Harmoni Mengeksplorasi Bakat, Menyadari “Realitas Simbolik” Manusia

Petikan Singkat Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Yogyakarta, Jum'at, 17 Januari 2020

Bu Suroso, 53 tahun, naik ke panggung. Ia dipersilakan Mas Angga berbagi pengalaman yang berhubungan dengan potensi diri. Ibu yang tiap hari bekerja di Puskesmas ini punya tekad belajar tinggi di dunia kepenulisan. Berusia sepuh bukan halangan untuk mencoba hal baru. “Yang penting menikmati. Selain menulis seputar pengalaman sehari-hari, saya juga ikut kursus komputer,” tuturnya.

Setelah berhaji, tahun 2015, ia meminta kepada Allah agar diberikan petunjuk ke arah mana potensi dirinya. Ia berharap dapat mewariskan sesuatu. Akhirnya dipilihlah dunia tulis-menulis. “Meskipun belum bagus tapi saya berusaha di situ,” ucapnya. Ia belajar menulis pertama kali tahun 2012. Pernah dibuatkan blog oleh anak kos. Bu Suroso berjanji akan memposting tiga kali dalam seminggu. Tapi kenyataannya, setelah punya blog, baru mengunggah satu tulisan.

Jamaah Mocopat Syafaat yang rajin ke Tamantirto ini telah memublikasikan buku ber-ISBN berjudul 40 Hari Ngapain Aja. Buku itu menjadi tiket masuk studi lanjut. Sekarang berjuang menyelesaikan D3 Farmasi. “Berbekal buku pertama itu saya mengajak ke teman-teman. Ayo menulis bareng. Saya ajak mereka. Saya mengharapkan agar mereka menulis. Dari jumlah 82 kontributor, yang tidak setor hanya beberapa orang. Saya merasa berhasil mengajak teman-teman.”

Sekarang ia sedang mempersiapkan tulisan mengenai sejarah Puskesmas. Bu Suroso melacak mundur sekitar 70 tahun. Menurutnya, Puskesmas itu dahulu bernama Poliklinik dan bersalin nama menjadi Balai Pengobatan. “Ketika mencari referensi buat bahan tulisan, bahkan saya datang ke FK UGM. Jauh dari rumah. Namun, saya merasa senang dengan aktivitas ini,” ujarnya.

Tiap Jamaah Maiyah mempunyai potensi masing-masing. Bu Suroso adalah sebagian kecil jamaah yang menggeluti dunia literasi. Sebagian lain di dunia perdagangan, akademisi, pegawai negeri, maupun latar belakang lainnya. Jamaknya potensi itu mencitrakan betapa aneka rupa Jamaah Maiyah.

Persambungan Harmoni

Menemukan potensi individu menandakan seberapa mendalam mengetahui diri. Ahmad Karim, mahasiswa doktoral di University of Amsterdam, memperjelas kalau kedirian di Maiyah diorkestrasikan secara harmonis. “Saya sedang meneliti soal itu di Maiyah. Sesuatu yang unik dan bahkan menjadi corak keberbedaan di Maiyah. Bukan sebagai ancaman, melainkan kelebihan,” jelasnya yang tiga bulan ini pulang ke Indonesia untuk melanjutkan penelitian.

Di Maiyah keseimbangan selalu disemai. Cak Nun menitikberatkan pada silaturahmi—perhubungan kasih sayang—untuk menjaga harmoni itu. Senada dengan Cak Nun, malam itu, Pak Aji Santoso, Pelatih Persebaya, mempunyai pengalaman seputar keseimbangan. “Selama mengikuti Maiyahan saya mencatat. Intinya selalu ada harmoni antara hablun minannas dan hablun minallah. Di Maiyah itu kita tidak menyakiti sesama. Selalu bermanfaat kepada orang lain. Yang hablun minannas, di Maiyah, ibadah itu bukan diorientasikan untuk bertransaksi. Yang penting mendapatkan cinta dan ridha dari Allah Swt. Saya bersyukur dan berterima kasih dapat mempelajari itu dan sekarang berada di antara keluarga besar Maiyah,” paparnya.

Sedangkan Nasrudin Anshori, malam itu juga hadir, sahabat Cak Nun di era Patangpuluhan sejak tahun 83, malah sedang mempraktikkan harmoni. Kini ia menyiapkan antologi berisi karya para tokoh besar dari Sabang sampai Merauke. “Saya juga meminta karya dari Cak Nun agar membuat harmoni dalam kesusastraan yang akan diantologikan itu,” katanya.

