Hizb Nashr Untuk Dholuman Jahula

Zaman ini adalah zaman yang paling sulit, berat dan dilematis bagi setiap manusia yang hidupnya menomorsatukan Tuhan. Zaman Supra-Jahilyah. Teknologi, budaya dan sistem kemunafikan sudah sampai ke puncak kecanggihannya. Keburukan sangat bisa dihadirkan sebagai kebaikan, kekufuran ditampilkan sebagai kesetiaan, kehinaan diumumkan sebagai kemuliaan. Bahkan kemunduran, kebobrokan dan kehancuran bisa diumumkan sebagai kemajuan, kebangkitan dan kejayaan. Juga sebaliknya bagi semua itu.

Dan bangsa kita memuat tiga kondisi. Pertama, sangat canggih dalam hal kebertahanan penghidupan. Kedua, sangat tangguh dalam hal menyiasati keadaan apapun dalam kehidupan. Ketiga, sangat hiprokrit dalam hal tata nilai-nilai, sangat sophisticated kemunafikannya menyiasati terbalik-baliknya hakikat dan kenyataan hidup.

Apabila kedhaliman dan penjajahan menimpa mereka, level pertama dan kedua membuat mereka kuat dan stabil bertahan. Sementara kondisi ketiga justru membuat mereka sangat luwes dan tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi keterjajahan, atau bahkan memposisikan diri partisipatoris dalam mekanisme penjajahan.

Andaikan penguasaan, penindasan dan perusakan nilai-nilai kehidupan yang sedang berlangsung sekarang ini masih berformula tradisional dengan peperangan fisik. Seperti misalnya yang dilakukan oleh pasukan Raja Fir’aun yang merupakan lambang kekufuran dan kedhaliman sepanjang sejarah sampai Allah memonumenkannya dengan mengawetkan Jenazah bapak angkat Nabi Musa itu di dasar laut. Di era Kerajaan Singosari di Jawa, Hulagu Khan dari Mongolia menghancurkan kekhalifahan Abbasiyah era Khalifah Al-Musta’sim yang memerah-darahkan sir sungai Tigris dan menumpuk mayat-mayat Kaum Muslimin setinggi bukit. Atau yang dekat saja dengan kita: pasukan Kerajaan Belanda yang di-support Sekutu. Kita tidak keberatan sama sekali untuk berhimpun dan menyusun pasukan sebagaimana arek-arek Suroboyo yang melahirkan Hari Pahlawan 10 November.

Andaikan ini perang peta tegas sederhana pengkutuban Muslim-Kafir seperti Perang Badar atau semua pada zaman Rasulullah Saw. Bahkan pun Perang Dunia I dan II jauh lebih teridentifikasi polaritasnya. Tapi yang berlangsung sekarang ini adalah perang kebusukan mulut, perang kefasikan narasi, perang kepengecutan, perang kemunafikan. Lempar batu sembunyi tangan. Memaki menghardik menista menghina dengan mulut ditutupi masker dan wajah bertopeng. Saya pernah menyebutnya “Pandawayudha” dan tak seorang pun memahami bahwa sesungguhnya adalah “Kurawayudha”.

Tetapi penjajahan dan kedhaliman yang berlangsung sekarang menusukkan tombak, pedang dan anak panahnya tidak ke dada kita, melainkan masuk langsung ke jiwa kita, ke mental kita, ke otak kita dan ke hati kita. Kita semua tidak mati bergelimpangan, melainkan diubah total menjadi makhluk bodoh, dungu, tidak mengerti martabat, tidak mampu menyangga kebenaran dan kebaikan. Kita menjadi kumpulan manusia yang ahmaq, yang tidak bisa diomongi apapun kecuali menjadi kemudlaratan, tidak bisa berkomunikasi kecuali dengan ketidakjujuran dan penistaan atas sesama. Tidak mampu menggunakan pengetahuan dan ilmu kecuali untuk mengalahkan dan memperhinakan semua yang tidak sama dengan kita. Tidak mengerti dialektika dan sistem komprehensi kebenaran, kebaikan, keindahan, apalagi kebijaksanaan, kemuliaan, martabat dan derajat kemanusiaan.

Bahkan Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad adalah penyerbu yang berilmu dan lebih mengerti kehidupan serta kebijaksanaan. Setelah berhasil menguasai Bagdad, Hulagu mengundang Khalifah Al-Musta’sim untuk makan malam, dengan menyuguhkan piring-piring dan gelas berisi gumpalan emas permata. Sehingga Sang Khalifah bertanya: “Bagaimana mungkin saya makan gumpalan emas-emas dan perhiasan-perhiasan ini?”. Hulagu Khan menjawab: “Bukankah semua ini yang Baginda cari, himpun, dan kumpulkan dengan kekuasaan dan kepemimpinan Baginda? Sekarang silakan memakan harta benda ini. Bahkan pintu gerbang Istana Baginda terbuat dari emas. Andaikan saya, harta benda mahal itu tidak akan saya jadikan pintu gerbang dan perhiasan Istana, melainkan saya pakai untuk memakmurkan kehidupan rakyat dan membiayai pelatihan pasukan-pasukan Kerajaan saya, agar punya kekuatan untuk mempertahankan kedaulatan kami”.

