KiaiKanjeng Sumber Musik Jiwa

“Dhuh Gusti, mugi paringa ing margi kaleresan. Kados margining manungsa kang manggih kanikmatan. Sanes margining manungsa kang Paduka laknati”
(Duh Gusti, berikanlah jalan kebenaran. Seperti jalan manusia yang menemukan kenikmatan. Bukan jalan manusia yang Engkau laknati).

Lagu itu begitu saja diperdengarkan di salah satu handphone seseorang. Saat itu saya bersama teman-teman saya sedang cangkruk di balkon dan baru saja berdiskusi mengenai banyak hal tentang kehidupan.

Ketika pertama kali mendengar lagu itu, ada sesuatu yang membuat saya sadar. Banyak hal terlupa, perkara spiritual utamanya. Betapa seringnya sambat, kadang terlalu asyik cangkruk hingga hampir melupakan sembahyang, dan jarang berdoa. Mendengar lagu itu, seolah jiwa saya sedang disentil untuk kembali kepada jalan kebenaran. Duh, Gusti.

Sejak saat itu saya mulai kepo, siapa sih KiaiKanjeng itu. Ketika ada jadwal Mbah Nun dan KiaiKanjeng, saya berusaha untuk datang. Menikmati langsung, ikut melebur bersama alunan musik. Saya selalu dibuat takjub dengan permainan musik mereka. Sehingga timbul rindu, jika lama tak menonton langsung. Hmmmm.

Mengingat Allah

Jika membicarakan tentang kehidupan, arus yang serba canggih ini juga menuntut kita untuk serba cepat. Duniawi dikejar, hingga melupakan ada jiwa yang haus. Semua orang juga butuh siraman jiwa. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menuntaskan dahaga jiwa.

Salah satunya lewat Maiyah atau Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Bagi saya, mendengar lagu KiaiKanjeng dhuh Gusti dan hasbunallah wa ni’mal wakil sudah melegakan dahaga saya, meski lewat pemutar lagu. Apalagi mendengar secara langsung.

Saya jadi teringat dengan adanya ulama yang mengharamkan musik dengan alasan bisa membuat seseorang jadi lalai dengan Allah dan agama. Sebentar… sebentar, sepertinya ada yang harus dikoreksi. Musik? Alatnya atau bunyinya? Masa iya mengharamkan alatnya yang barang tak hidup. Tetapi bisa juga haram, kalau dibuat untuk keburukan. Atau karena bunyinya, kan musik ada yang diciptakan dan ada bebunyian alam. Misalkan suara burung-burung gitu?

Lalu bagaimana kalau gabungan alat musik yang menimbukan bebunyian dan menghasilkan karya lagu membuat orang jadi ingat Allah dan agamanya? Jadi ingat mati, misalnya? Apa tetap haram? Kan banyak nih genre musik yang Islami banget gitu. Kayak misalnya shalawatan. Toh kita juga tahu bahwa ada seni membaca Al-Qur’an atau qiraah.

Mungkin, mereka hanya melihat dari acara-acara konser musik-musik seperti reggae, dangdut, dan lain sebagainya. Sehingga melupakan ada ada genre-genre bernuansa Islam. Hadeeh. Dan jika pijakan hukum mereka karena takut melalaikan Allah dan agama, scroll story instagram juga bisa haram kalau membuat lalai kepada Allah dan agama.

Menurut saya, berdakwah lewat musik sah-sah saja kan? Yang paling utama dari semuanya kan, niatnya. Toh, bukankah lebih menyenangkan jika mengajak berbuat baik dan mengingatkan dengan cara seni atau apapun itu? Seni adalah wujud keindahan. Dan bukankah Islam sendiri rahmatan lil alamin?

Contohnya saja ya lagu dari Kiaikanjeng ini “Dhuh Gusti.” Dalam lirik lagu tersebut mengandung doa, memohon kepada Gusti Allah agar kita diberikan jalan kebenaran. Kita kan disuruh untuk meminta hanya kepada Allah Swt. Ya ini, sambil menyelam minum air. Sambil mendengarkan musik yang menenangkan, sekaligus kita berdoa kepada Allah. Masa iya musik semacam ini haram? Hmm.

Maka, ketika saya bisa datang ke acara Maiyah dan ada KiaiKanjeng, betapa bahagianya. Apapun lagu yang mereka bawakan selalu menyenangkan dan acara jadi tidak membosankan.

Bahkan menurut saya, hadirnya KiaiKanjeng adalah penyeimbang antara hati dan pikiran ketika pikiran diajak bekerja bersama Sinau Bareng Mbah Nun. Kiaikanjeng ada untuk menyejukkan hati dan pikiran kita. Ah, saya jadi rindu berada di lautan maiyah bersama Kiaikanjeng.

Buku Cak Nun Majalah Sabana