Gus Sholah Memiliki Karakter yang Laku di Hadapan Allah

Memenuhi undangan keluarga Ndalem Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tadi malam (8/2/2020), sebelum pengajian Padhangmbulan, Mbah Nun menghadiri Tahlilan 7 hari meninggalnya Gus Sholah. Hadir juga para tokoh baik dari kalangan sesepuh dan kyai di lingkungan NU maupun tokoh lain seperti Pak Dien Syamsudin dan mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam kesempatan ini, Mbah Nun juga diminta memberikan sambutan dan kesaksian mengenai Gus Sholah. “Di dunia, orang mudah kagum kepada orang hebat. Dalam khasanah Jawa, orang hebat ini adalah orang yang tepak. Nah, tepak ini kan masih sangat abstrak,” kata Mbah Nun.

Dahulu, ada struktur dalam masyarakat: orang baik, orang pinter, orang kuat, orang kuasa, orang kaya. Orang kaya terletak pada stratum yang paling rendah. Orang yang tinggi derajatnya adalah orang yang baik, orang yang alim, orang yang mulia perangai dan akhlaknya. Namun, sekarang terbalik. Justru menjadi orang kaya adalah dambaan banyak orang. Padahal semua kehebatan di dunia ini tidak akan laku di hadapan Allah.

“Gus Sholah bukan orang yang hebat karena kepandaiannya, kekayaannya, popularitasnya. Gus sholah adalah orang yang seluruh karakternya laku di depan Allah. Akhlakul karimah, jujur pikirannya, dan sederhana hidupnya,” ungkap Mbah Nun.

Kemudian Mbah Nun menambahkan, “Gus Sholah harus kita catat sebagaimana kriteria Allah, ikhlas, sungguh-sungguh, tafakkuh fiddiin. Memiliki unsur-unsur ahsanu taqwiim yang dikehendaki oleh Allah. Gus Sholah tidak pernah mengejar sesuatu yang memang tidak pantas dikejarnya.”

Selain memberikan testimoni tentang Gus Sholah, Mbah Nun menyampaikan harapan agar Pesantren Tebuireng mampu menjadi Serambi Madinah di Indonesia. Sebab, bagi Mbah Nun, sudah ada Serambi Mekkah di Aceh, tetapi belum ada Serambi Madinah di Indonesia.

Mbah Nun menjelaskan mengapa penting keberadaan Serambi Madinah di Indonesia. Salah satu urgensinya adalah karena saat ini yang lebih banyak diutamakan oleh masyarakat adalah Islam Mekkah, Islam yang hanya berorientasi pada aqidah dan fikih saja.

Menurut Mbah Nun, Islam Madinah adalah bukan Islam kekuasaan, tetapi Islam khilafah dan Islam silaturahmi. “Khilafah itu maksudnya, kita memiliki ilmu dan kreatifitas untuk mengelola segala sesuatu. Khilafah itu artinya kita berjalan selalu di belakang Allah,” kata Mbah Nun.

Di Madinah, kewibawaan dan kebijaksanaan Rasulullah Saw yang menjadi pemimpin. Maka Rasulullah Saw di Madinah tidak pernah menjadi pemimpin, tetapi justru dengan kewibawaan dan kebijaksanaan itulah Rasulullah Saw menjadi sosok yang sangat dihormati. Bahkan, Rasulullah Saw tidak pernah menyuruh orang masuk Islam. Maka lahirlah Piagam Madinah yang berisi 47 pasal yang merupakan kesepakatan bersama masyarakat di Madinah saat itu.

Mengakhuri sambutannya, Mbah Nun mengajak seluruh jamaah yang hadir di Pesantren Tebuireng semalam untuk bersama-sama melantunkan sholawat alfu salam.

“Ya Allah jadikanlah malam hari ini menjadi momentum hidayah tidak hanya bagi semua yang hadir malam ini, tetapi menjadi momentum hidayahMu bagi semua ummat Islam dan bagi semua yang berurusan dengan Tebuireng dan untuk seluruh rakyat Indonesia dan ummat manusia di dunia,” doa Mbah Nun. (Fahmi Agustian)

Lainnya

Gus Sholah Seorang Mujtahid

Mbah Nun Ta’ziyah Meninggalnya Gus Sholah

Kekuatan Ridla

Yang di Atas dan Yang di Bawah

Maghdlub

Buku dan Merchandise