Komunalitas yang Eksploratif

Image by Dhyamis Kleber from Pexels

Di antara hikmah dari adanya pandemi menurut pandangan Ibu saya adalah bahwa masyarakat dididik oleh keadaan untuk mengurangi kegiatan yang bersifat seremonial belaka. Benar saja demikian, masa sebelum pandemi kalau mau diteliti betapa banyak waktu kita disibukkan oleh agenda-agenda yang lebih bermuatan seremonial ketimbang hal-hal yang substansial.

Peresmian sebuah proyek misalnya, ada upacara ground breaking yakni sesuatu yang lebih megah dari tradisi peletakkan batu pertama. Peresmian seksi per seksi pekerjaan. Lalu soft launching, barulah kemudian grand launching. Tak berbeda dengan di dunia pendidikan di mana Ibu saya berkecimpung di situ. Berbagai sosialisasi, penyuluhan, penataran, dan lokakarya adalah bagian yang amat membuat sibuk dan menjadi bagian yang harus dikerjakan di dalam mekanisme birokrasi administrasi kependidikan.

Yang kemudian disayangkan menurut Ibu saya adalah, setelah kita semua diterpa badai pandemi,i ternyata bagi sebagian pihak masih saja belum bisa move on dari hobi ber-seremoni. Memang bagi sebagian masyarakat kita, new-normal dipahami sebatas new “masker” lifestyle, bukan tata hidup baru yang lebih efektif untuk ditempuh.

Kata “Resilien” adalah kata yang menjadi santer diperbincangan di masa pandemi ini. Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit (Reivich dan Shatté, 2002). Memang pandemi ini menguji bagaimana tingkat resiliensi kita menghadapi keadaan.

Maka tantangan kita ke depan di dalam berkomunalitas, berinteraksi sosial, dan berbagai olah formulasi forum bukanlah untuk sekadar melanjutkan seremoni demi seremoni. Namun, bagaimana bersama-sama menjadi lebih resilien menghadapi keadaan. Tak perlu ambil pusing nggrundengi mereka yang memilih bersikap denial, mensimplifikasi bahwasannya ini adalah peristiwa biasa saja atau mereka yang memilih menutup diri dari perkembangan informasi melainkan berfokus pada seberapa kuda-kuda adaptasi kita sebagai individu maupun sebagai komunitas.

Jamaah Maiyah oleh Mbah Nun didorong untuk menjadi resilien dengan menjaga keajegan. Pada Tajuk “Kesadaran Nur”, Mbah Nun menyampaikan: Keterikatan Anda semua oleh situasi Covid-19 sekarang ini jangan sampai tidak melahirkan keajegan silaturahmi dan Sinau Bareng Anda semua. Setiap Simpul Maiyah di berbagai wilayah, sembari istiqamah Sinau Bareng dalam keterbatasannya, bisa mengajak, menganjurkan dan menseyogyakan aktivasi atau penyelenggaraan forum-forum yang sama meskipun dalam satuan-satuan yang lebih kecil. Satu Simpul bisa “mengglepung” menjadi sekian atau banyak lingkaran-lingkaran (10-20an orang pun).

Bertahun-tahun Jamaah Maiyah memupuk modalitas diri untuk berjiwa altruis yang direpresentasikan dalam perilaku gemar sesrawungan, mengasyiki berproses bersama di dalam kelompok dan senantiasa berupaya migunani tumraping liyan. Maka, dari modalitas itu, adalah sebuah bekal kepercayaan diri bagi kita untuk membangun resiliensi terhadap keadaan secara bersama-sama.

Mbah Nun menawarkan formulasi “mengglepung” bagi Jamaah Maiyah untuk berkumpul di dalam satuan sel-sel berkumpul yang lebih kecil. Sel-sel berkumpul yang lebih kecil memiliki berbagai keunggulan, yakni sel-sel berkumpul dalam satuan jumlah yang lebih kecil menjadi tetap selaras dengan protokol Covid-19. Sel-sel berkumpul yang lebih kecil memungkinkan mengerjakan berbagai proses eksperimentasi pembacaan pemahaman dan pengamatan sosial yang lebih spesifik sehingga dapat menawarkan solusi yang lebih spesifik pula.

Ini adalah terobosan di tengah stereotiping yang melekat pada “organisasi” di mana berorganisasi itu identik dengan kita mesti membangun struktur yang rigid, merumuskan protokol yang kaku dan menyuarakan jargon yang sensasional. Stereotipe yang cenderung “padat” dan mempersyaratkan jumlah orang yang besar itu kali ini adalah momentum untuk kita bongkar dengan membangun berbagai kemungkinan output manfaat dari sesederhana apapun satuan sel berkumpul yang mungkin dikerjakan saat ini.

Kemudian sel-sel berkumpul yang kecil itu tetap terkoneksi satu sama lain di dalam atmosfer al-mutahabbina fillah melalui simpul, lingkar dan berbagai endapan jamaah Maiyah yang memang sudah terawat sedari waktu-waktu yang lampau.

Pada sebuah kesempatan Rembug Maiyah tahun lalu sejumlah Penggiat Maiyah berkumpul. Ketika tiba pada sesi diskusi yang harus lebih fokus, kemudian ditawarkan kepada forum untuk akan dibagi berapa kelompok dan berapa orang perkelompok yang paling efektifnya. Saya mengusulkan dibagi masing-masing kelompok 3-4 orang. Pak Toto Raharjo yang juga ikut menjadi fasilitator mengusulkan supaya masing-masing kelompok sebanyak 12 orang. Sedangkan usulan lainnya adalah sebanyak 25 orang. Singkat kisah, akhirnya diputuskan satu kelompok berisi 12 orang.

Karena kebutuhannya adalah diskusi yang lebih fokus, maka sejumlah 12 orang di dalam satu kelompok berjalan begitu efektif: Durasi waktu mencukupi untuk meng-eksplore seluruh anggota kelompok dan menanggapinya, menghimpun pointers penting dari proses brainstorming menjadi pemikiran bersama yang lebih ber-kerangka dan kemudian waktu masih mencukupi untuk perumusan rencana tindak lanjut serta pembagian peran.

Dari pengalaman olah forum di Rembug Maiyah di atas yang ingin saya ungkap adalah bahwa tujuan yang ingin dicapai dari sebuah proses berkomunalitas dapat dicapai dengan efektif dengan membentuk sel-sel kerja yang dihitung cermat efektivitasnya.

Maka, oleh-oleh dari datang mampirnya serangan “asteroid” berupa pandemi di muka bumi saat ini, salah satunya adalah meningkatkan pengayaan di dalam manajamen forum. Dengan pola mengglepung ini, jaga jarak, pembatasan sosial, tidak menjadi penghalang berarti bagi produktivitas. Toh, teknologi informasi saat ini sudah menjadi sumber daya penolong yang tak terkira bisa dimanfaatkan sejauh apa juga bisa.

Bersama-sama kita melakukan inovasi sosial dan menempuh berbagai kemungkinan produk manfaat dengan tetap satu sama lain menjaga kemurnian iktikad. “’Mengglepung’ itu yang saya maksudkan dengan kesadaran sel, kesadaran zarrah, kesadaran gen, kesadaran inti, kesadaran saripati, kesadaran serbuk, kesadaran cahaya, kesadaran Nur Muhammad. Sebab kesadaran akal pikiran dan skala budaya sedang dilumpuhkan oleh Covid-19. Maiyah menghajatkan Wabal kepada Maha Langit, dan oleh Allah dikabulkan taburannya ke Bumi, sehingga Maiyah sendiri terkurung di dalamnya.”, pesan Mbah Nun.

Setelah tidak sibuk sebab sudah dapat mengurangi seremoni-seremoni, ternyata begitu banyak ruang-ruang eksplorasi yang masih bisa kita masuki dan kerjakan.

Buku dan Merchandise