Kawah Candradimuka Rumah Maiyah

Pelatihan Menulis bersama Redaktur caknun.com

Alhamdulillah hari Sabtu 4 Januari 2020 merupakan hari bersejarah bagi saya setelah belasan tahun tak menginjakkan kaki di jalan Barokah Kadipiro Yogyakarta.

Sekitar tiga belas tahun yang lalu saya menyusuri jalanan Kadipiro ini dengan menjajakan kaos kaki. Dulu, Rumah Maiyah belum disebut sebagai Rumah Maiyah, yang saya tahu sebatas sekretariatan Progress, KiaiKanjeng, dan kelompok musik indie (band1t.com — red). Juga Rumah Maiyah belum dihiasi Perpustakaan EAN, Syini Kopi, dan Studio Geese. Sekarang Rumah Maiyah bertambah ramai dengan aktivitas mengasyikkan dalam mengasah kemampuan dan kemauan. Sekarang hampir setiap hari Rumah Maiyah menjadi kawah candradimukanya anak muda dari berbagai penjuru nusantara.

Dulu saat memasuki pelatarannya ada keinginan singgah, minimal duduk-duduk kemudian mendapati Cak Nun lewat dan saya menyucup tangan beliau, syukur-syukur dielus kepala saya. Itulah kerinduan masa lalu waktu kuliah nyambi nyales di Yogyakarta.

Saya menghayati sehari berjalan kaki tiga sampai tujuh kilometer nyales kaos kaki terasa nikmat. Hati menghibur diri dengan inspirasi sepenggal kisah alumni Universitas Malioboro yang sering dikisahkan oleh Cak Nun. Mereka sering berjalan hingga belasan kilometer. Bahkan latihan pementasan di Magelang ditempuh dengan jalan kaki dari Yogyakarta.

Hari itu ketika Yogyakarta dirundung mendung dan gerimis, dada ini terasa lega ketika kerinduan itu berlabuh menemukan fajarnya cinta. Sapaan khas sedulur Maiyah menyalami mengulurkan tangan dengan manisnya senyuman. Ternyata mereka datang dari berbagai daerah, sampai ada yang dari Lampung dan Batam. Nuansa paseduluran teman teman Maiyah dari berbagai kota tersemai di Rumah Maiyah yang selalu kita sirami dengan canda tawa dan saling mengabarkan.

Pagi itu jam dinding yang berlabel Kopassus menunjukkan pukul 08.15 WIB. Sesuai jadwal rencananya pelatihan menulis dimulai pada pukul 08.00 WIB, karena menunggu kedatangan sebagian para murid, acara baru dimulai pada pukul 08.30. Para calon penulis ini mulai merapat berhadapan dengan juru tulis caknun.com ini. Di antara mereka juga beberapa dari koordinator simpul pusat, diantaranya Mas Rizky dari Juguran Syafaat dan Mas Fahmi dari Kenduri Cinta Jakarta.

Kalau kita lihat “tak disangka sebelumnya, antusias sedulur maiyah mengikuti latihan menulis begitu tinggi,” demikian pernyataan Mas Fahmi Agustian saat awal menyapa para sedulur mengantarkan permulaan acara. Penggiat Kenduri Cinta itu menuturkan bahwa latihan menulis ini bukan yang pertama, tetapi sudah dimulai pelatihan-pelatihan menulis di beberapa simpul, dan insyaallah pelatihan menulis yang diprakarsai koordinator simpul itu akan terus ditindaklanjuti.

Pelatihan ini juga merupakan respons dari keresahan Mbah Nun tentang dinamika Maiyah. Yang saya tahu pernyataan beliau disampaikan pertama kali di acara silaturahim nasional simpul maiyah di semarang. “Maiyahan itu tidak hanya begini saja.”  Pernyataan singkat itu membuat beberapa penggiat mulai mengencangkan pikir, menata diri sampai menata organisme simpul agar meluaskan dan mengaplikasikan nilai-nilai Maiyah ke dalam ranah pemberdayaan.

Saya sempat ketemu Adam, penggiat dari Simpul Maiyah Kenduri Cinta Jakarta, yang bercerita tentang ikhtiar membangun pemberdayaan ekonomi melalui ternak lele bersama sedulur Maiyah di Banten. Pada bulan ini Adam mengaku telah menyuplai tiga kwintal kebutuhan Lele disebar pasar-pasar Jabodetabek. Penggiat Simpul Maiyah Gambang Syafaat Semarang kabarnya juga telah memulai membuat kandang peternakan domba.

Setelah Mas Fahmi nengantarkan, kemudian mulai memasuki sesi pertama yang dipandu oleh Mas Helmi. Diawali dengan sapaan-sapaan segar yang diumbui joke-joke ringan hingga seutas senyum mengawali sesi latihan reportase.

Selanjutnya anggota redaksi caknun.com ini mulai menggali pengetahuan hadirin dengan mengedarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai pemantik jalannya sinau bareng kepenulisan ini.

Agaknya metode penggalian ala penulis aktif caknun.com ini layaknya metode pembelajaran Ta’rif yang merupakan tahapan yang harus dilalui untuk mencapai ta’dib (pemberdayaan). Sebelumnya saya sempat menangkap ilmu di bagan Sinau Bareng yang terpampang di dinding tentang metode pendidikan ta’dib. Ada proses penggalian bersama untuk menemukan aransemen ilmu yang terus berusaha melibatkan semua yang hadir sehingga tercipta sinau bareng.

Lainnya

Buku dan Merchandise