Mungkin kita adalah Musta’sim-Musta’sim kerdil bertebaran se-Nusantara di bagian menengah dan atas. Manusia-manusia 10% bawah yang pegang kendali di kekuasaan 10% atas. Sementara 80%nya sangat sibuk beragama tetapi praktik hidupnya “hubbud-dunya wa karahiyatul maut”. Tidak berani tidak beribadah, tetapi salah priotitas nilai kehidupan. Mengikuti Muhammad Saw tapi tidak “shiddiq”, tidak sungguh-sunggun menempuh nilai-nilai, sehingga secara massal menjadi bangsa yang tidak “amanah”. Maka mau “tabligh” apa dengan bekal main-main dalam bernegara berdemokrasi beragama dlsb kecuali kesemberonoan, kengawuran, penghinaan dan penistaan. Tidak becus membaca kebenaran dan kebaikan, serampangan menentukan pemimpin dan fungsionaris apapun. Maka tak akan pula dianugerahi Allah “fathonah”, kecerdasan untuk menembus kegelapan esok hari, lusa dan masa depan. Dholuman jahula. Lalim selalim-lalimnya, dungu sedungu-dungunya.

Kalau yang menindas kita ini kekuasaan dan kekuatan, maka selemah apapun kita akan menjadi cacing-cacing yang menggeliat. Kita akan bangkit dan maju brèng untuk sampyuh brubuh. Tetapi yang menindas kita bukanlah kekuasaan yang ngedap-edapi. Bukan kekuatan yang nggegirisi. Melainkan moral bobrok dan mental bosok. Kekuatan yang njijiki, menjijikkan, nyebahi, njembeki, gak kedugo dan sangat memuakkan. Bersentuhan saja wallahilladzi nafsi biyadiHi kita emoh-emoh temen, karena kita manusia ciptaan Allah yang ahsanu taqwim.

Njembeki dalam segala aspek. Tidak setia ilmu dalam hal benar-salah. Tidak berakhlak dalam hal baik-buruk. Tidak punya kepekaan dalam hal indah-jorok. Tidak sportif dan tidak jantan dalam urusan mental. Allah merumuskannya: “Innalladzina yunadunaka min wara`il hujurati aktsaruhum la ya’qilun”. Betapa halus lembutnya narasi ayat Allah: saya tidak pernah menyangka bahwa tafsir akurat dari “yunadunaka min wara`in hujurat” itu diaplikasikan secara sempurna oleh globalisme keliaran media massa dan media sosial. Budaya “lempar tahi” dari belakang dinding, yang Allah merumuskan mereka sebagai “kebanyakan mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan akal”. Sembunyi di balik kecanggihan teknologi komunikasi, yang membuka total pintu kebebasan bagi semua manusia untuk buang air besar lewat mulut atau penanya.

Itu semua adalah ujung jari-jemari Trio Mufsidin: Iblis Dajjal Ya’juj Ma’juj. Ilmu-ilmu, kebudayaan dan peradaban di dunia sampai hari ini tidak mungkin melihat dan menemukan Trio-Mufsidin itu, karena mereka “tampil” sebagai Trio-Siluman. Puncak keberhasilan Trio-Mufsidin justru adalah ilmu, budaya dan mental manusia meyakini bahwa mereka tidak ada. Bahwa semua pasukannya, para pengikutnya dan korban-korbannya, yakin bahwa Trio-Mufsidin itu hanya narasi fatamorgana. Semua, kelompok-kelompok manusia, justru merasa dan yakin sedang berada di jalan yang benar, memperjuangkan kemanusiaan dan rakyat, menegakkan demokrasi dan pluralisme.

Bahkan bagi hampir semua ummat manusia, termasuk sebagian Kaum Muslimin sendiri, yang sedang berlangsung di muka bumi hanyalah Negara-Negara, PBB, Amerika Serikat dan RRC, Saudi Arabia, Iran dan Yaman, Perang Dingin, Arab Spring, Presiden-Presiden, Kabinet-Kabinet, Kabijakan-kebijakan, Pembangunan-pembangunan, IMF, peta Moneter, Kemerdekaan 1945, NKRI, Pemilu dan banyak gambar-gambar teknis siluman materiil seperti itu.

Sedangkan penilapan Jawa kuno, Freemasonry, Illuminati, rekayasa animasi NKRI lengkap dengan Presiden, Kabinet dan Reshuffle-nya. Apalagi Iblis, Dajjal dan Ya’juj Ma’juj – semua itu hanyalah hoax, berita khayalan, sekadar idiom bahasa atau istilah kata yang hanya fatamorgana atau khayalan narasi dan wacana.

Karena mereka sudah sempurna dididik untuk tidak bisa melihat, menemukan dan mengalami substansi, gelombang, sumber arus, inti signal, invisible provider dan server, yang meng-install dan men-setup pola mental, peta ilmu dan pengetahuan serta cara berpikir ummat manusia, al-ammarah bis-su`i yang tidak berasal dari dalam lubuk jiwa takdir manusia, melainkan direkayasa dan dinaungkan secara global sehingga menguasai semua lalu lintas kehidupan manusia dengan bangunan peradaban zamannya.

Adapun kita para pelaku Maiyah, sejauh-jauhnya berjuang hanyalah sebatas mempertahankan jangan sampai merajalelanya kekuasaan Trio-Mufsidin itu menyentuh kita, meskipun bisa menghalangi langkah kita. Kita semua, yang bertebaran dan berserak-serak di berbagai wilayah Jawa, Nusantara dan dunia, dengan pangkal tentakel dan jaringannya yang ada di Kadipiro, adalah Qoum Ad-Dlu’afa. Kumpulan orang-orang lemah, sehingga selalu berikhtiar dan berjuang untuk jangan sampai terpuruk ikut dilemahkan dan lantas menjadi Qoum al-Musatdl’afin.

Kita sudah selalu berikhtiar untuk kita sendiri tidak kerasukan atau terkontaminasi oleh globalisasi gelombang Trio-Mufsidin, tetapi kita tidak berdaya untuk mempertahankan kehidupan ummat manusia di dunia dan bangsa Indonesia atas merajalelanya kekuasaan mereka.

Jangan sampai gelombang global itu mempengaruhi jiwa dan keputusan kita, meskipun mereka tetap mampu membuntu jalan kita. Kita tidak akan menjadi pengikut atau budak dari Trio itu, meskipun juga tidak mampu untuk melawan rakyat dan pasukan mereka. Kita tidak akan menjadi bagian dari gerakan global perusakan bumi dan jiwa manusia yang dipimpin secara “software” dan “arus data” oleh Trio-Mufsidin itu, juga bisa berupaya untuk tidak menjadi bagian yang dirusak, meskipun kita tidak mampu melawan atau meniadakan proses perusakan yang menyeluruh, komprehensif dan kausalitatif itu di seantero bumi.

Kita lemah tak berdaya, hanya bisa rebah kepada Allah Swt. Hanya bisa standby melaksanakan perintah Allah “innama amruHu idza arada syai`an an yaqula lahu kun fayakun”. Terharu-biru dan nelangsa di hadapan-Nya. Kita kaum Dlu’afa hanya bisa meneguhkan bahwa kita terus berjalan, terus madhep mantep dengan iman dan ilmu yang dihidayahkan oleh-Nya, memastikan ‘amal shaleh sehari-hari, bekerja keras untuk memenuhi amanat untuk hidup sebatas yang Allah perintahkan, tekun dan rajin sowan kepada-Nya dengan ibadah mahdlah, dengan dzikir, wirid bahkan hizib.

Kita perindu sorga, dan ketakutan oleh neraka. Namun selama di dunia ini sudah ada “air kawah” neraka yang bukan mengerikan, melainkan memuakkan, menjijikkan, “bosok” dan “njembeki” di sepanjang jalur online Trio-Siluman itu yang berseliweran siang malam di sekitar kita. Kita tidak akan “kolu” untuk berperang malawan air kawah neraka ini. Menang ora kondhang, malah muntah-muntah, kalah wirang.

Tetapi kita mustahil tidak meyakini janji Allah “wamakaru wamakarallah, wallahu khoirul Makirin”. Dengan “bis-shobri was-shalat”, dengan terus bekerja keras, beramal shaleh, dengan dzikir, wirid dan hizib, kita berlatih sabar menunggu “wamakarallah” seminggu dua minggu lagi, atau sebulan dua bulan lagi, bahkan jika pun lebih dari itu. Para salikin wa fa’ilin Maiyah tidak akan terjerembab jatuh ke lembah keraguan-raguan terhadap cinta Allah kepada yang setia dan tekun mentauhidi-Nya, tidak nelangsa dalam gejala keyakinan bawah sadar bahwa Allah pernah tidak menepati janji-Nya, bahwa Allah bermain-main dengan irodah dan amr-Nya.

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْـكَرِيْمِ

وَمَنْ يَّدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۙ لَا بُرْهَا نَ لَهٗ بِهٖ ۙ فَاِ نَّمَا حِسَا بُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْـكٰفِرُوْنَ

وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَا رْحَمْ وَاَ نْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ

Hari ini, Jumat 25 Desember 2020, mulai tatkala matahari tenggelam, mohon Jamaah Maiyah mengkonsentrasikan batinnya untuk menghimpun keyakinan atas kasih sayang Allah kepada siapapun yang mencintai dan patuh kepada-Nya. Serta memusatkan tangis jiwanya untuk mengimani keadilan Allah yang pasti bertindak kepada para Munafiqun yang melecehkan dan menyelingkuhi-Nya. Kemudian intadziris-sa’ah.

Lainnya

Buku dan Merchandise