Kanjeng Tohar dan Sekolah Mandiri

Toto Raharjo pada mulanya saya kira Ahmad Munzir sekretaris Cak Nun saat masih berkantor di Sanggar Ababil Patangpuluhan. Satu malam Cak Nun kehilangan sekretarisnya, karena beberapa hari tidak ngantor. “Digoleki rek kudu ketemu,” tegas Cak Nun, “Jik akeh gawean iki…” Semua pun berusaha mencari si sekretaris, tanya sana tanya sini. Termasuk bertanya kepada Nur, ‘cewek’ kita yang suka mondar-mandir dan senyum-senyum sendiri depan sanggar.

Pasalnya saat itu Nur mampir duduk di kursi bambu teras, “Weruh rak kowe Nur?,” tanya Yani. Tentu Nur hanya senyum-senyum dengan pandangan menerawang jauh. Sampai kemudian di satu malam, datanglah sang sekretaris. Saya terhenyak, lho kok malih rupo, Toto kan putih rodo bagus (maksudku Munzir) kok iki ireng rodo rak bagus. Ternyata itulah yang sebenarnya Toto Raharjo yang dicari.

Saat itu saya dengar Cak Nun berkata, “Kanjeng meh dirampungno rak, Tok?.” Saat itulah saya baru mendengar nama Kanjeng, yang belakangan saya baru ngeh: betapa nama Kanjeng bisa menjadi apa saja. Dalam dunia dol tinuku (kapitalisme) seperti saat reformasi marak satu nama bisa menjadi mall dengan lapak-lapak profit oriented. Tapi ini Kanjeng non profit, nirlaba, non profesional, bahkan mau melawan Orde Baru.

Ya, Kanjeng adalah nama yang diambil dari tokoh  Kedungombo. Tokoh desa yang membela hak atas tanah warga dalam pembangunan waduk di era Orde Baru. Didalihkan Orba untuk menghancurkan komunis di Indonesia. Merupakan era rekayasa genetika, chips, teknologi ala sang despot Jenderal Besar Soeharto. Inilah awal gerakan Toto Raharjo, Kiai Tohar, dalam membela hak rakyat atas tanah. Di kemudian hari lakon sandiwaranya ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, Pak Kanjeng. Lalu menjadi nama kelompok musik, yang semula dari Teater Dinasti, menjadi KiaiKanjeng.

Persoalan tanah rakyat banyak direkayasa pada era itu. Termasuk di kampung saya tinggal sekarang, di desa Pedalangan Banyumanik Semarang. Tanah ladang yang semula produktif didalihkan untuk membangun perumnas pertama di Indonesia. Saat saya mendirikan Teater Pedalangan, terbuka kenyataan, betapa tiap pemilik tanah diwajibkan menjual murah tanah miliknya demi pembangunan itu. “Per meter kira-kira hanya dihargai satu bungkus rokok,” tutur seorang anggota teater kampung kami, “Kalau tidak bersedia kami dicap PKI.”

Era rekayasa sekarang lebih meraksasa lagi, ungkap diskusi di antara latihan. Betapa mahal harga tanah sekarang, rasanya semakin sulit kita memiliki rumah. Barangkali ini juga menjadi kegelisahan Kiai Tohar dalam perenungan di usia uzurnya. Bagaimana hak rakyat diambil raksasa kapitalis secara semena-mena. “Kalau perlu dengan cara menghinakan,” cetus Sang Kiai dalam satu wawancara, “Contoh masyarakat Wonogiri biasa makan tiwul, lalu muncul rekayasa merendahkan tiwul, tapi sebentar kemudian datang makanan instan terbuat dari tiwul.”

Dari perenungan itu lahir gagasan Kiai Tohar untuk membangkitkan satu kesadaran semesta. Yakni melalui pendidikan mandiri. Bagaimana anak muda memilih pendidikan sesuai dengan bakat dan kepribadiannya. Tak lain untuk mengembangkan minat dan potensi dirinya sekaligus menemukan kepribadiannya atas kesadaran terhadap lingkungan sosial-politiknya. Kalau tidak mandiri sedini mungkin, mau jadi apa generasi muda kita, “Tidak menjadi apa-apa, selain menjadi bagian kecil dari mesin besar kapitalisme,” tandasnya.

Dengar-dengar Kiai Tohar membuka sekolah mandiri alam di kampungnya. Satu sekolah yang kira-kira, menurut Sabrang, seperti teorinya tentang lingkaran kapur putih. Bahwa, andai hidupmu menyempit seperti lingkaran kapur putih, hapuslah lingkaran itu supaya hidupmu menjadi papan tulis. Ada banyak kecocokan antara konsep Sang Kiai dengan pemikiran Sabrang mengenai pendidikan mandiri ini.

Bagi saya Kiai kita adalah pribadi yang mudah bergaul dengan siapa pun. Termasuk dengan Simon atau para LSM. Terutama, orang yang paling dekat secara pemikiran dengan Cak Nun, terutama dalam pemikiran sosial dengan teori struktural — ingat Emha pernah menerbitkan buku “Strukturalisme dalam Sastra Indonesia”.

Toto juga pernah jadi partner ngetik saya. Partner dalam penulisan sekitar ihwal strukturalisme itu. Ialah saat Joko Santoso redaksi Minggu Pagi minta tulisan dengan tema itu, “Nek iso bersambung, yo to yo to, ben honore yo bersambung yo to yo to eheheh….”

Maka kami berdua mulai menulis di sanggar Ababil. Benar-benar satu tulisan diketik berdua. Bahkan kadang seperti dua pemain piano, di depan komputer, menghadap keluar jendela. Kadang kami lihat ‘cewek kita’ lewat, lalu Toto menyapa, “Nur, iki lho digoleki Mas Eko….”

Senyum-senyum Nur, sambil menyisil rambut gimbalnya. Kemudian tegur Toto kepada Nur, “Wes adus durung, kono adus sik yo, ngko ben ketemu Mas Eko…”

Tahu kan, betapa Kanjeng Tohar bergaul dengan orang gila pun bisa. ***

Buku dan Merchandise