Langit pun Rindu

Kita sedang menjalani hari-hari terakhir di bulan Jumadil Tsani. Maka tak lama lagi bulan Rajab akan kita masuki. Bulan di mana akan diramaikan oleh aneka rupa acara peringatan sebuah kisah agung ; isra’ mi’raj. Sedari instansi pemerintah di pusat hingga di pelosok daerah, masjid dan musholla baik di kantor-kantor swasta maupun di masyarakat kota dan desa, sebagian besar akan menyibukkan diri dengan gelaran demi memperingati perjalanan istimewa Kanjeng Nabi yang beroleh perintah sholat itu.

Tentu saja kita pun hafal, lalu-lintas sosial media akan juga diramaikan kembali oleh diskusi (atau perdebatan yang tak pernah kunjung usai?) ihwal bid’ah tidaknya acara peringatan isra’ mi’raj. Dan kita juga tidak lagi kaget dengan adanya beragam versi tanggal kejadian isra’ mi’raj, yang menyertai arus perdebatan itu. Masing-masing dari kita tentu berhak memilih berada di orbit pencarian sebelah mana ; menelusuri langkah-langkah metodis demi menemukan validitas data dan informasi dari perpsektif sejarah, mengarungi pertarungan ilmiah dengan memverifikasi beragam dalil, ataukah memilih untuk melapangkan dada, meluaskan cakrawala disertai ikhtiar menghikmahi segala sajian versi pendapat itu seraya memupuk taqarrub pada Kanjeng Nabi dan Allah SWT.

Sejak kecil kita sudah akrab dengan rangkaian peristiwa di sekitar isra’ mi’raj. Salah satu yang cukup mahsyur adalah bahwa di tahun itu kerap disebut sebagai “tahun kesedihan”, ketika Kanjeng Nabi ditinggal wafat oleh Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib, dua tokoh utama pendukung dakwah beliau. Dituturkan bahwa demi menghibur nabi, Allah menggelar ”wisata rohani” dengan memperjalankan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha, pulang pergi dalam waktu semalam.

Satu kisah lain yang barangkali kurang begitu dikenal adalah, peristiwa isr’a mi’raj dilatarbelakangi oleh rasa iri langit pada bumi. Diceritakan bahwa langit dan bumi saling mengejek, saling mengunggulkan diri, hingga pada adegan langit mati kutu sebab bumi memamerkan kebanggaanya ; di bumilah berpijak manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW.

Langit pun iri pada bumi. Ia menanggung rindu pada sosok manusia pilihan. Lantas ia bermohon pada Allah agar diperkenankan dipijak oleh Kanjeng Nabi Muhammad, dan akhirnya dikabulkan melalui peristiwa isra’ mi’raj.

Langit pun rindu pada sosok beliau yang sangat mulia. Rindukah kita padanya? Langit pun rindu pada manusia pilihan. Kepada kita yang mengaku sebagai pengikutnya, apakah langit pun merindukan?

Dulur, dengan spirit meneguhi langkah mempelajari segenap teladan tindak laku Kanjeng Rasul melalui sirah nabi, mari melingkar kembali pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-41.

Buku dan Merchandise