Kebangkitan Civil Solidarity Pasca Covid-19

Catatan Reboan on the Sky, 15 April 2020

Apakah skema bekerja dari rumah atau Work from Home saat ini akan menjadi sebuah tradisi baru setelah pandemi Covid-19 ini mereda? Lantas bagaimana dengan mereka yang tetap harus bekerja di luar rumah? Apakah akan tetap ngebul dapurnya? Bagaimana masyarakat akan mampu bertahan hidup dengan kondisi seperti sekarang ini?

Solidaritas masyarakat sudah terbangun dengan sangat baik. Semua memiliki semangat berbagi yang tinggi. Tetapi, sampai kapan akan bertahan? Hari-hari selanjutnya, tidak mungkin masyarakat akan share terus, dan sebaliknya mereka butuh saving. Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki perbekalan yang cukup? Sekian banyak pertanyaan muncul hari-hari ini.

Sekarang kita semua mengakui bahwa Covid-19 memberikan shock therapy sangat dahsyat. Seluruh dunia merasakan guncangan luar biasa. Beberapa penelitian terbaru mengungkapkan prediksi bahwa Physical Distancing akan memakan waktu lebih lama dari yang kita bayangkan.

Penelitian Harvard terbaru menyatakan situasi ini akan berlangsung hingga 2022. Marc Lipsitch, seorang Profesor Epidemiologi di Harvard, menyatakan bahwa infeksi Corona menyebar ketika ada dua hal: orang yang terinfeksi dan orang yang rentan. Kecuali jika ada kekebalan kelompok yang jauh lebih besar dari yang kita sadari. Padahal mayoritas populasi manusia di dunia saat ini masih rentan.

Apa yang Utama: Keamanan, Keselamatan, Kesehatan atau Kepemilikan Aset?

Di Reboan on the Sky edisi sebelumnya telah dibahas mengenai bagaimana sistem ekonomi dunia kini berada pada titik nadir. Rabu, 15 April 2020 lalu, penggiat Kenduri Cinta kembali menyelenggarakan Reboan on the Sky dengan narasumber Mas Ian L. Betts dan Mas Sabrang MDP. Tentu saja dengan memanfaatkan teknologi Conference Call yang kini banyak digunakan selama pandemi.

Meskipun dilakukan secara online, sebisa mungkin diatur dan ditata jalannya diskusi, agar tidak sekadar menjadi momen cangkrukan online. Setelah dilakukan evaluasi atas penyelenggaraan Reboan on the Sky sebelumnya, dibentuklah tim kecil yang tidak hanya melibatkan penggiat Kenduri Cinta, tetapi juga Inti Kadipiro, Progress, dan juga Koordinator Simpul. Reboan on the Sky edisi 15 April 2020 menghadirkan dua narasumber: Mas Ian L. Betts dan Mas Sabrang MDP.

Masing-masing narasumber disiapkan tema untuk jadi pembahasan utama pada setiap sesi diskusi. Mas Ian L. Betts dibekali tema; “Post Covid-19: From the Fall of Capitalism to the rise of Civil Solidarity”, yang menitikberatkan pada kebangkitan lahirnya kesadaran komunal untuk saling berbagi. Sementara Mas Sabrang MDP membahas: “Antara Awareness dan Consciousness: Maiyah merespons Covid-19”.

Pada diskusi Reboan on the Sky Rabu malam lalu Mas Ian kembali menegaskan sistem ekonomi dunia saat ini terbukti tidak mampu merespons pandemi Covid-19. Krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 ini berimbas besar pada hampir semua sektor kehidupan manusia di dunia tanpa terkecuali.

Selain itu, Mas Ian menyatakan bahwa demokrasi liberal, secara sistem politik, mau tidak mau akan terkena dampaknya, dan itu tidak mungkin kembali dipertahankan setelah Covid-19 berakhir. Cara pandang manusia akan berubah. Saat ini, hampir seluruh manusia mengutamakan keamanan, keselamatan, dan kesehatan daripada kepemilikan aset.

Health System Quality akan menjadi concern utama seluruh dunia pascapandemi Covid-19. Hal itu dikarenakan Health System Quality menjadi faktor sangat penting untuk sistem ekonomi dunia selanjutnya. Saat ini tidak ada sistem kesehatan yang memadai, sehingga seluruh dunia merasakan guncangan dahsyat hanya karena Covid-19.

Berbicara Civil Solidarity, Mas Ian mengatakan saat ini seluruh perusahaan besar di dunia sudah turun tangan membantu penanganan pandemi Covid-19, baik secara lokal di negara mereka maupun secara internasional melalui WHO. Banyak dana digelontorkan perusahaan multinasional untuk membantu penanganan pandemi Covid-19. Perusahaan-perusahaan besar tersebut pada akhirnya turut merespons Civil Solidarity yang sudah terbangun di kalangan masyarakat.

Solidaritas yang tinggi juga diperlihatkan oleh masyarakat. Terbangun suasana gotong-royong, saling berbagi, saling mencukupi, saling menguatkan, dan saling mengamankan. Ditegaskan pula oleh Mas Ian bahwa selama ini kita sudah merintis itu semua di Maiyah.

Kompetisi vs Kolaborasi

Mas Sabrang kemudian merespons penelitian seorang profesor Harvard yang menyatakan bahwa pandemi Covid-19 ini bisa berlangsung sampai 2022 bahkan 2025. Saat ini kita harus mengasumsikan bahwa pandemi akan berlangsung selamanya. Apa bedanya lima tahun dengan selamanya? Lima tahun juga bukan waktu yang sebentar jika kita lalui dengan cara seperti masa-masa saat ini.

Pada saat-saat ini kita harus menjadi decision maker, meskipun pada skala yang kecil. Mas Sabrang menyampaikan bahwa Maiyah sudah memiliki Social Capital sangat memadai. Pada satu sisi, ini menjadi momen sangat berharga bagi lahirnya perubahan secara komunal.

Mas Sabrang menjelaskan pada momen krisis seperti ini potensi akan terjadi perubahan sangat besar. Dahulu pada 1945 ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh sekutu, Jepang merespons dengan mengambil keputusan besar dan tepat. Tentu saja mereka menjalani hari-hari dengan kesedihan setelah sekian banyak nyawa melayang, apalagi dampak bom atom tidaklah sederhana. Tapi kita bisa melihat bagaimana kemudian Jepang merintis kembali negaranya sendiri.

“Seseorang ketika menghadapi krisis akan mengalami dua tahap. Pertama, menjadi korban. Kedua, mengambil tantangan. Semakin cepat orang beralih ke tahap kedua maka semakin mampu menghadapi keadaan,” ungkap Mas Sabrang.

Berbicara mengenai Awareness dan Consciousness, Mas Sabrang menjelaskan bahwa Awareneess itu dialami oleh semua makhluk di bumi, termasuk virus sekalipun. Meskipun tidak menggunakan indera, tetapi bisa juga menggunakan chemical di sekitarnya. Sementara Consciousness berbeda. Ia adalah kecerdasan. Itu harus dilatih. Tidak bisa didapatkan secara instan.

Dampak yang terasa hari ini adalah adanya shifting alias peralihan profesi. Kita lihat di Amerika ada 16 juta rakyat yang menganggur, di Indonesia pun jumlahnya juga banyak. Memang beginilah situasinya. Sebabnya sederhana, yakni tidak seimbang antara supply and demand.

Misalnya, tentang gaya hidup. Setelah ini orang tidak akan peduli apakah ia memakai baju, tas, sepatu, jam, dan barang bermerek lainnya. Ini disebabkan kebutuhan utama mereka sekarang adalah pangan. Kebutuhan bendawi  dan bermerek menjadi tidak primer lagi. Industri yang “penting” akan tetap bertahan; industri yang “tidak penting” akan gulung tikar.

Sebelum Covid-19, kita melihat betapa gaya hidup masyarakat kita sangat bergantung pada hal-hal “tidak penting”. Termasuk industri traveling juga mengalami guncangan tak kalah dahsyat. Karena, industri traveling, menurut Mas Sabrang, masuk dalam kategori “tidak penting”.

Tantangan yang harus dihadapi bersama setelah Covid-19 berlalu adalah seluruh dunia harus menemukan jenis-jenis pekerjaan yang tidak mudah tergilas oleh situasi seperti sekarang. Tidak semua start-up tumbang pada momen seperti ini. Mas Sabrang mencontohkan TaniHub baru saja mendapat suntikan 17 juta USD. Kenapa demikian? Karena perusahaan ini menjalankan bisnis barang “penting”. Maka investor pun melihat peluang bahwa bisnis yang dijalankan TaniHub adalah bisnis yang akan survive.

Dengan suntikan dana sebesar 17 juta USD TaniHub kini menargetkan mampu menjangkau setidaknya 21 ribu petani di seluruh Indonesia. Bahkan, pada 2021, TaniHub menargetkan setidaknya 100 ribu petani yang terhubung dalam sistem yang mereka bangun. Sangat berbeda dengan industri traveling seperti AirBnB yang sudah merasakan dampak nyata selama pandemi.

