Kabur Kanginan

Di tengah dialog dengan Iblis, Rasulullah Muhammad Saw berkata: “Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat”.

Iblis mentertawakan Kanjeng Nabi Muhammad: “Hayhata hayhata. Tidak mungkin, tidak mungkin. Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat. Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan. Akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf. Yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang mukhlis”.

Makhluk manusia berduyun-duyun memasuki kuburan. Ratusan, bahkan ribuan di seluruh dunia, janazah manusia memenuhi galian-galian tanah. Itu dasar optimisme Iblis, karena dia sendiri mendapat jaminan untuk terus hidup hingga Hari Kiamat.

Padahal Iblis tak punya harapan apa-apa kecuali adzab Allah kelak di akhirat. Sementara manusia dipahamkan oleh Tuhan bahwa harapan utama adalah kehidupan akhirat. Maka Doa Sapujagat yang paling utama diucapkan manusia adalah “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban Nar”. Yang lebih celaka di antara manusia, dan celakanya melebihi Iblis, adalah manusia yang tidak jelas pengetahuannya tentang akhirat. Dan itu membuat tindakannya juga tidak proporsional meletakkan kehidupan dunia maupun akhirat. Ini bukan soal Agama. Ini soal manusia dan kehidupannya. Tidak tergantung apakah kita orang biasa, tokoh, seniman, Ulama, Presiden atau apapun saja. Iblis sadar apa yang dilakukannya sejak menolak bersujud kepada Adam. Yang paling kasihan adalah manusia yang tidak jelas konsep dunia-akhiratnya: mereka menyembah Iblis ya tidak, menghamba kepada Tuhan juga tidak. Manusia kabur kanginan di ruang kosong dan makna hampa begini ini adalah mayoritas penduduk Bumi sekarang ini.

Lockdown 309 Tahun