Cak Nun menganalogikan harmoni dari sisi simbolik tumpeng. Menurut Cak Nun terdapat transformasi dari ambengan menjadi tumpengan. Sunan Kalijaga kemudian mengusulkan tumpengan. Ia menandakan vertikal ke Allah atau hablun minallah. “Sementara dari sisi hablun minannas di situ dilihat dari ambengan yang di sekitarnya dikelilingi kembang kantil. Artinya mawarna-mawarni. Di situ kita dapat melihat tumpeng sebagai simbol harmoni,” ujar Cak Nun.

Dialektika Nasib dan Takdir

Pemuda dari Banyumas gayung bersambut setelah Cak Nun memberikan kesempatan kepada jamaah untuk bertanya. Ia mengatakan kalau sejak SD telah melakukan perbuatan buruk. Minum dan mengobat. Tapi sudah tujuh bulan ia meninggalkannya. Selama itu, kalau minum, ia langsung teringat Allah. “Itu yang membuat saya berhenti dari perbuatan yang saya anggap buruk di masa lalu itu. Saya ingin Cak Nun menjelaskan tentang kehidupan sejati,” tanyanya.

Cak Nun merespons dengan cerita berisi hikmah. Dahulu, ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, salah satu di antaranya ada Abu Dzar Al-Ghiffari. Ia mengatakan tiga hal yang membuatnya bahagia. Antara lain lapar, sakit, dan mati. Lapar karena ingat kelemahan, sakit sebab ingat Allah, dan mati karena akan ketemu Allah.

Cerita Cak Nun ditanggapi Kiai Muzammil. “Tiap orang memungkinkan dapat hidayah dari Allah sesuai yang Dia kehendaki,” jelasnya. Hidayah tentu terbedakan dari nasib dan takdir. Cak Nun melanjutkan kalau perjalanan ke akhirat itu selalu menegaskan dialektika dengan takdir. “Takdir itu tawar-menawar dari keadaanmu dengan kehendak Allah. Takdir itu sesuatu yang bisa diproses dan dinegosiasikan. Kalau nasib itu sesuatu yang baku dan tak dapat diubah,” paparnya.

Memahami Bahasa

Mas Sabrang menambahkan lebih detail, selain takdir dan nasib yang didiferensiasikan secara konseptual, ia juga bukan semata-mata soal bahasa. Semua makhluk hidup, menurutnya, mengalami realitas yang sama, yakni realitas sensorik. Itu bedanya manusia dengan makhluk lain.

“Itu saya sebut kalau manusia punya realitas simbolik. Apa yang ditangkapnya itu kemudian disimbolkan dengan kata-kata. Simbol dari kata-kata itu terbebas dari rentang waktu. Kecenderungan ini yang menjadikan manusia unik dan jelas berbeda dengan makhluk lain,” tandasnya. Kata-kata dan bahasa itu murni dimiliki oleh manusia. Sebuah kesadaran yang dibahasakan.

Ketika Tuhan mengajarkan nama-nama kepada Adam, lanjutnya, maka itu dikarenakan memang potensi manusia dalam menangkap bahasa sebagai simbol. “Di sini signifikansinya,” tambahnya. Cak Nun menguatkan paparan Mas Sabrang. Manusia juga yang bisa memahami realitas waktu. “ Kita memang harus kembali ke konsep muroja’ah. Memahami kembali setiap kata. Tak ada kata yang bisa berdiri sendiri.”

Kerja Sama Intelegensia

Selain bisa belajar dari sepakbola sebagai bentuk nilai harmoni, menurut Mas Sabrang, manusia juga dapat belajar dari singa perihal kerjasama. Ia menyebut kerja sama itu perlu dilatih. Setidaknya, bagi Mas Sabrang, terdapat empat lapisan kerja sama intelegensia. Pertama, deklaratif, cara berpikir dengan kata dasar “atau”. Kedua, kumulatif, cara berpikir “dan”. Ketiga, serial, cara berpikir “jika maka”. Ketiga, paralel, cara berpikir “jika maka” tapi jumlahnya banyak.

“Semakin tinggi cara berpikir manusia maka, akan semakin adaptatif. Sebab opsi melakukan sesuatu semakin banyak. Kalau deklaratif itu tak berpikir panjang. Orang yang berpikir paralel tak akan menemui kesulitan dalam kehidupannya. Saya menyebut ini lebih akurat ketimbang parameter IQ,” wedarnya.

Cak Nun merespons kalau semestinya ada simposium mengenai intelegensia dalam sepakbola. “Berlari tanpa bola itu lebih penting ketimbang dengan bola. Yang dipelajari adalah keputusan secara akurat. Pun juga tepat memanfaatkan momentum. Keputusan dalam sepakbola mesti dilatih dengan intelegensia. Sepakbola itu harus tepat secara momentum,” pungkasnya.

Buku Lockdown 309 Tahun