Fuad-Ubnu Abi Fuad

Fuadus-Sab’ah, Jombang, Juli 2017 (Foto Adin | Dok. Progress)

Urip sakmadya

Kalau di Maiyahan saya mengajak Anda melantunkan “Wakafa billahi Wakila, wakafa billahi Syahida, wakafa billahi Waliyya, wakafa billahi Razzaaqaa…”, sisakan ruang cadangan di hatimu, karena mungkin itu hanya bunyi mulut saya atau kenikmatan berlagu saya saja. Tetapi kalau Cak Fuad yang mengajakmu, maka penuhkanlah hatimu, karena itu adalah kehidupan Cak Fuad. Kalimat-kalimat itulah hidupnya.

Cak Fuad lahir tanggal 7, bulan 7, tahun 1947. Dan beliau meneguhkan di dalam hatinya bahwa itu adalah ketentuan Allah atas hidupnya. Dan cukuplah itu baginya. “Saya 7 saja, tidak perlu 9 apalagi 10”, kata Cak Fuad. Kalau sejak zaman Orde Baru ada jargon “hidup sederhana”, maka Cak Fuadlah yang duduk di shaf pertama kesederhanaan hidup. “Urip sakmadya”, kata falsafah Jawa. “Kulu wasyrabu wala tusrifu”. Makan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.

Cak Fuad adalah manusia yang sadar sesadar-sadarnya dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya untuk hidup sederhana. Kalau keluarga kami di Menturo itu normal mengikuti standar peradaban zaman, mosok Cak Fuad bukan Menteri Agama. Tapi beliau menjadi Dekan saja malu, menyembunyikannya jangan sampai diketahui oleh Ibu dan saudara-saudaranya. Ketika berakhir jabatannya, ia tidak lantas berkeinginan untuk memperpanjangnya, atau berlomba naik jadi Rektor — karena kemarin juga bukan ia yang berjuang untuk menjadi Dekan.

Saya sendiri tahu itu sesudah Cak Fuad bukan Dekan lagi. Di antara keluarga kami juga tidak satu pun yang terbersit di pikirannya bahwa mestinya sesudah itu ya jadi Rektor. Tetapi tatkala diangkat menjadi anggota King Abdullah bin Abdul Aziz International Center for Arabic Language atau Markaz Al-Malik Abdullah bin Abdul Aziz Ad-Dauli li Khidmati Al-Lughah Al-Arabiyah — Cak Fuad tidak bisa bersembunyi. Karena beliau adalah Marja’ Maiyah utama sebelum Syekh Nursamad Kamba dan Kiyai Tohar, perjalanan beliau ulang-alik terus-menerus Indonesia-Saudi adalah sesuatu yang justru wajib kami ketahui dan apresiasi.

***

Andaikan Bukan Cak Fuad

Kalau ada yang bertanya tentang orang terdekat yang saya kenal yang sepanjang hidupnya menjalani apa yang sangat mendasar ditentukan (ditakdirkan, dinasibkan) oleh Allah Swt, jawaban saya adalah Cak Fuad. Contohnya ya 7-7-1947 tadi yang diwujudkan riil selama hidupnya.

Ya. Marja’ Maiyah yang saya dan seluruh Ummat Maiyah sangat banyak bergantung kepadanya terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur`an dan Bahasa Arab.

Kalau ada yang bertanya siapa yang paling berpengaruh terhadap perkembangan hidup saya sejak kecil, remaja, dewasa hingga tua sekarang ini – jawaban saya juga pasti Cak Fuad. Memang tidak dalam arti langsung bahwa sejarah hidup saya dipenuhi oleh proses interaksi saya dengan beliau. Tetapi Cak Fuadlah yang meletakkan dan melibatkan saya ke dalam proses kependidikan yang mengantarkan saya menjadi saya yang sekarang ini.

Cak Fuad adalah putra sulung dari 15 bersudara putra-putrinya Pak Abi Fuad dan Ibuk Chalimah. Ayah kami bernama Muhammad, putra nomor dua dari Kakek H Abdul Lathif, yang hidupnya dikawal oleh Gus Ud atau Mbah Ud Kedung Cangkring Sidoardjo, kampung halaman asal beliau, yang makamnya kini di Pagerwaja.

Tetapi di masa kanak-kanak era 1960 saya mengenal Ayah kami bukan Muhammad bin Abdul Lathif, melainkan Abu Fuad, atau dalam posisi kata tertentu: Abi Fuad.

Tanda tangan beliau mengacu ke huruf-huruf Abi Fuad, bukan Muhammad. Tradisi budaya Jawa membiasakan seorang Bapak menyebut namanya dengan nama putra sulungnya. Mungkin juga kalau langsung begitu saja memberi pakaian kepada diri sendiri dengan gamis atau jubah Muhammad, beliau merasa “kabotan sangga”, istilah Jawanya. Wallahu a’lam.

