Kebon (10)

Jakarta Meraung dan Kita Hanya Debu

Dok. Progress.

Salah satu nomor puisi yang diaransir dengan Musik-Puisi Dinasti berjudul “Bali”. Puisi itu membawa kita ke pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Negara kita ini. Salah satu baitnya berbunyi:

Adapun aku. Adapun aku, saudaraku, hanyalah ayam budak
Keringat mengucur tubuh coklat yang keruh
Kujilat tapak kakimu di pasir tanah kurus
Kami harus membangun dunia. Kami diseret oleh zaman
Kami harus belajar A…B…C…D…
Kami dirangkul, kami disetubuhi oleh para bule

Tentu saja pembaca bukan orang dungu yang membaca “Kami dirangkul, kami disetubuhi oleh para Bule” lantas membayangkan turis-turis Londo masuk kampung-kampung kita lantas meniduri Ibu, mbakyu, adik dan saudari-saudari kita lainnya. Sebagaimana ketika penyair utama kita Chairil Anwar bilang “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”, lantas berkesimpulan bahwa ternyata Chairil Anwar itu seekor hewan. Juga di puisi di atas ada kalimat “Adapun aku, hanyalah ayam budak”. Terus Anda berpikir; “O, ternyata Emha itu ayam budak”.

Sebenarnya saya tidak perlu mengungkapkan kembali bahwa bahasa firman Allah berbeda dengan bahasa budaya manusia. Bahasa puisi berbeda dengan bahasa prosa. Bahasa sastra tidak sama dengan bahasa ilmu. Bahkan di dalam ilmu, bahasa hukum positif berbeda dengan bahasa pasar masyarakat umum. Dan ribuan lagi variabel dan mozaik bahasa manusia dan masyarakat. Mestinya setiap orang yang sudah belajar membaca dan sedikit terbiasa membaca, langsung tahu perbedaan-perbedaan itu. Kalau manusia bersumpah “demi Tuhan”, sementara Allah bersumpah “Demi waktu fajar”, kita tidak lantas berkesimpulan bahwa ternyata fajar itu lebih tinggi dibanding Allah.

Sesungguhnya di era milenial sekarang ini, terutama yang melatarbelakangi kekisruhan kata dan nilai yang berakibat pada ilmu, moral dan mental masyarakat – memang banyak cermin kedunguan seperti itu, terutama dalam komunikasi medmas dan medsos. Tetapi saya tetap husnudhdhan bersangka baik bahwa pada hakikatnya mustahil manusia bisa sampai sebodoh itu, kecuali kebodohannya itu menjadi persyaratan yang mereka penuhi untuk melampiaskan kebencian, kecurangan, ketidakjujuran dan ketidakadilan kepada sesamanya namun tidak segolongan dengan mereka.

Saya percaya kepada Allah yang melimpahkan pemahaman dan kesadaran bahwa di dalam diri manusia meskipun ada energi Setan, tapi juga memiliki tenaga Malaikat. Meskipun di dalam darah manusia ada zat Iblis, tetapi dzat Allah juga bersemayam di dalam diri manusia.

Puisi adalah esensi yang mencerminkan diri dari dzat Allah itu. Puisi adalah kristal nilai ketuhanan di dalam jiwa manusia. Maka puisi berfungsi tidak seperti materi, logam, uang dan harta benda. Puisi bertugas membersihkan proses kehidupan manusia. Presiden Amerika Serikat John F Kennedy bilang “Kalau politik kotor, puisi membersihkannya”. Puisi menjaga keseimbangan sosial. Puisi mengkontribusikan inspirasi agar bangsa tidak justru menjadi kacau ketika mengambil keputusan untuk bernegara.

Maka puisi Bali itu bisa diproyeksi ke dunia materi: dunia, Negara, tanah air dan bangsa penduduknya. Dulu tokoh-tokoh nasional pencita-cita kemerdekaan seperti Bung Karno, Bung Hatta dll yang terhimpun dalam Perhimpunan Indonesia di Amsterdam Netherland mendiskusikan apa? Masa depan bangsa yang bagaimana yang mereka sketsakan blueprint-nya? Kalau pakai bahasa Jawa: “Sejatosipun Proklamasi 1945 punika badhe matur menapa?

Kenapa keputusan finalnya adalah mendirikan Negara Republik? Kemudian hampir semua tata nilainya, termasuk tata hukumnya, begitu saja mengadopsi hukum Barat, bahkan langsung diambil dari Negara yang dulu menjajahnya?

Malaysia adalah Koalisi Kesultanan-kesultanan. Brunei adalah Kesultanan. Belanda sendiri, sebagaimana Jerman, Inggris, Norwegia dll adalah Kerajaan. Atas pertimbangan apa kita di Nusantara yang berabad-abad hidup secara kerajaan dan kesultanan tiba-tiba menjadi Republik? Itu pun tanpa Pendidikan nasional untuk menyiapkan agar rakyat Indonesia punya kesiapan untuk bernegara.

Pasti saya tidak mengatakan bahwa Indonesia sebaiknya menjadi Negara Kesultanan atau Negara Kerajaan. Itulah sebabnya kita butuh pemikir masa depan. Kita butuh Negarawan. Kita butuh “bangsawan”, bukan dalam arti aristokrat dan feodalisme, melainkan tokoh yang memiliki kapasitas dan kelengkapan ilmu untuk memikirkan apa yang terbaik untuk bangsanya? Mumpung ada kesempatan untuk mencuri kemerdekaan, karena Hiroshima Nagasaki Negeri yang ketika itu sedang menjajah kita dibom habis. Korea merdeka sehari sesudah pemboman itu, kita butuh proses lebih lama karena Bung Karno setengahnya harus dipaksa oleh anak-anak muda untuk memproklamasikan kemerdekaan. Terus grusah-grusuh merdeka, tanpa menyiapkan segala sesuatunya, sehingga ketika sekarang makin ambyar keadaanya, tak seorang punya jawabannya.

Andaikan saya punya hak dan dipercaya untuk dipegangi wewenang untuk ikut menentukan diri keIndonesiaan kita ini, tentu saya wajib mengungkapkan secara maksimal pikiran-pikiran saya tentang sebaiknya Indonesia menjadi siapa, apa, bagaimana, di sebelah mana, dan kenapa. Kita akan maju dengan masa depan, berdasarkan potensialitas dan kekayaan sendiri yang terhimpun dari masa silam. Kita akan meneruskan sejarah Indonesia dengan metode kontinuasi, bukan adopsi, bahkan plagiat dan taqlid buta seperti sekarang ini.

Tetapi “apalah awak ini”. Di puisi “Jakarta Meraung” yang dipentaskan oleh Musik-Puisi Dinasti itu ada kalimat:

Kita hanya debu
Lekat di ban mobil
Terhimpit di aspal panas
Kita terlempar
Di parit busuk terkapar
Di balik gemuruh
Terdengar suara tangis
Dari daerah asing
Di tengah keringat dan makian
Menyelinap pisau rahasia
Menunggu saat penikaman tiba

Lainnya