Kesabaran dan Kebersahajaan Rakyat Jawa

Sastraliman, 05 November 2019. Foto: Adin (Dok. Progress).

Mungkin sedikit yang tahu kalau Mas Iman Budhi Santosa memiliki konsep diri selain sebagai manusia Jawa dia juga punya konsep diri sebagai rakyat Jawa kebanyakan, dan berterus terang kalau dia tidak menyukai aristokrat. “Aristokrat itu tidak pernah memikirkan rakyat kecil. Coba zaman Belanda, banyak rakyat kecil sakit, kapan arisokrat memikirkan dan mau mendirikan rumah sakit? Coba di zaman penjajahan Belanda, ketika kebanyakan rakyat kecil bodoh, aristokrat tidak berbuat apa-apa. Malah yang memintarkan rakyat bawah adalah Muhammadiyah dan Taman Siswa,” keluhnya dengan nada pahit.

Memori pahit bahwa aristokrat tidak perah memikirkan rakyat kecil ini, menrut dia bermula dari sering dialognya Mas Iman dengan kakeknya di Magetan Jawa Timur. Kemudian ditambah dengan pengalaman ketika belajar di sekolah perkebunan kemudian bekerja di perkebunan di daerah yang bergunung-gunung, tempat dia banyak bergaul dengan para buruh perkebunan, rakyat kecil terpencil dan mendengar keluhan mereka. Juga kisah ketabahan rakyat kecil itu dalam menjalani profesinya, profesi kecil-kecilan yang sungguh tidak keren kalau menurut istilah anak zaman sekarang.

Ketika praktek berkebun saat sekolah dan ketika betul-betul berkebun di perkebunan, manusia selalu dalam posisi menunduk dan memperhatikan apa yang ada di bawahnya. Tidak ada kok orang berkebun sambil mendongak congkak melihat ke atas. Menunduk. Dan menjadi saksi atas tumbuh dan hadirnya tanah, air, lumpur, rumput, binatang kecil, pohon perdu, pohon yang merambat, pohon keras, buah-buahan, jamur, jasad renik pengganggu tanaman dan sekian banyak pohon yang memiliki khasiat khusus yang dipergunakan rakyat kecil untuk menjaga kesehatannya dan mengobati penyakit atau luka cidera. Sebagai lulusan sekolah perkebunan yang kemudian menekuni dunia perkebunan, dia hapal nama Latin pohon-pohon itu, variasi jenisnya, dan manfaatnya.

Kebiasaan menundukkan kepala dan mengamati hal-hal yang dekat dengan kakinya ini membuat Mas Iman menjadi manusia yang sabar dan bersahaja. Sabar dalam arti lentur jiwanya, bersahaja dalam arti urip ini memang sebaiknya sakmadya wae. Memang kelenturan jiwa penyair ini boleh disebut luar biasa atau melebihi takaran manusia biasa. Walau suatu hari kelenturan ini ada batasnya, tetapi bagi dia memelihara kelenturan jiwa ini penting sebagaimana kebersajahaannya.  Dan dia sering menemukan tindakan taktis yang bagi orang lain tidak masuk akal dan lucu. Dalam perjalanan naik mobil dari Bandung menuju tempat berlangsungya Konres KSI di Cisarua, Mas Iman bilang pusing. Dan apa obatnya? Sederhana. Dia meminta sopir menghentikan mobil di sebuah warung, lalu dia membeli sebotol Sprite dingin. Dia meminumnya separo botol, dan pusing hilang. Lain lagi tindakan taktis yang dia temukan saat sakit gigi menghebat dan nyaris tidak ada obatnya. Dia minta dibelikan tolak angin, di buka dan dia jadikan cairan tolak angin itu untuk berkumur. Mungkin penyakit giginya terkejut dia menemukan dan menggunakan obat yang tidak seperti biasa itu, menyebabkan sang sakit gigi itu pergi terbirit-birit.

Langkah taktis menghadapi sakit dan penyakit mendadak ini tidak pernah diajarkan di sekolah dan tidak ada dalam buku manual penduan para dokter. Dia menemukan sendiri di lapangan, tentu setelah melalui semacam riset yang mendalam, lama, sambil menggunakan logika yang menurut dia logis.Tentu saja cara naif seperti ini juga bisa tidak manjur ketika dipakai sebagai langkah taktis untuk mengatasi semacam konflik di kalangan sastrawan. Mas Iman dengan sabar dan bersahaja melihat konflik antar sastrawan itu secara sabar dan bersahaja. Ketika terjadi eskalalasi yang nyaris tidak terkendali dan bisa menyeret ke arah SARA dia pun minta pertolognan saya untuk mengatasi masalah ini. Saya pun menyederhanakan masalahnya dan melepas sumbu-sumbu konflik sehingga keadaan pun berlangsung damai. Kemudian seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 

Kemudian ada lagi kasus dimana kesabaran dan kebersahjaan Mas Iman menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan teman-teman sastrawan atau penulis agar mau menulis. Waktu itu Mas Iman punya ide untuk menerbitkan kumpulan esai sebagai ide brilian di tengah suasana FKY yang hanya menampikan pertunjukan yang dalam sekejap hilang tidak berbekas.” Buku lebih awet dibanding pertunjukan,” itu alasan yang dia kemukakan. Ide dari bidang sastra ini disetujui Ketua FKY, kalau tidak salah waktu itu Mas Tulus Warsito.

“Buku lebih hebat dari semua pertunjukan itu. Kita perlu membuktikannya,” Katanya. Memang sebagai orang yang sabar, diam-diam dia menabung militansi juga. Semacam sikap keras kepala, tetapi terukur. Kemudian saya dan Mas Iman mengumplkan naskah esai itu. Kami bedua naik sepeda motor berkeliling mengunjungi sekitar 30 penulis atau sastrawan. Masing-masing penulis paling tidak kami kunjungi tiga kali, jadi paling tidak selama sekian bulan itu saya dan Mas Iman melakukan 90 kali kegiatan berkunjung. Siang hari, panas, tidak dirasa. Akhirnya, terkumpul juga eaai yang kemudian terbit menjadi buku dengan judul Begini, Begini Begitu. Mas Iman puas dan sehat-sehat saja, sedang saya kena sedikit ganggguan ginjal karena selama berbulan-bulan itu berpanas-panas kurang minum.

Guru yang mengajarkan ilmu lentur dan ilmu bersahaja dalam hidupnya, selain Umbu Landu Paranggi sang maestro proses, juga kakek dan ibunya. Karakter kakek dia yang tinggal di kampung Kauman Magetan dan punya langgar di depan rumah sangat membekas. Demikian juga welingan dari ibunya. Pitutur luhur yang diberikan pada saat momentum hidup yang penting selalu dia ulang-ulang dalam pembicaraan sehari-hari. Menjadi rujukan. Bagaimana sang kakek mewajibkan dia menulis apa yang dia lihat, bagaimana proses sebuah kehidupan terjadi dan bagaimana sikap dan gaya pohon bambu melawan angin yang betapa pun kuat angin bertiup tidak bisa merobohkannya. Kenapa? Karena bambu hidup berkelompok atau berkomunitas dalam satu rumpun bambu. Ganasnya angin ribu dapat dinetralkan oleh seolidaritas rumpun bambu itu. Ini yang barangkali kemudian hari membuat pribadinya tidak soliter tetapi solider bahkan dia sangat menghargai kehidupan bersama, kehidupan kolektif atau kehidupan yang memiliki kualitas sebagai komunal, komunalisme kreatif. Dalam kehidupan yang demikian spiritualias dan humanitas dipelihara bersama-sama. Ibunya melengkapi dengan welingan berupa pentingya srawung bersama orang lain.

Mas Iman pun kemudian sering mengritik praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang cenderung kacau dan mengalami disharmoni karena meninggalkan asas kehidupan bersama. Yang dia sebut sebagai warisan budaya Timur itu. “Kita sekarang, bahkan sejak lama memilih hidup secara individualistik dan materialistik, bahkan memuja kapital atau kapitalistik. Ini hadir sampai pada tingkat berpikir dan tingkat menentukan kebijakan. Maka lihat, individualisme, materialisme, dan kapitalisme gagal sebagai solusi untuk menyejahterakan rakyat, masyarakat dan bangsa kita,” katanya dengan suara lirih tetapi penuh tekanan. Coba, kalau dia mau sedikt saja menaikkan volume dan nada suaranya pasti mirip dengan seorang orator yang bisa membakar massa demonstran. Tetapi dia memilih bersuara lirih, sederhana dan ia percaya dengan itu bisa menularkan kesadaran bahwa ada yang salah dari bangsa ini.

Dalam hal ini kelenturan jiwa dan sikapnya ternyata menyembunyikan kekuatan atau power nilai dan menyembunyikan militansinya dalam berjuang memperbaiki kehidupan dengan jurus merawat pohon-pohon kehidupan, termasuk pohon sastra dan budaya. Mas Iman menunjukkan bahwa dirinya bisa mengeras bahkan keras kepala ketika mempertahankan pendirian terhadap masalah yang cukup penting dan strategis. “Saya tetap memilih menggunakan kata Yogya yang jelas maknanya ketimbang kata Jogja yang tidak jelas maknanya. Apa sih hebatnya kata Jogja dibanding kata Yogya?” katanya ketus.

Nah, kalau Mas Iman sudah mulai mengeluarkan kata-kata, apa sih hebatnya, apalagi kalau kemudian dilengkapi dengan semacam kata makian khas Jawa Timur yang dilontarkan dengan sopan, berarti dia sudah sampai harus bersikap militan dalam mempertahankan piilihannya. Termasuk ketika dia berkata,” Apa sih hebatnya para aristokrat dibanding wong cilik yang dengan tekun memelihara alam dan kehidupan dengan melakukan pekerjaan atau kegiatan kecil, detail dan jelas bermanfaat bagi dirinya, keluaganya dan tertangga.” Mungkin karena Mas Iman kurang suka memasuki perbincangan atau wacana politik, maka kurang tahu kalau hari-hari ini kaum aristrokrat itu telah mengalami perubahan bentuk dan format menjadi kaum oligarki yang sekarang ini berkuasa dan menguasai kekuasaan yang mengendalikan negeri dengan ekspresi politik dinasti dan berpihak kepada kekuatan ekonomi yang besar dengan ekspresi ekonominya, memanjakan investasi.  Saya belum pernah mendengar Mas Iman berucap,”Apa sih hebatnya oligarki, politik dinasti dan investasi?” Mas Iman rupanya diselamatkan oleh Tuhan dan dijauhkan dari kata-kata dan pengertian oligarki, politik dinasti dan investasi sehingga Mas Iman menjadi tidak gelisah dan risau karenanya. Dia sudah cukup terbebani dan terganggu dengan kata dan praktik aristokrasi, dan Tuhan tidak menambah beban jiwanya dengan hal-hal yang baru.

Mengapa Mas Iman Budi Santosa mampu memelihara kelenturn jiwa dan militansi dalam memperjuangkan nilai-nilai kehidupan yang bagi dia layak dan harus dimiliki dan dipelihara oleh masyarakat, bangsa dan rakyat negeri ini?  Karena Mas Iman adalah seorang pendekar dalam ati sesungguhnya. Mas Iman menguasai ilmu beladiri pencak silar sampai ke tingkat filosofi dan spiritualnya. Dalam sebuah pertarungan persahabatan antar perguruan pencak silat Yogyakarta di bawah pengawasan Ngarsa Dalem ke-IX di Ndalem yang letaknya di kampung Notoprajan Mas Iman berhadapan dengan pesilat dari Kauman. Karena cah Kauman melancarkan jurus cepat sekali, kalau tidak salah jurus tendangan ikan terbang, Mas Iman tidak sempat menghindar. Keluarlah gerak refleks berupa jurus tangkisan yang sebenarnya dilarang dipergunakan di pertarungan persahabatan itu karena bisa melukai. Mas Iman mengluarkan jurus -yang kalau di Perpi disebut jurus potongan- berupa totokan keras mengarah ke pergelangan kaki lawan. Ini membuat cah Kauman itu terpincang-pincang. Guru pencak silat Mas Iman marah, memarahi Mas Iman karena menggunakan jurus larangan ini dan memerintahkan Mas Iman untuk minta maaf kepada lawannya dan kepada pendekar yang menjadi guru cah Kauman tadi, kalau tidak salah, Pak Barie namanya, pendri perguruan Tapak Suci.  Dengan sikap ksatria Mas Iman meminta maaf kepada lawannya dan guru lawan tandingnya. Tentu saja ketidaksengajaan, karena gerak refleks terpaksa, maka Mas Iman dimaafkan. Setelah itu dengan cepat cah Kauman disembuhkan pincangnya oleh gurunya sendiri. Pesoalan selesai dan Mas Iman selalu mengenang peristiwa itu selama hidupnya dan menjadi pelajaran bahwa masih perlu mengembangkan ilmu melenturkan diri dengan kecepatan lebih tinggi lagi sehingga bisa mengehindar dari serangan lawan tanpa harus membuat lawan cidera.

Para pendekar yang sudah melampaui penguasaan keterampilan fisik jurus-jurus dan merambah pada kemampuan atau kapasitasnya masuk maqom atau lavel filosofi dan spiritual pencak silat biasanya percaya diri dan justru selalu bersahaja dan berendah hati tanpa harus rendah diri. Kekuatan spiritualnya dia sembunyikan rapat-rapat dan nyaris tidak pernah dia gunakan. Dalam sebuah kesempartan ngobrol dia pernah bilang ada ajian dahsyat dari sebuah perguruan pencak silat di Magetan atau Jawa Timur dan untuk mempelajari dan menguasainya justru harus melatih diri untuk mengendalikan kekuatn-kekuatan di dalam diri. Makin menguasai dirinya, maksudnya, makin menguasai dan mengendalikan unsur-unsur alam di dalam dirinya, makin bisa dia menguasai ajian itu. Saya sungguh tidak tahu setinggi mana penguasaan kualitas spirituall pencak silatnya, tetapi ketika Mas Iman menstransformasi energi spiritualnya menjadi baris kata-kata, puisi, saya bisa merasakan kekuatannya. Nah, Mas Iman pun mengubah dan memilih menjadi pendekar kata-kata atau pendekar sastra ketimbang pendekar pencak silat.

Dalam hal ini kelenturan, kebersahajaan sekaligus miitansinya yang jangkep sebagai manusia dan rakyat  Jawa terasa berfungsi secara optimal dan bemanfaat begi kebidupan bersama masyarakat dan komunitas sastra dan budaya Yogyakarta dan Indonesia. Disinilah arti penting kehadiran Mas Iman Budi Santosa yang dengan jasa-jasa kultural spirualnya bisa memudahkan jalannya untuk menemui Tuhannya. Amal jariyah berupa ilmu dan kesadaran hidup bermakna yang dimanfaatkan oleh para murid dan sahabatnya akan membuahkan pahala yang selalu dia panen setelah kematiannya. Semoga demikianlah adanya. Aamiin.

Yogyakarta, 10 Desember – 11 Desember 2020

Lainnya