Keperluan Identitas

Sudah cukup lama, sebagian kita mengetahui adanya personalitas dan identitas, perbedaan antara keduanya, dan bahkan mampu mengidentifikasi bahwa selembar KTP sebenarnya adalah kartu yang lebih banyak memuat tentang personalitas. Sehingga, ternyata penamaan KTP sebagai kartu identitas tidak tepat-tepat amat.

Juga telah disadari, bahwa identitas seringkali menjebak diri kita untuk bertemu dengan jabang bayi dari diri kita, sebuah otentisitas manusia dan kemanusiaan. Salah satu alternatif cara untuk bertemu diri sendiri adalah dengan meniadakan identitas. Dalam tauhid, peniadaan disebut sebagai nafi’an. Proses kesadaran untuk melepaskan semua atribut jasadiyah, dan pada akhirnya bermuara kepada proses itsbatan. Penetapan ke-tunggal-an.

Mas Sabrang pernah berkata bahwa identitas itu seperti sebuah kapal yang digunakan untuk menyeberangi selat. Maka, jika telah sampai daratan, tidak logis jika kita masih menyeret kapal yang kita tunggangi di daratan. Setiap manusia memiliki prosesnya dalam menyeberangi selat. Tetapi dalam jarak pandang yang lebih luas lagi, daratan pun ternyata hanya sebuah tempat singgah dalam sebuah perjalanan yang lebih panjang.

Maka kendaraan darat, yang memiliki roda misal, dibutuhkan untuk meneruskan perjalanan lagi. Urusannya hanyalah kompatibilitas moda. Maka, identitas ternyata juga diperlukan untuk menyesuaikan diri agar kompatibel dengan ruangnya. Sederhananya, kita tidak akan bisa bicara tentang Langrarian perspective, misalnya, dengan anak kelas 3 SD yang sedang gandrung-gandrung-nya bercerita tokoh kartun favoritnya.

Mungkin analogi identitas lain adalah drama topeng. Solan-salin slaganing manungsa. Terkadang ia harus berperan sebagai lelaki dengan topeng ayah, lain waktu dengan topeng tentara, atau juga dengan topeng dokter. Drama menjadi hidup karena banyak peran. Yang penting adalah kesungguhan dalam menjalani peran. Juga kesadaran bahwa ia sedang menggunakan topeng dalam perannya. Bukan justru terjebak pada karakter topeng yang dibawa. Inilah profesionalitas. Kemampuan membaca kahanan. Tahu peran dan kapan memainkannya.

Kesadaran berganti moda transportasi atau pun berganti topeng menjadikan identitas juga diperlukan dalam hidup. Sebab, mungkin dalam identitas itu kita mampu mendayagunakan fadhilah, potensi yang Allah titipkan kepada kita. Identitas dibutuhkan semata untuk urusan profesionalisme kerja. Selebihnya, dalam hidup yang tersisa adalah kesadaran kita untuk memahami bahwa segala identitas akan lebur dalam ke-Maha Tunggal-an peran.

Buku Cak Nun Majalah Sabana