Gabah Dèn Interi

Corona, 41

Kemarin saya ditelepon oleh seorang Dokter yang mengemukakan kecemasannya terhadap langkah-langkah penanganan kasus nasional internasional Covid-19 di Indonesia. Dokter itu menangani Rumah Sakit yang beberapa tahun terakhir ini mendapatkan sejumlah penghargaan internasional. Ia juga merupakan salah satu dari 4 kandidat Menteri Kesehatannya Jokowi periode terakhir ini, tetapi faktor ini tidak ada hubungannya dengan kecemasannya soal pengelolaan kasus Coronavirus. Ia melihat ada langkah yang seharusnya bisa dilakukan tapi tidak dilakukan, atau yang mestinya tidak dilakukan tetapi dilakukan.

Melalui Mbak Novia dan Kadipiro beliau mengirim teks dan foto atau gambar, terutama alat yang bernama Reagent, mesin pemeriksa ketertularan Covid-19 pada setiap orang secara real time.

Reagent ini ibarat peluru. Para petugas medis kita ini dikerahkan untuk melakukan perang syahid melawan Dajjal Corona tanpa dibekali peluru dan tameng (APD) yang memadai. Rupanya ada salah satu buah filosofi budaya diimplementasikan: “Sugih tanpa bandha, sekti tanpa aji, menang tanpa ngasarake”. Jamaah Maiyah punya romantisme sendiri: “Mbedil tanpa peluru, mangan tanpa sega, urip sarwa njomblo….

Sebelumnya, Dokter yang saya menjulukinya “Dokter Pohon Pionir” ini mengirimkan panduan praktis dan mudah dipahami oleh orang awam seperti kita semua ini:

PANDEMI CORONA? JANGAN PANIK.

Kita ini adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Kita manusia pasti memenangkan “pertarungan” ini.

Berikut adalah Tata cara menghindari tertular dan menularkan Covid-19:

  1. Stay at home.
  2. Tidur minimal 7 – 8 jam/hari.
  3. Berjemur 15-30 menit antara jam 10 sampai jam 11 pagi sambil olah raga ringan.
  4. Makan empat sehat lima sempurna plus telur, bisa ditambah vitamin C dan E
  5. Rajin mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir(mengucur/mlanthur) atau hand sanitizer dengan teknik 6 langkah cuci tangan yang benar. Apabila anda seorang muslim tolong senantiasa punya Wudlu, diawali dengan cuci tangan pakai sabun atau kalau tidak ada sabun pakai hand sanitizer terlebih dahulu.
  6. Usahakan jangan mengusap wajah dengan anggota tubuh manapun, kecuali sudah cuci tangan (6 langkah) dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer dengan teknik 6 langkah juga.
  7. Apabila terpaksa harus keluar rumah untuk sebuah urusan yang mendesak, jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter, harus pakai masker dan upayakan anggota tubuh seminimal mungkin menyentuh orang lain/ benda diluar rumah.
  8. Patuhi Etika masuk rumah setelah bepergian dengan cara cuci tangan dengan teknik 6 langkah sebelum masuk rumah. Pakaian yang dikenakan langsung dimasukkan/direndam larutan detergen, selanjutnya dicuci. Setelah itu mandi dan ganti baju rumah.
  9. Jangan lupa berdo’a semoga kita semua terhindar dan bisa melewati pandemi ini dengan baik.

(Tulungagung 03 April 2020)

Berikutnya ia menyampaikan: “Titip buat CN. Seandainya kita punya Reagent…. pasti tidak begini jadinya Indonesia. Kalau diibaratkan mesin tersebut senjata dalam “Pertempuran dengan Covid-19 ini”, Reagent itu adalah pelurunya. Gunanya untuk mendeteksi virus real time”.

Tanpa alat seperti itu kita tenaga medis yang di garda terdepan ibarat dikirim ke medan perang tanpa dilengkapi senjata maupun alat pendeteksi musuh. Sudah begitu ditambah pula tanpa dibekali perlengkapan pelindung diri

Kalau dianalogkan Mobil, kita punya mobil dan sopir tapi bensinnya nggak dikasih dan mau beli pun nggak ada barang. Masak semua sampel harus dikirim ke Jakarta atau beberapa provinsi (yang diijinkan oleh Menkes untuk memeriksa), menunggu hasilnya bisa 3 minggu lagi baru keluar… Kita sudah “tertembak” duluan

Padahal kalau diijinkan meriksa dalam hitungan menit kita bisa tahu hasilnya seseorang itu mengandung virus Covid-19 atau tidak…: Semakin cepat diketahui akan semakin baik karena kita bisa langsung identifikasi penderita, carrier dan orang yang pernah kontak dengan mereka

Untuk diisolasi guna memutus rantai penyebaran. Atau memang sengaja ada pembiaran sampai semua orang terinfeksi, banyak orang yang mati dan juga banyak dokter dan tenaga medis yang akan gugur di medan laga? Wallahu’alam

Apa yang disampaikan oleh Dokter kita itu saya teruskan sampai ke dekat Istana. Siapa tahu Pemerintah pusat berkenan memberi waktu untuk mendengarkan sesambatan dan usulan Dokter kita ini, entah diterima dalam pertemuan langsung, atau pakai video conference atau entah bagaimana. Siapa tahu akan ada langkah nasional yang lebih melindungi rakyat Indonesia dari serbuan Covid-19.

Pastilah saya tidak punya akses atau jalur jalan tikus untuk shortcut ke wilayah jantung Negara itu. Maka saya mlipir ke pinggir-pinggir pagar. Siang saya sampaikan.

Sampai 3 sd 5 jam kemudian tidak ada respons. Saya kejar, pinjam WA hp-nya Mbak Via, belum ada hasilnya. Malam tiba. Tetap juga nihil. WA on, tapi belum centang biru. Saya susuli telepon, tapi tetap belum dibuka pintunya. Seolah-olah keadaan Negara kita sedang “tata tentrem kerta rahardja”, tidak kurang suatu apa, dan tidak ada sesuatu yang memaksa kita standby dan online terus.

Saya tidak punya ekspertasi dan kompetensi untuk menilai apakah yang dikemukakan oleh Dokter kita itu benar atau salah, rasional atau ngayawara, relevan atau tidak, urgen atau belum, dan seterusnya. Maka saya cari “versi kedua”, minta pendapat Dokter Maiyah yang lain, yang menjawab:

Kita berperang tapi tidak tahu medan perang, tidak dilengkapi senjata. Para ahli tidak didengarkan omongan dan sarannya. Jadi tidak usah perlu ahli epidemiologi atau ahli penyakit menular… Kalau memang ada upaya ‘pembiaran’ penularan. Teman-teman dokter dan tenaga medis di garis depan sangat buta dengan musuh dan minim amunisi”.

“Kalaupun ada yang positif Informasi siapa dan dimana kita juga buta atau dibutakan. Sehingga  kita seperti berjalan dalam gelap. Berikutnya adalah masalah di Rumah Sakit sendiri… Ketersediaan ruang beserta alat-alatnya termasuk ventilator. Karena obatnya tidak ada. Obat yang selama ini diberikan hanya untuk supportif terhadap problem paru-paru. Sampai sekarang kita nggak punya pembunuh virusnya”.

“Sebagian rakyat ora kroso yen juragane culiko. TKA masih masuk, ibukota baru jalan terus, dana untuk urusan Covid ambil dana abadi Pendidikan…”

Sambil terus menunggu dari menit ke menit, saya ingat memang bisa saja diteorikan atau disimulasikan salah satu skenario: Dibiarkan saja semua orang ambyur ke mana pun mereka mau, Covid-19 lapang leluasa melompat-lompati semua dan setiap orang. Kemudian menderita semua, yang meninggal di bawah 10%, yang 90% tersisa tetap hidup dengan kesaktian baru, dengan “population immunity” atau “hard effect community immunity” atau lazimnya disebut “herd Immunity”.

Istilah Jawanya “Jer Basuki Mawa Bea”. Basuki-nya adalah semakin saktinya rakyat Indonesia mayoritas, Mawa Bea-nya ada yang tua-tua, yang lemah-lemah, berhijrah ke Alam Kubur dan Alam Barzakh. “Gabah Dèn Interi”. Seleksi alam, dan memang demikian selalu berlangsung dalam sejarah ummat manusia.

Tetapi ini “ngemu kejem”, ada kandungan kekejaman apabila langkah pembiaran ini dilangsungkan. Sudah pasti Pemerintah kita, apalagi Kabinet Indonesia Maju, tidak akan sampai hati menyelenggarakan hororisme sejarah seperti ini. Kepada Jamaah Maiyah hampir tiap malam selama ini saya secara implisit selalu menebarkan aura bahwa para Pejabat Pemerintahan kita sekarang ini, kalau pakai istilah Al-Qur`an, “ya’lamu ma yaf’alun”, mengerti benar apa yang mereka kerjakan. Semua jajaran petugas Negara selalu “ya’malu ma yu`marun”, siaga menjalankan apa yang diperintahkan. Rata-rata puncak kepemimpinan Negara kita ini “can do no wrong” — mustahil berbuat salah. Dan pucuk pimpinan Negara ini punya sifat, kondisi, dan kemampuan “Innahu ‘ala kulli syai`in qodir”. *****

Buku Lockdown 309 Tahun