Kembali Ke Huma Berhati

Posko perbatasan Polewali Mandar Majene.
Posko perbatasan Polewali Mandar Majene. (Dok. Haidir Jamal)

Sudah sebulan lebih siklus hidup berubah sejak Virus Corona menyebar di Indonesia. Hidup seperti lagu Mbah Surip yang populer itu: “Bangun tidur tidur lagi, bangun lagi tidur lagi”. Hampir seluruh pola hidup manusia terpengaruh oleh virus misterius Covid-19 ini. Dari kalangan pejabat tinggi, masyarakat menengah, hingga apalagi wong cilik, semua terganggu rutinitas kesehariannya dalam mencari makan dan memenuhi kebutuhan primer mereka.

Pekerjaan saya saat ini sebagai Penghulu yang dulunya banyak berada di kantor dan rumah-rumah calon pengantin perempuan di mana akad nikah dilaksanakan dan kini dialihkan ke rumah. Istilah kerennya Work From Home. Saya hanya pergi ke kantor jika ada hal-hal mendesak yang mengharuskan saya ke kantor di Kecamatan Tutar daerah pegunungan di Kabupaten Polewali Mandar.

Saat ini, rumah tinggal menjadi multifungsi. Di samping sebagai tempat keluarga menetap, rumah kini berubah menjadi kantor sementara dan tempat ibadah sejak MUI mengeluarkan Maklumat agar kita shalat di rumah saja dan masjid ditutup dari shalat berjamaah.

Rumah kembali menjadi tempat paling nyaman. Mengutip Nabi Muhammad Saw: bayti jannati (rumahku surgaku). Di rumahlah keluarga menetap, Setelah sekian lama memutuskan menikah, hampir semua aktivitas saya sebagai PNS dan penggiat seni di Teater Flamboyant berada di luar rumah. Tidak terasa, tumbuh semakin dewasa dan kini sebagai ayah saya harus mendidik mereka mengajari iqra’ dan belajar di rumah.

Menyuplik apa yang dituliskan Umbu Landu Paranggi pada 1970-an silam dalam puisi berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”, pada bait terakhir: “Pulanglah ke desa membangun esok hari kembali ke huma berhati”. Apa yang dikatakan Umbu Landu Paranggi itu kini menjadi kenyataan bahwa desa menjadi ruang bagi nilai-nilai kebersamaan ditanamkan dan menghasilkan buah berupa gotong royong, guyub rukun, tepa slira, andap ashor.  Dengan adanya wabah Corona yang menjalar ini, saya menyaksikan di desa-desa sekitar saya, dan semua masyarakat mengambil peran di bawah kepemimpinan pemerintah Desa. Ada yang menjadi relawan yang menjaga posko siaga Covid-19, ada yang menjahit masker, menyemprotkan disinfektan ke rumah-rumah warga, dan ada yang Stay at Home berdiam diri di rumah mengurusi keluarganya.

Kembali ke huma berhati sepatutnya menjadi prinsip hidup saat ini. Bahwa rumah bukanlah rumah jika tidak ada cinta di dalamnya. Rumah menjadi pusat penggemblengan utama manusia dan  tempat di mana dinamika kehidupan berlangsung, suka duka, dan tangis tawa, dan semuanya berlangsung indah dan penuh kebahagiaan. Rumah adalah fondasi utama pembangunan masyarakat.

Manusia bisa saja memprediksi kapan wabah Corona berakhir, tetapi yang lebih penting adalah apa yang akan berubah dalam kehidupan kita pasca Corona ini? Saatnya manusia merenung dan memikirkan kembali bahwa bisa saja banyak hal yang kita lalaikan, banyak hal mendasar yang kita sepelekan, dan apa yang seharusnya nomor satu dalam kehidupan ini telah kita posisikan menjadi nomor sekian. Mungkin ada sifat takabbur, ada keserakahan, atau kita sering merusak bumi sehingga Allah menurunkan wabah ini dan menyebarkannya ke semua penjuru bumi akibat perilaku kita sendiri. Maka alangkah cocoknya kalau ber-istighfar, sesering mungkin kita bershalawat mohon perkenan syafa’at Nabi Muhammad Saw saat ini hingga di kehidupan akhirat mendatang.

Virus Corona dan Perubahan-perubahan

Pada suatu kesempatan Mas Sabrang pernah mengungkapkan pernyataan singkat: “Berubah atau punah!” Setelah Corona berlalu apa yang akan terjadi di bumi ini? Banyak harapan yang muncul. Ada yang berpendapat kapitalisme akan ditinggalkan. Orang-orang akan lebih menyeleksi dan mengkonsumsi barang-barang yang primer dan mendasar bagi kebutuhan hidupnya. Ekonomi terguncang, tapi saat itulah daya survival dan kebersamaan rakyat Indonesia akan kembali diuji. Mungkin ada perubahan sosial dalam skala besar di mana kebersamaan dalam masyarakat tumbuh kembali, anggota keluarga akan saling menguatkan, kemesraan berumah tangga terjalin dan cinta di antara sesama akan bersemi.

Penulis berada di Posko Desa Arabua Kec. Tutar Pol-Man. (Dok. Penulis)

Kita semua berdoa semoga ini bukanlah awal kepunahan ummat manusia tapi awal kebangkitan peradaban baru. Kebiasaan-kebiasaan lama yang merusak keharmonisan dengan alam akan ditinggalkan. Cahaya baru akan muncul dan terbit dari timur. Langit semakin biru, lapisan ozon kembali menebal, udara di langit tampak bersih, bumi sedang berbenah dan kotoran jasmani dan rohani manusia yang menghuninya dibersihkan dengan berbagai macam doa, wirid, dan vaksin tertentu. Ummat manusia tersadar dan terbuka matanya untuk segera melakukan perubahan minimal kepada dirinya sendiri dan keluarganya di mana Allah mewanti-wanti itu dalam salah satu firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Dan Maiyah yang menggaungkan nilai kebersamaan di mana-mana akan memasuki gerbang peradaban yang baru. Pada saat saya menulis ini Abah Tammalele — salah seorang sesepuh simpul Papperandang Ate di Mandar singgah ke rumah dan menitipkan pertanyaan yang lumayan memberikan semangat, “Apakah ketakutan mesti kita takuti? Apakah mungkin ketakutan bisa diubah menjadi kekuatan?” Harapan yang utama adalah semoga kita semua sehat selamat dalam penjagaan Allah dan syafaat Rasul terkasih-Nya dan kita diperkenankan menyongsong peradaban baru itu bersama Mbah Nun dan para Marja’ Maiyah lainnya.

Lainnya

Nostalgia Masa Corona

Di Rumah (Maiyah) Saja

OMA(H)IYAH

72

Kegembiraan Bersedekah

Buku dan Merchandise