Jangan Jual Nyawamu Allah Yang Beli

Corona, 33

Salah satu yang mengibur hati Kaum Muslimin di tengah trauma sangat berat pandemik Covid-19 adalah pernyataan Rasulullah Saw bahwa satu di antara lima orang yang mati syahid adalah orang yang meninggal dunia karena wabah penyakit.

Mati syahid kasusnya adalah Allah membeli nyawa dan hidup dunia Anda dengan bayaran mahal yang bernama status mati syahid. Mati dalam posisi menyaksikan secara empiris kekuasaan dan kebesaran Allah Swt.

Allah yang beli. Bukan Anda atau kita yang menjual nyawa dan hidup kita. Allah yang mengambil keputusan bagi seseorang akan disyahidkan atau tidak. Bukan kita memojokkan Allah untuk mau tidak mau terpaksa mengambil nyawa kita dalam posisi syahid, berdasarkan sabda kekasihnya sendiri Kanjeng Nabi Muhammad Saw: “Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari).

Dengan berbekal tawakkal ilallah kita ke mana-mana semau kita. Ke pasar. Mudik naik bus ramai-ramai sampai 800 bus. Masuk mall. Bikin resepsi pengantin. Tahlilan. Pengajian umum. Maiyahan. Istighatsah di Masjid Petaling Jaya. Pentas teater. Ngerumpi di Coffee Shop. Lantas kita terjangkiti Covid-19. Lantas beliau Izrail datang mengambil nyawa kita. Lantas sampai di alam Barzakh kita susun proposal dengan dasar pemikiran, sanad hukum, fakta-fakta sebelum mati, dengan kesimpulan bahwa kita memenuhi syarat untuk dikasih sertifikasi Mati Syahid.

Ada perbedaan sangat mendasar antara rekayasa mati syahid dengan bunuh diri. Allah wanti-wanti soal bunuh diri ini secara transparan. “Maka apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati melihat mereka berpaling dari Allah dan tidak mau mendengarkan keterangan ini”. Terserah mau pakai tali kendhat, Hara-Kiri dengan parang, atau bawa ransel berisi bom datang ke keramaian atau kantor-kantor orang kafir, atau cara apapun. Kesedihan hatimu meskipun sedalam Laut Selatan dan setinggi Gunung Semeru, tidak cukup engkau jadikan ongkos untuk engkau bayarkan kepada Allah demi mendapatkan status mati syahid. Jangan jual nyawamu, karena pada Allah hak untuk membeli hidupmu. Kamu tidak punya hak jual.

Tema jual-beli bukan hanya urusan pasar dan perekonomian. Urusan pinjam-meminjam tidak terbatas pada urusan Bank, Pegadaian atau pertetanggaan. Allah Yang Sangat Maha Kuasa memesrai manusia yang sangat tidak berdaya dengan menggunakan substansi, idiom dan satuan-satuan yang mendasar pada kehidupan dan penghidupan sehari-hari manusia. Misalnya, meminjam, membeli, menjual, memberi bunga dst. Hanya saja segala sesuatu ada konteks urusannya, ada batas wilayahnya, ada lika-liku rasionalitasnya.

Misalnya Allah bikin pasal: “JIka kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasan-Nya kepadamu. Allah Maha Pembalas Jasa dan Maha Penyantun”. Bahkan firman itu membuktikan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Bunga Pinjaman, yang kalau itu dilakukan oleh sesama manusia – Allah tidak suka dan melarangnya. Kalau Allah sendiri yang memberi bunga, tak masalah, karena Ia Maha Kaya Raya. Berapa bunga yang Allah tawarkan? Perumpamaan harta yang dinafkahkan atau dikeluarkan atau dibayarkan oleh manusia untuk perbuatan di jalan Allah, serupa dengan “sebutir benih, yang darinya tumbuh tujuh bulir, dan dari setiap bulir memprosuksi seratus biji”. Allah melipatgandakan (700X lipat menurut hitungan itu tadi) ganjaran-Nya bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Allah Maha Luas Karunia-Nya dan Maha Mengetahui.

Idiom dan mekanisme jual-beli (dol-tinuku, Jw) juga sangat dipakai oleh Allah untuk memudahkan manusia dan kita semua untuk memahami dialektika dan tata nilai kehidupan. “Alangkah buruknya hasil perbuatan mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran yang telah diturunkan oleh Allah”. Jual-beli adalah pertukaran. Orang mempersilakan dirinya diambil, dengan dibayar kekufuran. “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”. Lha wong sudah punya petunjuk saja malah dipertukarkan dengan keingkaran atau pengkhianatan.

Sekolah-sekolah dan Universitas atau Perguruan Tinggi Islam, tidak menunjukkan kebutuhan atau kecenderungan untuk mengajak murid dan mahasiswanya untuk memahami dan melatihkan pola berpikir jual-beli dan pinjam-meminjam secara Allah, kecuali di bidang harta benda, perekonomian dan pasar. Padahal perspektif dan wilayah pinjam-meminjam serta jual-beli yang dituntunkan oleh Allah di Al-Qur`an berwilayah sangat luas, bahkan empasisnya justru akhlak atau moralitas terutama antara manusia dengan Maha Penciptanya.

Oleh karena itu hasil pemikiran dan praktik budaya ekonomi masyarakat kita tidak berkembang dewasa dan matang untuk memahami perbedaan antara jual-beli dengan riba. Kebanyakan terbuntu pada kasus-kasus teknis dan formal. “Mereka berpendapat bahwa jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual-beli dan melarang riba”. Bahkan mungkin muncul upaya untuk mencurangi perkara di mana riba dipresentasikan dengan aplikasi teknis jual-beli. Muncul manipulasi di mana suatu mekanisme dilangsungkan dengan performa seakan-akan bukan riba, padahal muatannya tetap kecurangan dan kedhaliman. Salah satu sebabnya adalah karena titik berat pemahaman terhadap jual-beli dan riba tetap berkisar pada kepentingan materialisme, laba uang dan harta benda, bukan kehalalan akhlak suatu transaksi secara substansial.

Sedemikian rupa budaya dan peradaban kecurangan ummat manusia, yang berlangsung tidak hanya di wilayah politik kekuasaan dan perekonomian materialistik – sampai-sampai Allah menyebut manusia itu “dholuman jahula”. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua enggan untuk memikul amanat itu karena mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu amat dhalim dan dungu”. Tidak hanya bodoh. Tidak hanya Jahil, tapi “Jahul”. Kalau Anda menirukan suara hati Iblis, Anda mungkin juga nyeletuk: “dasar manusia memang pengkhianat yang bego”. Kalau pakai imajinasi nalar kita, Malaikat pun tidak mustahil menggeremangkan kalimat yang sama tentang manusia. *****

Buku Lockdown 309 Tahun