Sebenarnya para orang kaya sudah melihat potensi kolaborasi dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun suasana kompetisi tetap berlangsung, tetapi sebenarnya mereka juga sudah merintis sistem kolaborasi. Pada akhirnya tujuannya adalah mencari konsep mana yang paling menguntungkan. Setelah ini banyak orang memprediksi bahwa kompetisi tidak akan laku karena yang akan diadopsi adalah kolaborasi.

Mas Jamal yang sekarang tinggal di Chicago ikut urun pendapat. Menurutnya, setelah pandemi Covid-19 berakhir, Maiyah membutuhkan komandan yang lebih dari sekadar Koordinator Simpul Maiyah. Selain komando, menurut Mas Jamal, penguatan sistem justru lebih mutlak diutamakan.

Berkaca pada dunia pesantren, lanjut Mas Jamal, pesantren bisa runtuh di generasi ketiga. Apalagi ketika pendirinya yang mengambil alih teknis manajerial. Kalau pada generasi ke-3 proses membangun sistemnya tuntas, maka pesantren tersebut akan terus bertahan.

Hipotesis yang dapat diambil dari pengalaman manusia sebelumnya adalah jika regenerasi berasal dari hubungan darah maka yang dibangun adalah kerajaan. Jika regenerasi dibangun dengan skema one man one vote, seperti yang kita alami sekarang, maka itu merupakan bentuk demokrasi liberal.

Manusia Komunal, Manusia Segala Cuaca

Kita semua harus semakin menyadari bahwa ini adalah rakaat panjang. Maiyah sudah melakukan pembangunan social capital, tetapi belum melanjutkan ke tahap pembangunan ekonomi, society, dan lain-lain. Setidaknya kita sudah punya modal social capital tersebut.

Kemudian, Syaikh Kamba pun sepakat dengan Mas Sabrang. Menurutnya, saat ini yang kita butuhkan adalah kesiapan daya tahan pangan yang memadai. Sudah tidak penting lagi gaya hidup. Ditambah kapitalisme global diprediksi hancur. Menurut Syaikh Kamba, kita tidak bisa terus-menerus menggantungkan pada kesadaran berbagi setiap manusia, karena pada dasarnya kita kelak juga membutuhkan sumber daya yang kita miliki. Maka, kolaborasi dalam sistem pangan akan menjadi konsentrasi utama dunia setelah ini.

Tidak ada sejarah permusuhan dalam hal pangan. Dulu meskipun bermusuhan, Amerika mengimpor gandum dari Rusia. Dan sebaliknya, Rusia mengimpor kentang dari Amerika. Negara yang bersaing secara politik terbiasa saling mengimpor bahan makanan, karena tidak ada satu negara pun yang memiliki semua kebutuhan pangan manusia di seluruh dunia.

Ditegaskan pula oleh Syaikh Kamba bahwa saat ini yang harus kita utamakan adalah membereskan diri kita sendiri terlebih dahulu. Jika diri kita sudah beres baru kita pikirkan untuk membantu orang lain.

Yai Toto Rahardjo merespons bahwa perubahan besar memang selalu lahir dari sebuah peristiwa besar. Dari perang dunia, lahirlah PBB, kemudian lahir berbagai macam konsensus-konsensus di dunia, termasuk Human Rights, yang kemudian dibajak kapitalisme.

Menurut Yai Tohar, orang-orang yang mampu bertahan pada kondisi seperti ini adalah mereka yang sudah terbiasa hidup secara komunal. Suku-suku pedalaman di Indonesia masih menjaga tradisi komunal ini. Mereka sama sekali tidak tersentuh kapitalisme. Bagi mereka, kesejahteraan, keamanan, dan keselamatan bersama adalah sesuatu yang mutlak.

Maka sebenarnya saat ini adalah momentum yang tepat bagi Jamaah Maiyah untuk mengaplikasikan nilai-nilai Maiyah yang selama ini didapatkan dari Sinau Bareng. Pada skala terkecil di lingkungan masing-masing, saat ini adalah momen yang baik untuk membuktikan bahwa Jamaah Maiyah adalah benar-benar man of all seasons seperti kata Mbah Nun.

Saat-saat seperti ini daya kreativitas manusia tertantang untuk selalu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam berbagai hal. Reboan on the Sky ini adalah salah satu inovasi tersebut, yang digagas oleh penggiat Kenduri Cinta.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun