Istighatsah dan Syukuran Online

Corona, 59

Kalau mutasi Covid-19 ini ditambah dua saja, sehingga meningkatkan kadar mudlaratnya, misalnya 1- Dia bermutasi menjadi Airborne Virus, yang menular lewat udara. 2- Ia tidak bisa dilawan oleh antibody alamiah manusia, tapi harus menggunakan vaksin khusus untuk bisa dieliminir. Sehingga berlaku ketentuan Allah: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu”.

Juga Covid-19.

Kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

Meskipun kamu pakai masker, berdisiplin melaksanakan Health-distance, pakai hand sanitizer setiap kali diperlukan.

Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: Ini adalah dari sisi Allah, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: Ini datangnya dari sisi kamu Muhammad.” Maka Al-Qur’an diusulkan untuk dibakar dan dimusnahkan seluruhnya, Agama Islam dilarang, di sebuah Negeri Eropa.

Katakanlah: Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu orang munafik hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

Termasuk para Pancasilais.

Sekali lagi, apabila dua gradasi bahaya Covid-19 itu disengajakan oleh Allah untuk berlaku, maka terjadilah apa yang difirmankan oleh Allah Swt: “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).” (Fatir).

Apalagi andaikan Allah ‘menggoda’ lebih lanjut: tidak melimpahkan hidayah, ilham, rahmat, ma’unah atau nashr, sehingga para ilmuwan manusia terbuntu untuk bisa menemukan obat penawar Covid-19. Karena toh sampai sejauh ummat manusia sedunia disiksa oleh Corona, tidak ada gejala bahwa mereka bersama-sama minta tolong kepada Tuhan. Tidak ada pemimpin-pemimpin Agama dunia yang mengajak ummat manusia ndlosor di hadapan Allah, menangis-nangis merengek-rengek untuk dilindungi dari sebaran Covid-19. Apalagi yang sudah dinyatakan sembuh dari deraan Covid-19, belum terdengar ada yang menyelenggarakan syukuran online misalnya.

Kenapa ada makhluk di bumi yang musnah? Pada yang non-manusia, kemusnahan disebabkan oleh “gabah den interi”, ada seleksi alam, yang terkuat yang akan awet dan terus meregenerasi. Pada manusia mungkin berbeda. Kalau ummat manusia tidak ber-Maiyah dengan Allah, alam, bumi, hewan, semua lingkungan hidup dan sesama manusia sendiri – maka mereka akan musnah. Tidak ber-Maiyah artinya merusak dan memusnahkan. Tidak bekerja sama, egosentris dan menangnya sendiri.

Jadi ketika Malaikat membantah Allah “Kenapa Engkau ciptakan manusia yang pekerjaannya adalah merusak bumi dan menumpahkan darah”, destruktif terhadap ekosistem dan saling berusaha memusnahkan, mungkin Malaikat itu meneruskan kalimatnya begini: “Untuk apa? Toh akan musnah. Toh manusia akan melakukan hal-hal yang menuju kemusnahannya sendiri”.

Tetapi Covid-19 ini kalau melihat faktor-faktornya, bukanlah momentum menuju kemusnahan manusia. Peradaban ummat manusia memang kufur, musyrik dan munafik kepada Allah, tapi belum segitu-gitu amat. Ketika saya menulis ini semalam, dari berbagai arah terdengar suara adzan. Setiap tiba saat shalat lima waktu di kampung saya yang bukan kampung santri, tidak ada pesantrennya, tidak ada Ulama atau Ustadz di situ, selalu tetap terdengar suara adzan lima kali sehari.

Pada umumya manusia di dunia, apalagi di Indonesia, relatif baik-baik. Meskipun tidak saleh-saleh amat, tidak patuh-patuh amat kepada Allah, tidak dhalim-dhalim amat kepada sesama manusia dan alam. Rakyat Indonesia masih tergolong manusia dengan kadar kesalehan kemanusiaan yang lumayan. Mereka masih tolong-menolong. Masih bekerja sama. Masih gotong royong. Orang tua-orang tua masih mengantarkan anak-anaknya belajar mengaji, meskipun pol hanya sampai tingkat hifdhul qur`an. Tapi itu sudah sangat lumayan dan sedikit memancarkan cahaya dari bumi ke langit. Ummat manusia di dunia, apalagi rakyat Indonesia, belum sampai pada tingkat kedhaliman diri yang membuat mereka pantas dan mencukupi untuk dimusnahkan — meskipun mungkin tetap di-adzab, di-bala`, di-‘iqabah, dihukum dan dibalas sampai kadar tertentu seperti Covid-19.

Maka Jamaah Maiyah dan saya juga tidak pernah mengatakan, memastikan, atau mengklaim secara qath’i bahwa Covid-19 adalah tanazzulu ‘adzabillah, turunnya adzab Allah. Yang kami lakukan adalah mengintrospeksi diri, mengulang dan meningkatkan kewaspadaan hidup, meneliti apa-apa yang buruk yang kami lakukan, yang mungkin menjadi salah satu sumber atau sebab datangnya murka Allah.

Di Maiyah kami menemukan gradasi: ada sesuatu yang Allah tentukan, yang Allah izinkan, yang Allah biarkan, serta yang Allah tidak pedulikan — tanpa mengklaim kasus Corona ini kategori ke berapa. Kami hanya khawatir, cemas dan takut kepada murka Allah, maka kami membersihkan diri selama lockdown di Gua Corona.

Jamaah Maiyah juga Sinau Bareng untuk memelihara kewaspadaan bahwa orang-orang yang tidak bersalah bisa ditimpa akibat-akibat yang dilakukan oleh orang-orang yang bersalah. Kami tidak ikut berkuasa, tidak ikut korupsi, tidak ikut mendhalimi, tidak ikut membohongi, tidak ikut pencitraan apapun untuk memperjelas kemunafikan. Juga tidak ikut menjadi apa-apa di muka bumi.

Tetapi Allah memperingatkan: “Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dhalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal).

Pernyataan Rasulullah berikut ini sangat strategis dan akurat untuk mempertanyakan posisi Jamaah Maiyah dan saya: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga masyarakat umum melihat kemungkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu.” (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

Juga “Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan adzab secara merata kepada mereka.” (HR. Abu Dawud).

Meskipun tetap ada harapan: “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud).

Dalam banyak kesempatan Sinau Bareng Jamaah Maiyah dan saya sudah sering merundingkan kenapa Maiyah tidak berontak, kenapa Maiyah tidak menyelenggarakan revolusi, kenapa Maiyah tidak turun gunung dan seterusnya. Sudah dihitung lengkap perbandingan antara manfaat dengan mudlaratnya. Sudah dikalkulasi segala sisi dan sudut probabilitasnya. Dan sampai hari ini, firman Allah yang berlaku masihlah ini: “Dan kaummu mendustakan adzab itu, padahal adzab itu benar adanya. Katakanlah: Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu.” (Al-An’am).

Jamaah Maiyah bukan Juru Selamat. Jamaah Maiyah tidak punya kemampuan untuk menyelamatkan ummat manusia dan bangsa Indonesia. Mereka hanya berikhtiar lebih sungguh-sungguh untuk me-Maiyahkan dirinya dengan segala sesuatu yang mereka hanya bisa selamat kalau pakai “asas manfaat” — bukan “asas keahlian”, “asas ekspertasi”, “asas kepandaian”, “asas kehebatan” — sebagaimana yang dikembangkan di Peradaban lingkungannya. Jamaah Maiyah meneguhkan iman dan ilmunya. Taqwa dan waspadanya. Kesadaran ketidakberdayaan dengan tawakkalnya.

Alhamdulillah kalau pilihan perilaku itu membuat Allah tidak tega memurkai bangsa Indonesia, syukur-syukur dibuktikan oleh Allah kepada Jamaah Maiyah bahwa “Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fussilat: 44).

Maka anak-anak Maiyah yang pinter qira’ah atau tartil, nanti lantunkan di Maiyahan awal pasca Corona: “Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri serta dengan suara yang lembut dengan mengatakan: Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” (Al-An’am). *****

Lainnya