Kita Bersalah Hingga Allah Merajuk

Beberapa hari ini pikiran saya selalu terarah untuk terus memantau notif dalam HP saya dari caknun.com.

Kegundahan hati yang tak bisa dipungkiri lagi atas kejadian yang terjadi di negeri ini dan dunia. Sejak munculnya Tajuk Mbah Nun mengenai virus Covid-19, saya terus berusaha mencari benang merah dari semua itu.

Bukan merasa GR bahwa saya adalah bagian dari Jamaah Maiyah, melainkan lebih dari itu. Kesadaran saya sebagai manusia biasa, yang tak punya daya dan pengetahuan tentang Corona virus. Sementara harapan saya soal reaksi pemerintah untuk menangani kasus ini bagai peribahasa “jauh panggang dari api” dan sama sekali tidak menjawab kegundahan saya.

Di tengah kebingungan saya, saya menemukan secercah edukasi dari Mbah Nun melalui caknun.com, yang membuat saya terus memiliki rasa khusnuzdhon dengan takdir Allah. Saya benar-benar merasa tercerahkan dengan tulisan – tulisan Mbah Nun, terutama dalam menyikapi kondisi sekarang ini. Sebuah garis bawah yang tegas dalam membedakan antara Tawakkal atau Takabbur.

Dengan berbekal “Wirid Maiyah”, saya berlindung dan memohon belas kasih Allah, serta menyapa Allah, yang menurut saya Allah memang sedang merajuk kepada kita.Teringat kata mbah Nun bahwa Allah bisa berposisi sebagai kekasih kita dengan sinyal kemesraan-Nya.

Dengan membaca Khasanah Mbah Nun, saya mencoba mencari benang merah kejadian “wabah” yang menimpa seluruh penduduk dunia tanpa pandang bulu.

Salah satu yang paling membuat saya takut adalah tajuk “DJD“. Lalu saya mencoba mencari dalam Al-Qur’an tentang pemimpin yang dholim, dan saya menemukan jawaban serta kesadaran atas isi dari “Lockdown 309 Tahun”. Dalam ketidakberdayaan saya sebagai manusia, saya bersyukur bisa mengenal dan bisa mendapat tetesan mataair Maiyah, pada saat manusia pada umumnya, dan bahkan orang yang punya kapasitas di negara ini, tak lagi ingat bahwa segala kejadian di dunia ada peran Allah di situ. Mbah Nun datang dan mengingatkan bahwa kita teramat lemah dan tak punya daya apapun atas Allah.

Covid-19 yang tak kasat mata, karena terlalu kecil ukurannya, atas kehendak Allah bisa membuat manusia ketakutan luar biasa. Jika Mbah Nun menggambarkan Corona virus adalah buah/anak dari manusia, itu ada benarnya, karena kesombongan dan keangkuhan manusialah yang melahirkan Corona virus.

Bahkan ketika Allah merajuk dengan datangnya pandemi ini, masih saja tak ada kesadaran untuk “Meng-Allah-kan” ini semua. Masih saja ada kesombongan bahwa mereka baik-baik saja dan bisa melewatinya.

Teringat cerita mbah Nun tentang Nabi Musa yang pernah mengalami sakit perut dalam sebuah perjalanan. Dari cerita itu saya menemukan ada pola yang sama dengan sekarang ini, bahwa daya upaya apapun tak akan menghasilkan apa-apa, jika Allah tidak dilibatkan. Bahkan sekelas Nabi pun ditegur oleh Allah, bagaimana dengan kita manusia biasa yang bau sorga pun belum tentu bisa menghirupnya.

Sebagiamana dalam tulisan Mbah Nun, yang sehat jangan GR merasa beruntung, yang sakit jangan merasa celaka, karena penilaian itu memang mutlak prerograsi Allah.

Jika Allah adalah kekasih kita yang sedang merajuk, menurut saya cara terbaik adalah mengaku salah, seraya mohon ampunan, agar kita kembali mesra kepada Allah.

Kurang lebih itu yang saya bisa tangkap dari Khasanah yang disampaikan Mbah Nun.

Semoga Mbah Nun dan keluarga, serta kita Jamaah Maiyah terus diberi kekuatan oleh Allah, dan selalu dalam lindungan serta rahmat-Nya.

Buku Cak Nun Majalah Sabana