KiaiKanjeng, The Music That Made Me Fall In Love

Cak Nun dan KiaiKanjeng. Nama itu lamat-lamat saya dengar sewaktu SMA-kuliah. Jangankan melihat langsung bagaimana beliau-beliau perform, lagu “Ilir-Ilir” yang sangat ikonik itu, tidak begitu ngeh saya pahami kalau itu adalah salah satu trademark Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Pakdhe saya sewaktu muda sering pergi ke Menturo, Sumobito untuk datang ke Padhangmbulan. Naik Astrea Grand, dari Tulungagung menuju Jombang. Saat itu, saya belum ingin mencari tahu apa itu Padhangmbulan. Hanya pernah terbersit pertanyaan dalam hati; “ini Pakdhe ngapain sih setiap bulan kok bela-belain motoran malam pulang shubuh ke Jombang. Apa istimewanya, pengajian paling ya gitu-gitu aja.”

Baru masa akhir kuliah di Malang, saya menyaksikan penampilan KiaiKanjeng pertama kali. Awalnya saya mengajak teman kos untuk jalan-jalan. Hanya ingin muter-muter cari angin.

Sampailah kami ke depan stasiun Malang Kota Baru. Saya lupa persisnya tanggal berapa, mungkin sekitaran tahun 2012. Ternyata ada acara Ulang Tahun Arema. Cak Nun dan KiaiKanjeng didapuk sebagai pengisi utama.

Ya sudahlah, daripada balik kos pusing bergulat dengan tugas-tugas kuliah, sepeda motor langsung saya parkir. Anggapan saya waktu itu, KiaiKanjeng adalah grup shalawat, atau tepatnya grup kasidah. Pokoke nyanyi-nyanyi shalawatan gitu lah. Terus diselingi tausiyah agama seperti ustadz-ustadz pada umumnya. Dan Cak Nun, dalam bayangan saya adalah vokalisnya sekaligus ustadz yang memberi ceramah. Maklum, saya tahu KiaiKanjeng hanya dari denger-denger sambil lalu. Ngapunten nggih Mbah.

Anggapan saya semakin kuat. Karena setelah sampai di lokasi, pertama kali yang saya dengarkan adalah lagu “Perdamaian” milik Nasida Ria yang dibawakan oleh KiaiKanjeng. Lagu yang sangat familiar, karena dulu waktu kecil hampir setiap hari Ibu selalu memutar lagu ini. “Wah tenan to, iki mung grup kasidah. (Wah benar kan, ini hanya grup kasidah)”, gumam saya dalam hati di parkiran, sambil berjalan mendekat ke arah panggung. Tetapi sepertinya ada yang ‘janggal’. Musik apa ini? Suara dentingan alat musik gamelan dipadu dengan lagu seperti ini, menghadirkan rasa yang lain di hati. Apakah aku jatuh cinta? Cieee. Yang saya tulis ini terkesan hiperbolis bin lebay mungkin. Tetapi ini tentang rasa. Dan rasa itu tidak bisa dibohongi. Ahayy

Lagu “Perdamaian” berakhir, saya hanya dapat separuh lagu, karena memang saya datang sudah agak malam. Saya menunggu lagu selanjutnya, menunggu rasa yang tadi hinggap hadir lagi. Sambil nyimak ceramah yang ternyata, asyik. Sangat cair dan gayeng. Jauh dari anggapan awal, yang mengira sama seperti pengajian pada umumnya yang cenderung satu arah, dan kaku.

Tapi mosok ini pengajian? Tapi kok yang di panggung pakai kopyah semua? Tapi kok ngomongin hal-hal yang menyangkut agama? Tapi kok disangkut-paut sama sepakbola? Tapi kok ada misuh-nya? Tapi kok bukan wujud kemarahan? Tapi kok tertawa bahagia semua, termasuk aku? Tapi kok…. Saya bertengkar dengan pikiran sendiri.

Intro lagu dari bunyi saron membuyarkan lamunan. Rasa yang saya rindukan datang lagi, berdebar. Saya tidak tahu judul lagunya, lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Baru beberapa tahun kemudian saya tahu bahwa judul lagu itu adalah “Ajining Urip” dan yang menyanyikan adalah Mbak Nia.

