Gardu Pandang Sepakbola, Maiyah, dan Islam

Intinya pemain bola ya bermain bola. Dan subtansi bermain bola ialah meng-hijrah-kan bola.

Bola dioper, bola berpindah ke satu titik ke titik yang lain. Dan ketika bola ber-hijrah melewati garis gawang, itulah puncak makrifat sepakbola (gol).

Gol menjadi amanu-nya, wahajaru-nya harus mengoper bola sampai garis gawang, kemudian wajahadu-nya bisa ditempuh dengan banyak tarekat. Misalnya tarekat tiki-taka ciptaan Guardiola, catenaccio karya Helenio Herrera, atau memakai tarekat Gegenpressing-nya Jurgen Klopp (Imam Ghazali-nya sepakbola saat ini).

Salah satu tema yang muncul di acara Macapat Syafaat edisi Januari 2020 adalah Sepakbola. Terlebih lagi di atas panggung hadir Coach Aji Santoso yang merupakan Pelaku Sepakbola (Pelatih Persebaya). Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis bermaksud berbagi elaborasi nilai-nilai sepakbola yang bisa dihikmahi.

Tahaddus binni’mah Aji Santoso

Kapan Timnas Senior Sepakbola Indonesia berprestasi? Terakhir kalinya timnas bisa juara terjadi pada 1991 saat merengkuh Emas Sea Games. Dan salah satu pemain yang turut berjibaku meraih juara tersebut adalah Aji Santoso. Bila ada pertanyaan siapa bek kiri terbaik di indonesia? Yang melekat pertama di ingatan penulis ya Aji Santoso.

Wasit biahkamil hakimin

Berapun skornya, selama wasit belum meniup peluit panjang maka hasil akhir belum terlegitimasi. Walaupun menit 89 salah satu tim unggul 3-0, tetap belum terlegitimasi untuk merayakan kemenangan.

Begitu pula saat roh masih ada di jasad dan belum dicabut melewati kerongkongan, tidak ada satu pun pihak yang legitimate menyatakan dia muslim, dia kafir, dia masuk surga/neraka kecuali sang wasit sendiri (alaisallahu bi ahkamil hakimin).

Mbah Nun juga pernah mencontohkan bahwa beliau sendiri tidak berani menyebut dirinya muslim. Kepada diri sendiri saja takut menyatakan muslim, apalagi mengkafir-kafirkan orang lain, meremehkan orang lain bahkan merendahkan martabat orang lain.

Simulasi inlam takun alayya ghodlobun fala ubali

Betapa “malang-nya” menjadi bola yang ditendang, digajul, disundul, dilempar kesana kemari oleh pemain bola. Begitu juga dengan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Manusia tidak tahu akan ditendang sekeras apa, akan digajul ke arah mana.

Bersyukurnya di Maiyah oleh Mbah Nun dibekali formula “fala ubali”. Apapun itu yang menimpamu, sepahit apapun yang kamu rasakan selama Allah tidak marah, maka nikmati dan syukurilah semua itu.

Sepakbola Rakaat Panjang Inni ja’ilun fil ardhi khalifah

Kebanyakan orang tahunya melatih sepakbola itu pekerjaan yang sederhana. Melatih dan hanya duduk di pinggir lapangan saat laga berlangsung. Namun kenyataannya bukan seperti itu. Sepakbola bukan game seperti tinju atau lari yang hanya sekali laga terus berakhir.

Ambil contoh kompetisi Liga 1 Indonesia. Setiap klub harus melakoni laga sebanyak 34 kali. Satu laga berdurasi 90 menit. Kurang lebih 8 bulan waktu yang dihabiskan. Belum lagi jarak tempuh Indonesia yang berkepulauan. Harus main di Jawa, kemudian main di Padang, Kalimantan hingga ujung timur di Papua.

Sepakbola adalah rakaat panjang. Dan melatih sepakbola merupakan salah satu manifestasi inni ja’ilun fil ardhi khalifah. Bagaimana pelatih harus mengelola itu semua. Mulai dari memilih pemain sesuai fadhilah-nya, pola latihan yang tepat, menjaga konsentrasi dan kebugaran pemain. Dan jangan lupa juga mengelola “manusia-nya”.

Ketika pemain tidak berlatih dan bertanding. Pemain sepakbola kan juga manusia biasa dengan kegiatan sehari-harinya. Di situ hubungan pelatih dan pemain sudah tidak teknis lagi, namun ya hubungan manusia dengan manusia. Manusia dengan segala problematika sehari-harinya.

Hal tersebut merupakan tantangan terberat pelatih sepakbola bagaimana mengelolanya agar tidak berdampak buruk menganggu performa di lapangan. Ya, melatih sepakbola bukanlah pekerjaan yang sederhana hanya duduk manis di pinggir lapangan. Di balik itu, dia harus mengelola banyak aspek dan dalam jangka waktu yang lama.

Beda Zaman Beda Ijtihad

Coba perhatikan kemana dan seperti apa kondisi pelatih sepakbola kawakan. Gaya kepelatihan dan taktik mereka perlahan tenggelam dengan keadaan zaman. Kini di hampir semua kompetisi justru dikuasai dan lahir pelatih pelatih muda seperti Zidane, Guardiola, Simeone, Jurgen Klopp, dan Deschamps.

Satu nilai yang bisa diambil adalah, pelatih-pelatih muda tersebut hadir dengan ijtihad taktik yang baru, lebih fresh, dan lebih efektif dibanding dengan taktik yang sebelumnya.

Mengapa ojek online kini semakin dibutuhkan? Ya, karena memang sudah tuntutan perkembangan zaman. Bagaimana dengan Islam?

Di abad yang sudah sedemikian maju, apakah Islam masih disampaikan dengan cara-cara usang?

Apakah hanya masih seputar haram, kafir sesat surga neraka? Apakah orang datang pengajian hanya dituturi/diceramahi searah oleh narasumber? Bagaimana Islam merespons fenomena los, ambyar, Kpop?

Bersyukurnya ada Maiyah. Mbah Nun dan Maiyah selalu melakukan ijtihad sesuai dengan fenomena zaman yang berlangsung. Dengan konsep Sinau Bareng semua berposisi menjadi guru sekaligus murid. Mengedepankan basyiran wa nadziran. Maka tak heran semakin ke sini sering kita jumpai ada adegan jamaah yang berjoged di atas panggung. Dan tentunya masih banyak contoh lagi ragam ijtihad Maiyah yang sangat efektif membuat orang baligh ke Allah dan ya ‘Azizun Muhammad.

Sekali lagi terima kasih kepada Coach Aji Santoso yang sudah hadir di Macapat Syafaat yang sekaligus turut membuka banyak hal yang bisa dihikmahi dari olahraga sepakbola.

Piyungan, 20 Januari 2020

Buku Cak Nun Majalah Sabana