Liputan Singkat Majelis Ilmu Padhangmbulan Menturo Sumbito Jombang, 4 Agustus 2020

Kesanggupan Menemukan Akar

Selasa tadi malam, 4 Agustus 2020, pengajian Padhangmbulan kembali digelar. Kendati harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, jamaah yang hadir lebih banyak dibanding bulan lalu.

Bertempat di halaman samping timur Ndalem Kasepuhan Menturo, acara diawali dengan nderes Al-Qur’an dan disambung wirid bersama Lemut Samudro. Lek Ham memandu dialog bersama Cak Dil, Cak Nas, dan Cak Yus.

Pada sesi pertama, Cak Nas menyampaikan sejumlah pengalaman, di antaranya pengalaman beliau menulis. Mbah Nun adalah saudara tua sekaligus motivator bagi Cak Nas saat mengasah kemampuan menulis. Bahkan Mbah Nun menulis puisi yang dimuat di koran dengan menggunakan nama Cak Nas.

Caknun.com pun turut menayangkan tulisan Cak Nas yang di-kata pengantar-i Mbah Nun dengan judul “Pengantar Sastroludruk.”

Giliran Cak Dil menyampaikan beberapa pemikiran. Selain mengajak jamaah mencermati periihal akar: akar tanaman, akar pepohonan, akar kehidupan, Cak Dil menggali kembali terminologi “Kangen Krasan Otentik” di Padhangmbulan yang kerap disingkat KKO. Dialog bersama jamaah terjalin guyub. Mereka merespons pertanyaan Cak Dil, “Apa otetisitias yang Anda temukan di Pengajian Padhangmbulan?” Beragam jawaban dan respons dari jamaah mengemuka sesuai pengalaman masing-masing.

Tidak ketinggalan Cak Yus turut berbagi pengalaman. Setelah keliling Nusantara pada akhirnya Cak Yus kembali ke desa, menggali potensi desa, merawat potensi pertanian, dan perkebunan di desa. Kini, Cak Yus aktif di salah satu desa di Kec. Wonosalam sebagai “petani”.

Sebagaimana Pengajian Padhangmbulan sebelumnya, malam itu acara berlangsung penuh kebersahajaan dan kekhusyukan. Pukul satu dinihari pengajian ditutup dengan doa.

Syukur selalu kita haturkan kepada Allah Swt atas setiap detail kelembutan nikmat yang diberikan kepada kita. Pengajian Padhangmbulan malam itu menampung sekaligus merangkai detail kelembutan nikmat menjadi cakrawala kesadaran yang menuntun kita menuju cahaya. Ati padhang, pikiran padhang.

Benar apa yang disampaikan Mbah Nun. “Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbahagia karena bahan kegembiraan yang diberikan Allah tiada pernah ada habisnya.”

Buku dan Merchandise