Inspirasi Berkebun di Masa Pandemi

Pekarangan rumah Kang Topari di Gunung Kidul ditanami singkong dan sereh.
Pekarangan rumah Kang Topari di Gunung Kidul ditanami singkong dan sereh.

Lazimnya pola hidup masyarakat pedesaan, mereka masih akrab dengan budaya bercocok tanam. Pemandangan ini dapat kita saksikan di antaranya dari dulur-dulur Maiyah yang ada di Gunung Kidul Yogyakarta. Dulur-dulur di Majelis Kahuripan di Gunung Kidul sudah terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam, demikian ungkap Kang Topari salah seorang Penggiat Maiyah di sana.

Menghadapi pandemi Covid-19, kegiatan bercocok tanam terus berlanjut seperti biasa. Kebanyakan anggota komunitas Majelis Kahuripan memiliki lahan sendiri. Minimal lahan pekarangan di samping rumah. Kang Topari sendiri saat ini separuh lahan pekarangannya sudah ditanami singkong dan sereh, dan separuhnya lagi sedang dicangkuli untuk persiapan memindahkan semaian tanaman bayam, kangkung, kacang merah, dll.

Pekarangan seluas 260 m2 itu ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Terlebih kesehariannya sebagai pengajar saat ini membuatnya lebih longgar dan bisa menyisihkan waktu. Dulur-dulur di Majelis Kahuripan dan warga masyarakat di Dusun Sayangan, Bandung, Playen banyak memanfaatkan pekarangan untuk tanaman sayuran, pisang, umbi-umbian dan apotek hidup.

Terlebih mereka yang aktif dalam kegiatan PKK, ada program yang mesti disuksekseskan yang disebut ‘Hatinya PKK’, yakni Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman. Program ini mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan, terutama sayuran. Adapun untuk kebutuhan beras diperoleh dari sawah masing-masing.

Kepada teman-teman yang ingin memulai bercocok tanam, Kang Topari menyarankan tanaman yang mudah untuk dibudidaya adalah kangkung dan kacang panjang.  Di samping karena relatif mudah budidayanya, modalnya pun terjangkau. Bibit kangkung 25 ribu rupiah sudah dapat setengah kilo. Untuk pupuk satu bagor berkisar 40 ribu. Untuk ongkos tenaga tak perlu berhitung kalau mau mengerjakan sendiri seperti Kang Topari ini. Ia memanfaatkan waktu sela dengan merawat tanaman setiap sore hari ketika sudah selesai semua pekerjaan dinas dan memanfaatkan hari libur.

Selain di Gunung Kidul, kita sebetulnya juga punya banyak daerah potensi agraris. Yakni daerah yang memiliki potensi lahan dan pengairan yang baik, sekaligus memiliki budaya masyarakat yang masih senang bercocok tanam. Di antara daerah potensi agraris tersebut terdapat di Blora, Jepara, Ungaran, Wonosobo dan Purbalingga.

Kolam Ikan yang dikelola teman-teman Daulat Malaya.
Kolam Ikan yang dikelola teman-teman Daulat Malaya.

Tak Hanya di wilayah Tengah, di wilayah barat ada rekan-rekan Maiyah yang bergeliat untuk mulai bercocok tanam. Rekan-rekan Penggiat di Lingkar Daulat Malaya di Tasikmalaya mulai awal Maret lalu memanfaatkan lahan sisa di Rumah Singgah Kamasan yang menjadi sekretariat komunitas untuk menanam berbagai jenis tanaman, yakni bayam merah, cabe rawit, kangkung darat dan caisim.

Kang Ichun Penggiat Maiyah di sana menyampaikan bahwa teman-teman penggiat di Tasikmalaya dan di Ciamis hampir separuhnya turut aktif menanam berbagai jenis tanaman di rumah tinggal masing-masing. Mereka yang memiliki peran di masyarakat juga ikut mengajak para penggerak Posyandu dan kader Karang Taruna untuk ikut serta dalam kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan rumah ini.

Jenis tanaman yang ditanam di pekarangan rumah masing-masing lebih beragam dari tanaman yang ada di pekarangan sekretariat Rumah Singgah Kamasan. Ini dilakukan karena menyesuaikan luasan lahan dan kebutuhan dari masing-masing orang. Ada yang menanam singkong, cabai dan bawang. Di rumah Kang Ichun sendiri ia sedang menanam tanaman kangkung darat. Ada juga di antara mereka yang mengintegrasikan budidaya tanaman itu dengan budidaya perikanan yakni membuat kolam lele.

Kalau rekan-rekan Lingkar Daulat Malaya baru memulainya pada  awal Maret, rekan-rekan Penggiat Simpul Maiyah Masuisani Bali sudah menjalankannya jauh lebih lama. Selain mereka memiliki rutinan sinau bareng sebagaimana simpul pada umumnya, mereka telah lama mengistiqomahi rutinan “Rebo Ijo”. Pada Rebo Ijo, teman-teman penggiat berkumpul untuk menanam dan merawat tanaman yang mereka budidayakan di halaman Umah Wisanggeni yang menjadi basecamp mereka.

Kang Mamet salah seorang penggiat Masuisani menyampaikan bahwa di halaman basecamp mereka ditanam berbagai tanaman empon-empon, serai merah, jeruk nipis, bunga mawar juga sayur-sayuran. Yang memandegani adalah Kang Eko dan Mba Ning. Memang Kang Eko dan Mba Ning memiliki fadhilah di bidang pertanian. Ia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan penghijauan seperti penanaman pohon pelindung di Nusa Penida. Selain itu juga Kang Eko dan Mba Ning memiliki lahan budidaya berbagai sayuran organik yakni di Kebun Sedap Malam.

Tanaman teman-teman Lingkar Daulat Malaya Tasikmalaya.
Tanaman teman-teman Lingkar Daulat Malaya Tasikmalaya.

Pada Rebo Ijo tahap-tahap budidaya dikerjakan secara runut dan lengkap sebagai pembelajaran bersama. Mulai dari pembuatan media tanam dari sekam bakar, pembuatan pupuk cair, topsoil, kompos, persemaian bibit, stek, pecah anakan tanaman, cangkok dan lain-lain.

Hasil dari mereka berkebun dimanfaatkan oleh para penggiat yang terlibat, selebihnya dibagikan kepada warga disekitar Umah Wisanggeni. Kalau rutinan sinau bareng di Masuisani diubah pelaksanaannya menjadi forum virtual, sementara kegiatan gardening di rutinan Rebo Ijo di masa pandemi ini tetap berjalan dan terus mengolah bibit-bibit tanaman baru.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun