Konsisten pada Kosmos Berpikir

Bangbang Wetan Surabaya, Edisi 8 Juni 2020

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya bulan Juni ini menginjak putaran ketiga. Surabaya bahkan sudah masuk dalam kategori zona hitam. Tak kurang-kurang upaya warga dalam menerapkan protokol kesehatan demi saling aman-mengamankan satu sama lain, mulai dari me-lockdown kampung dan kompleks, mengikuti lifestyle masker dan hand sanitizer, serta menyediakan banyak tempat cuci tangan di ujung gang, di masjid, dan di warung.

BangbangWetan bulan Juni 2020 pun masih digelar secara virtual gathering. Kali ini mengusung tema “New Moral”. Mengapa tema tersebut diambil, karena langkah perbaikan yang tidak boleh dikesampingkan di masa ini adalah perbaikan moral.

Sebagaimana disampaikan Mbah Nun dalam tulisan edisi khusus Corona yang berjudul “Kuwalat Kanjeng Nabi”, Beliau mengungkapkan bahwa Tuhan sangat tersinggung kepada manusia karena meremehkan Baginda Muhammad. Tuhan sudah sangat murka kepada kita semua umat manusia dan umat Nabi.

Kalau memakai istilah Tuhan sendiri: ghoiril magdlubi ‘alaihim waladdhollin — kita semua ini adalah Kaum Maghdlubin: makhluk-makhluk yang Tuhan marah kepada mereka atau kita semua. Dimurkai karena tidak maksimal mengeksplorasi anugerah akal dan jiwanya untuk mengenali Tuhan. Maka problem utama yang harus kita selesaikan adalah mengenai perbaikan moral kita hubungannya kepada manusia, makhluk, alam, Kanjeng Nabi, dan Tuhan. 

Pada live streaming BangbangWetan di hari Minggu malam, 7 Juni 2020 lalu, Jamaah ditemani beberapa narasumber, yakni: dr. Supriyanto (Direktur RSUD Dr Iskak, Tulungagung), Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh, Yai Toto Rahardjo, juga ada Cak Suko Widodo.

Dialog yang semula berlangsung runut bergantian kemudian berkembang menjadi interaksi antar narasumber yang menarik. Mas Sabrang, Yai Toto, serta dr. Supriyanto sama-sama berbagi pandangan tentang bagaimana menentukan ketepatan langkah dalam riuhnya gelombang new normal hari ini tanpa meninggalkan spirit “New Moral”.

Berdasarkan ungkapan dr. Supriyanto, saat ini kita sedang masuk lorong transedental. Sesuatu yang gelap, tidak pasti dan membuat bingung. Maka cara menghadapinya yang pertama kita lakukan adalah tenang. Dan mencari imam yang tepat. Dalam hal ini ‘imam’ kita adalah medis.

Mas Sabrang kemudian ikut urun memberikan bangunan berpikir tentang mengapa ber-imam kepada medis tersebut. Beliau menjelaskan bahwa sains, agama, kebatinan, dan segala macam model itu bukanlah penjelas dari realitas, dia adalah narasi terhadap realitas. Masing-masing disiplin tersebut mempunyai kosmosnya sendiri.

Nah, Covid-19 ini yang mendefinisikan masalahnya adalah sains. Jadi, untuk mengetahui garis batas benar salah masalahnya itu kembali ke asal-usul ke yang ngomong masalahnya duluan. Jadi kita manut kepada yang mendefinisikan pertama karena mereka punya parameter untuk mendefinisikan masalah tersebut. Jadi, ikut sains atau dunia medis pada keadaan ini bukanlah mengabaikan agama, tapi logis objektif karena mereka yang mendefinisikan masalah. Kita boleh memilih panglima berbeda-beda pada masalah yang berbeda-beda.

Disambung dengan penjelasan Yai Toto Rahardjo yang menyetujui penjelasan Mas Sabrang bahwa yang mendeklarasi masalah Corona ini adalah sains. Beliau juga menyampaikan bahwa sains juga yang mendeklarasi hadirnya Corona ini disebabkan oleh keserakahan manusia yang mengeksploitasi alam semesta.

Yang paling menggelisahkan menurut Yai Toto Rahardjo adalah manusia lupa akan akar masalah dari Covid-19 ini. Sehingga musibah global ini berlalu sedangkan tidak terjadi perubahan terhadap hal-hal yang mendasar: kegiatan eksploitasi terus-menerus dilakukan, hubungan-hubungan setiap manusia kita tidak berubah, serta sistem ekonomi tidak berubah.

Mas Sabrang menekankan agar kita lebih serius dalam kedisiplinan pondasi berpikir kita. Menurut Mas Sabrang modal kita di Maiyah, baru membangun sampai pada tahap: ayo independen berpikir, ayo berdaulat. Belum pada mengukur kita harus melaksanakan kepatuhan pada taraf tertentu. Meskipun begitu, dr. Supriyanto memilih untuk tidak under-estimate. Bahwasannya memiliki kedaulatan berfikir sudah merupakan modal yang luar biasa.

Terakhir Mas Sabrang mengajak kita melakukan hal yang bisa kita lakukan, dengan prinsip: kenapa kita bisa diatur oleh global? Kenapa bisa terpengaruh seperti itu? Karena adanya garis ketergantungan di kita. Ketergantungan yang tidak bisa kita lepaskan adalah uang. Karena kita tak bisa ganti mata uang.

Pada urusan komoditi sebenarnya kita bisa lebih independen, tidak ketergantungan. Close loop economy kenapa bisa kuat, karena ketergantungannya dari luar lebih kecil. Ketika ketergantungannya lebih kecil, Anda lebih bebas melakukan apa pun. Karena yang terjadi di sana, pengaruhnya pada Anda tidak begitu besar.

Kalau ngomong garis besarnya kita kurangi ketergantungan dengan yang di luar. Dari close loop ekonomy yang sudah kita lakukan. Kita letakkan pada sistematika yang jelas, kita sambungkan dengan masa depan. Bagaimana kita menyambungkan dengan masa depan? Kita bisa melihat masa depan adalah dengan perkembangan teknologi, karena kita kalau ketinggalan teknologi maka kita akan semakin jauh ketinggalan.

Memang masih abtsrak. Tetapi ke depan, Mas Sabrang mengadakan pertemuan penggiat simpul untuk kemudian membuat movement. Mari dulur kita bergotong-royong tandang merespons hipotesa dari Mas Sabrang dengan bekerja sama meningkatkan indepedensi menuju perubahan baru.

Lockdown 309 Tahun