Saya resapi liriknya, saya nikmati betul-betul alunan musiknya. Damai. Yang paling terasa adalah suara saron, demung, dan seruling. Saya bahagia sekaligus menyesal, kemana saja saya selama ini, kok baru tahu ada lagu dan musik sebagus itu. Ternyata persis seperti ungkapan anak-anak jaman sekarang, “dolanku kurang adoh, mulihku kurang bengi, kopiku kurang pait”.

Sayangnya saya tidak bisa mengikuti lagu-lagu berikutnya, karena sang teman kos buru-buru mengajak pulang. Ngantuk katanya. Apa boleh buat, saya hanya nebeng motornya. Dan rasa itu, perlahan terlupakan karena kesibukan aktivitas di kampus, dan hanya menjadi kegelisahan.

Zaman SMA hingga kuliah adalah zamannya radio. Tahun 90-an akhir dan 2000-an awal, pastinya akses internet belum semudah sekarang. YouTube hanya bisa saya akses di warnet dan itu pun lemot, handphone pun belum berbasis android. Jangan coba-coba main internet lewat handphone saat itu, bisa dipastikan pulsa lenyap sekejap mata. Dan radio adalah media utama saya untuk mendengarkan musik. Zaman itu adalah zaman lagu-lagu anak band. Dewa 19, GIGI, Padi, Sheila On 7 adalah band yang lagunya bisa dipastikan merajai chart tangga lagu. Oh iya, lupa, Letto juga.

Setelah itu, pamor band-band meredup. Saya tidak tahu dinamika apa yang terjadi pada blantika industri musik Indonesia pada saat itu. Produktivitas single lagu dan album dari band top tersebut menurun. Saya pun bukan orang yang paham musik, bukan pula anak band. Jangankan menyanyi, suara batuk saya saja fals. Saya hanya pendengar setia, penikmat musik (terutama band). Tanpa mengerti tangga nada, partitur, not-not, bahkan chord. Blass gak mudeng. Tetapi, saya bisa merasakan, munculnya band-band baru saat itu menurut saya belum sebanding dengan para pendahulu mereka. Akhirnya, passion menikmati musik saya mengalami kejenuhan. Bosan.

Semenjak itu, saya jarang bahkan hampir tidak pernah mendengarkan musik. Sesekali memutar mp3 di handphone, lagu-lagu lama. Dan saya seperti mengalami kekeringan “rohani” musik. Tentu semua sepakat, musik adalah seni. Seni adalah keindahan yang universal. Orang yang bersentuhan dengan seni, pasti mengalami sensasi keindahan. Di situlah saya seakan mencari erinduan akan keindahan yang pernah saya alami. Kerinduan itu, yang saya tak tahu, kepada siapa dan kapan akan berjumpa. Hingga kemudian, takdir memperjalankanku ke Surabaya untuk bekerja. Suatu hari, ada baliho besar di pinggir jalan: “Dies Natalis FISIP Unair, 12-12-2014, Cak Nun dan KiaiKanjeng”. Hati seolah berkata ”Iya, itu beliau. Masya Allah”.

Seperti yang pernah saya saksikan di Malang. KiaiKanjeng yang spektakuler. Yang paling berkesan pada malam itu ialah “Gundul-Gundul Pacul”. Bagaimana bisa lagu dolanan ini disulap dengan aransemen musikal yang sangat ciamik. Diawali dengan Mas Imam Fatawi, vocalis KiaiKanjeng -yang ngaku-ngaku ponakan Bang Haji Rhoma Irama ini- melantunkan syair tersebut diiringi kendang jawa. Dilanjutkan hentakan drum dan bunyi khas saron, demung, bonang, dan seruling yang sangat dominan, dan menjadi nyawa pada aransemen Gundul-Gundul Pacul ini. Juga dipadukan dengan violin, gitar, bass, dan keyboard, yang merupakan alat musik modern.

Ternyata, aransemen lagu ini menyuguhkan permainan instrumen yang panjang. Di tengah-tengah lagu, seperti melodi, adalah permainan satu persatu alat musik gamelan. Vokal kembali masuk, dengan genre yang sepertinya jazzy. Lagu diakhiri dengan teriakan vokal yang jamak didengar pada lagu-lagu jawa. Perfect! Apalagi saya lihat saat itu, Cak Nun menundukkan wajah, memejamkan mata, menikmati lagu sambil kepala beliau bergerak-gerak kecil ke kanan dan kiri. Seolah berdzikir, sangat khusyu’. Dan disinilah saya sepertinya dipertemukan dengan kerinduan yang seakan mengisi lubang hati. Ciaaaa.

Zaman sudah berganti. Akses ke internet sudah sangat mudah. Begitu mudah pula mencari lagu-lagu KiaiKanjeng di YouTube. Saya download lagu KiaiKanjeng yang ada. Semuanya. Bagai orang yang sedang jatuh cinta, tiap hari saya dengarkan dan saya tonton video ceramah-ceramah Cak Nun bersama KiaiKanjeng. Sampai video tersebut gantian menonton saya yang ketiduran.

Semenjak itu, saya jadi tahu lagu dan album KiaiKanjeng, nama-nama personelnya sampai pada alat musik yang dipegang. Saya mulai tahu Maiyah, ada caknun.com, tahu acara Cak Nun dan KiaiKanjeng di berbagai daerah, baik rutinan maupun undangan, terutama di Surabaya dan sekitarnya. Dan yang paling penting, saya tahu jadwalnya! Yang kemudian menenggelamkan saya ke samudera Maiyah, Cak Nun, dan KiaiKanjeng.

Perjalanan sejarah KiaiKanjeng ternyata sangat panjang dan mengagumkan. Eksistensi jam terbangnya menurut saya sudah tidak masuk akal. Sudah 4000 lebih titik yang mereka singgahi di seluruh nusantara bahkan dunia. Apalagi staminanya, bergerak ke jadwal di kota A dan kemudian esoknya di kota B, bahkan meloncat ke provinsi C. Edan! Energi apa yang dimiliki beliau-beliau ini, darimana energi itu didapatkan?

Ternyata baru kemudian saya paham jawaban dari itu semua adalah spirit nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesetiaan, pelayanan, dan katresnan. Musik KiaiKanjeng seakan menghadirkan kontemplasi dan sublimasi diri. Mengisi relung-relung jiwa karena membawa kecenderungan artistik sebagai seni dan nutrisi spiritual dengan balutan lagu-lagu shalawat, ala KiaiKanjeng. Paling tidak, itulah yang saya rasakan.

Tidak terbayangkan bagaimana KiaiKanjeng berjuang dan berkarya. Tentu para jamaah Maiyah sudah mendengar bagaimana The Living Legend ini ikut meredakan ketegangan di Sampit, tour ke Timur Tengah bahkan Eropa, sampai membuat bingung sekaligus penasaran musisi dan peneliti musik dunia terhadap Gamelan KiaiKanjeng ini. Dan masih banyak momen lagi.

Semua musik dari belahan bumi manapun bisa kompatibel dengan gamelannya, bahkan beberapa ada genre yang di mixed. Tetapi KiaiKanjeng tidak mempunyai genre. Genre tidak mampu menampung mereka, karena KiaiKanjeng lebih besar dari sebuah genre itu sendiri. Musik KiaiKanjeng adalah “World Music”, tetapi kalau boleh saya menyebut dengan gelar lain: “Musik Langit”, tapi tetap berpijak di bumi, dengan tawadhu’nya.

Mohon izin, untuk saya nyatakan musik KiaiKanjeng telah menjadi bagian dari hidup saya sehari-hari. Di kantor tempat bekerja, di rumah, di perjalanan, selalu saya putar lagu-lagu masterpiece KiaiKanjeng. Bahkan, tanpa sengaja beberapa teman tertular oleh lagu-lagu KiaiKanjeng yang saya putar dan minta file copy lagunya. Salah satunya ”Sukaro”. Lagu dari The Eastern Star Ummi Kultsum ini menurut saya memang sangat spesial. Arabic klasik, tetapi ada dentang-denting gamelan. Sakral dan magis. Sukaro versi KiaiKanjeng, seperti artinya kata-nya, telah membuat saya semakin mabuk cinta dan menjadi lagu favorit, selain Gundul Pacul, Shohibu Baiti, Hasbunallah, Engkau Menjelang, Sayang Padaku, Kenduri Sholawat, Takbir Akbar, Amemuji, Ajining Urip, Ilir-Ilir, Jembar Atine, Duh Gusti…. Ternyata semua favorit.

Sekian.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun