisme, namun bukan oleh aktor makro seperti negara, melainkan oleh seorang figur.

Masalahnya, kritik Cak Nun, kaum muslimin sendiri terjebak oleh formalisme kebangsaan, puritanisme, dan eksklusivisme sempit. Maka tak mengherankan di satu sisi nasionalisme mengikat, sedangkan di sisi lain memisahkan individu atau sekelompok orang.

Pokok bahasan Nasionalisme Muhammad ini memang harus kita taruh pada konteks yang jelas waktu itu. Ketika kohesi sosial umat Islam terbagi-bagi hanya karena masalah perbedaan kepentingan kelompok, mazhab, dan halauan politik spesifik. Apakah yang ditulis Cak Nun menjelang tahun 1990 itu masih bisa kita rasakan sampai sekarang?

Semoga jawabannya tidak.

Buku dan Merchandise