Mukadimah SabaMaiya Edisi Maret 2020

Hujan-Hujatan

Sebagai umat manusia kita menyadari bahwa hujan adalah bentuk cinta-kasih Tuhan. Hujan adalah salah satu rejeki terbesar yang diberikan. Hujan adalah awal sumber mata air kehidupan, turun ke tanah kering-tandus menjadikannya basah dan subur, turun ke sawah menjadi padi, turun ke tambak menjadi ikan. Bahkan di saat ia turun, itu merupakan salah satu waktu doa yang mustajab.

Namun, di sisi lain banyak yang mengganggap bahwa hujan menjadi sumber persoalan. Sakit flu, batuk, masuk angin, banjir, tanah longsor dan sebagainya dianggap sebagai akibat dari turunnya hujan. Hujan memang menyenangkan bagi petani dan membahagiakan pihak-pihak yang membutuhkan air, tapi hujan juga akan menjadi teror bagi penyelenggara hajatan dan acara hiburan. Hujan juga seolah menjadi kutukan bagi penjual minuman dingin.

Dari dua sisi itu kita bisa melihat bahwa hujan yang kedudukannya netral dan steril dari asumsi-asumsi politis, ia tetap tidak bisa diterima seutuhnya. Hujan yang kehadirannya sebagai rahmat tidak sepenuhnya disambut gembira semua pihak, malah tidak jarang yang menghujatnya. Begitulah watak kehidupan.

Saat ini di luar semua urusan politik dukung mendukung atau persoalan sentimen apapun di negara ini, segala hujat-menghujat dan serang-menyerang yang terjadi hingga tingkat paling tidak beradab, memang sedang diselenggarakan. Semua orang terlihat sedemikian ngotot dan bersemangat melampiaskan serta memuntahkan muatan-muatan negatif yang ada pada manusia.

Ketika ada sebuah kalimat “Jangan membela orang salah”. Itu merupakan prinsip hidup yang mutlak harus dipegang pada setiap perjuangan di semua wilayah. Berangkat dari nasihat itu kemudian banyak orang bersikap kasar kepada pihak-pihak yang sedang bersalah. Hanya karena ingin dianggap tidak menjadi bagian atau minimal tidak dituduh setuju dengan pihak yang bersalah tersebut. Lebih jauh lagi, diam-diam ada hasrat ingin dianggap sebagai pembela kebenaran. Dari itu muncullah tren menghujat, tradisi mencerca serta kegemaran membully.

Menghujat merupakan pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian apa-apa. Cukup hanya dengan merawat rasa benci di dalam hati, seseorang akan menjadi ahli menghujat yang hebat. Lain halnya dengan mengapresiasi, itu jenis sikap yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang hatinya sudah merdeka dari rasa dengki.

SabaMaiya edisi bulan Maret ini, mari kita sinau bareng, kita belajar menentramkan jiwa yang beringas untuk menjadi teduh dan hening. Hujatan, umpatan, caci maki, dan cemooh adalah kotoran yang diproduksi oleh metabolisme kejiwaan seseorang yang sedang ambruk ketahanan mentalnya. Kalau ada orang yang rajin menghujat kita, ambil kotoran-kotoran hujatan itu untuk merabuk pohon-pohon kehidupan kita. Tak ada yang diciptakan sia-sia dalam hidup ini. Bahkan hal yang secara kasat mata sosial diasumsikan paling buruk sekalipun. Asal kita punya mesin kecerdasan untuk mengolahnya, segalanya akan menguntungkan masa depan kehidupan kita.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun