Laku Mencatat Romo Iman Budhi Santosa

Kenduri Cinta, 12 Juli 2019.

“Pak Iman Budi Santosa kapundut,” begitu pesan masuk dari Mas Jamal kemarin pagi. Kabar itu menginterupsi obrolan kami seputar menulis, yang sejak Rabu siang mendiskusikan gaya penulisan jurnalistik. Mas Jamal merekomendasikan sebuah buku menarik seputar itu. Buku klasik tapi masih relevan dipelajari karena konten di dalamnya awet sampai sekarang.

Perihal buku, saya terkenang Romo Iman. Suatu hari organisasi kemahasiswaan kami di kampus berencana mengundang Romo Iman. Rencananya ia akan diduetkan dengan Pak Minto (Suminto A. Sayuti). Belakangan saya baru tahu keduanya sudah kenal akrab sejak tahun 70-an. Tahun ketika komunitas sastra, Persada Studi Klub, tempat keduanya berproses, sedang naik daun.

Waktu acara akan dimulai, moderator mempersilakan Romo Iman naik ke panggung terlebih dahulu. Ia mengantongi secarik kertas dan bolpoin di saku kirinya. Tangan kanannya menenteng satu buku. Entah buku apa yang ia bawa. Mungkin antologi puisinya Chairil Anwar. Malam itu merupakan Haul Chairil Anwar.

Nama John Cornford, kata Romo Iman, kurang familier di telinga jamak orang. Namun, Chairil Anwar membuatnya bersahabat bagi publik sastra setelah dirinya menyadur puisi Cornford berjudul To Margot Heinemann menjadi Huesca. Romo Iman bilang penyaduran merupakan hal lazim di jagat literer.

Seperti sajak, buku juga begitu. Ia membicarakan pikiran atau pengalaman orang lain. Yang membedakan hanyalah kemendalaman dan keotentikan sebuah karya. Tentu saja dua hal ini ditentukan oleh keterampilan seorang pengarang. Ambil satu bait saduran Chairil terhadap puisinya Cornford.

Huesca

Jiwa di dunia yang hilang jiwa
jiwa sayang, kenangan padamu
adalah derita di sisiku
bayangan yang bikin tinjauan beku

(…)

To Margot Heinemann

Heart of the heartless world,
Dear heart, the thought of you
Is the pain at my side,
The shadow that chills my view.

Perbandingan itu dipaparkan Romo Iman. Ia meminta kami peka terhadap pilihan kata Chairil. Mengapa memilih kata tertentu dan menggeser alternatif kata lain. Pertimbangan macam apa yang Chairil dasarkan dalam melakukan penyaduran. Semua pertanyaan itu ia sodorkan agar kami bukan hanya menerima hasil saduran, melainkan juga kritis terhadap konstruksi di dalamnya.

Pertemuan kami malam itu membekas sampai sekarang. Di hadapan mahasiswa, Romo Iman sudah kami anggap sumber informasi. Banyak hal kami konfirmasikan kepadanya. Dari masalah penulisan kreatif hingga ranah peta politik seniman di Yogyakarta. Mendiang membuka diri untuk menerima kami, kendati pertanyaan-pertanyaan kami pating blasah.

Seiring dengan keaktifan saya di lingkaran Maiyah, sebanyak dua kali saya ikut teman-teman ngangsu kawruh ke tempat tinggal beliau di kampung Dipowinatan. Kali pertama ke sana kami berdiskusi semalam suntuk. Saya sendiri cenderung diam menyimak. Mengamati pertanyaan demi pertanyaan direspons Romo Iman, lalu sesekali membabar sejumlah contoh.

“Coba panjenengkan lihat. Pripun nek niku,” tegas Romo Iman di akhir paparan. Romo Iman bukan pribadi yang gemar menjelaskan secara definitif. Ia contoh terbaik seorang guru yang selalu mengajak anak-anak muda di sekitarnya untuk merenung dan berpikir sistematis.

Selain mewedar contoh kasuistik, Romo Iman biasanya memberikan tugas: coba panjenengan tulis itu. Tugas menulis, mencatat sejumlah pengalaman, sampai sekadar merumuskan pertanyaan ia sudah teladankan kepada para mahasiswa semenjak kali pertama kami bertemu beliau.

Meski demikian, tugas itu tetap ia sampaikan ketika kami berjumpa beliau. “Sudah sampai mana, Mas,” tanyanya suatu hari. Saya gelagapan sebab tugas itu masih dalam bentuk draf. Terlalu compang-camping untuk disebut sebagai sebuah karya tulis. Tulisan wae durung.

Disiplin menulis yang Romo Iman kerjakan selama ini diam-diam saya tiru. Kendati selama proses peniruan itu saya sudah gagal sejak fase pertama. Fase dasar adalah niteni. Baru kemudian nirokke dan nambahi.

Niteni itu sama dengan mengamati, memerhatikan, atau menyimak — walau tak persis senada nuansa penerjemahan dari bahasa Jawa ke Indonesia ini. Bagi Romo Iman, niteni harus sekurang-kurangnya memiliki daya kognisi dan afeksi. Yang terakhir acap disebut roso.

Kelemahan saya di situ sebab saban sehari terbiasa dengan aktivitas pikiran. Dengan pertimbangan logika sebagai instrumen, faktor roso kerap kali disingkirkan karena diklaim biang keladi subjektivitas dan irasionalitas. Baru-baru ini pandangan instrumentalistik tersebut dikoreksi. Dianggap terlalu bias ilmu pengetahuan.

Anggapan ini pernah saya tanyakan kepada beliau. Ia menjawab agar jangan terlalu menerima pengetahuan apa adanya. Harus memberikan tempat bagi pengetahuan-pengetahuan lokal. Romo Iman berpesan, “Sing ngati-ati. Jalaran kesandung ing roto, kebentus ing tawang, dalan e ora mung siji. Bener durung mesti pener. Salah durung mesti kalah. Becik iso kuwalik.”

Belum sempat bimbingan langsung kepada beliau, mengonfirmasi apakah tulisan saya selama ini sesuai harapan beliau, Romo Iman sejak kemarin pagi dipanggil kepada Yang Maha. Sampai catatan ini saya tulis, saya masih belum percaya kalau Romo Iman sudah wafat. Sore pukul 16.00 kemarin beliau dikebumikan di Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri.

Awal Desember ini buku Romo Iman hendak terbit. Berjudul Seni Mencipta Puisi: Menyingkap Rahasia dan Teknik Penciptaan Puisi dari Sang Maestro (Penerbit Circa). Buku itu adalah buku terakhir beliau. Dua hari lalu, kalau tak salah, saya menyaksikan Romo Iman memparaf ke calon bukunya tersebut di laman Facebook Mas Tia Setiadi (Kian Santang).

Sugeng tindak, Romo.

Lainnya

Buku dan Merchandise