Pada akhir tahun 1964, saya bertengkar melawan salah seorang Guru saya di SD Negeri Bakalan Sumobito Jombang. Karena saya terlambat masuk kelas beberapa menit, setelah berjalan dari desa tempat tinggal saya di Menturo yang jaraknya sekitar 3,5 km. Masalahnya tidak bahwa saya tidak mau “diparès” (dihukum, sitrap) gara-gara telat masuk. Tetapi beberapa hari berikutnya Guru yang menghukum saya itu juga datang telat dan saya memprotesnya. Terjadi sejumlah adegan yang membuat Kepala Sekolah memanggil ayah saya. Dan hasilnya adalah saya minta keluar dari SD Bakalan.

Kemudian saya dipindah jauh ke Ponorogo, di mana Cak Fuad sudah menjadi santri kelas V (setingkat kelas II SMA) Pondok Modern Gontor. Tentu saja saya tidak bisa masuk Pondok karena belum tamat SD. Maka Cak Fuad mengatur proses saya bersekolah di SD Negeri Gontor, dan bertempat tinggal di rumah Pak Hadjid ‘Adhim, Ustadz senior di Pondok yang juga menantu Pak Sukarto Lurah Desa Gontor yang merupakan saudara sulung tiga Kiai Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fanani dan KH Imam Zarkasyi.

Cak Fuad diserahi oleh Ibu untuk mengawasi saya dan mengurusi segala keperluan sekolah maupun kost saya. Momentum bersekolah di desa Gontor ini merupakan awal peran Cak Fuad atas saya. Andaikan kakak saya bukan Cak Fuad, bentukan mental, kepribadian dan orientasi hidup saya belum tentu seperti sekarang ini.

Cak Fuad adalah seorang Qari` panutan saya. Suaranya “kung”, vocalnya tebal, timbrenya sangat bagus dan kuat. “Lagu pop” qiro`atul Quran di Gontor ketika itu adalah tilawah-tilawah Syekh Abdul Basith bin Muhammad Abdus Shamad, yang suaranya bisa melengking sangat tinggi dan napasnya melebihi kuda. Tetapi Cak Fuad tidak cenderung atau tidak begitu suka kepada jenis qiro`ah Abdul Basith. Yang Cak Fuad wacanakan, dan kebetulan juga satu selera dengan KH Iman Zarkasyi, adalah qira`ah Syekh Mahmud Al-Khusyairi yang tenang, kalem dan tidak melonjak-lonjak, sekarakter dengan watak hidup Cak Fuad sendiri. Watak qira`ah yang jauh dari peluang untuk terpeleset lebih membanggakan suara dan kemampuan berqira`ah dibanding kesungguhan menyampaikan ayat-ayat Allah itu sendiri. Di masjid-masjid Jawa Timur adzan dan “sholah-sholah” Syekh Mahmud sangat sering diputar terutama di bulan Ramadlan.

Beberapa kali Cak Fuad menyertakan saya ikut MTQ tingkat Kecamatan dan Kabupaten. Tetapi panutan qira`ah saya adalah Ibu Chalimah sendiri, yang menuntun saya membaca serta melagukan Al-Qur`an sejak sebelum saya masuk sekolah. Lagunya agak Arab-Arab Jawa. Lugu dan murni. Surat dan ayat pertama qira`ah yang Ibu Chalimah ajarkan kepada saya adalah mulai ayat 94 Surat Ali Imron sampai beberapa ayat berikutnya.

“Ada lelaki memukul anjing…”

Tidak sampai satu bulan di rumah Bu Hadjib, saya mengeluh ke Cak Fuad dan kirim surat ke Ibu Chalimah bahwa saya minta pindah kos ke rumah Pak Carik Gontor. Alasan saya karena hidup sehari-hari saya sangat enak, fasilitas lengkap, makan selalu tersedia di meja, tidur di Kasur. Apalagi saya berteman akrab dengan anaknya Pak Lurah sebelah rumah yang nakal dan agak majdzub bernama Abbas. Abbas ini bermata satu, favorit saya. Karena dia anak Pak Lurah dan keluarga dekat Kiai Gontor, kalau ada acara kampung, dia yang dimintai memimpin doa. Dan Abbas membaca buku pelajaran Muthola’ah (ilmu bahasa): “Kana rojulun yadhribu kalban…”, ada orang laki-laki memukul anjing…. Dan semua serentak “Amiiiin, aamiiin”.

Abbas tetap kekasih pergaulan saya, meski kemudian saya pindah ke rumah Pak Carik, dan berteman dengan anak kos lain dari desa Pedamaran, kecamatan Kayu Agung, kabupaten Palembang, bernama Arnudi Isa Bardin. Rekan di SD yang memulai “pergaulan nasional” saya. Pagi sampai siang di SD Gontor, sesudah dluhur sampai sore saya merangkap sekolah di Madrasahnya Pak Carik, dan guru utama saya adalah Ibu Zayyinah adik kandung Pak Carik, yang sangat sayang kepada saya, sampai-sampai saya dimaklumi kalau belajar memilih tempat di atas dahan-dahan pohon.

Cak Fuad mengawasi saya dari Pondok. Saya juga sering dolan ke Pondok, bahkan Cak Fuad ber”kolusi” membuka peluang kepada saya untuk qiro`ah sebelum Maghrib di Masjid Pondok Gontor. Kalau kakak saya bukan Cak Fuad, mungkin saya pindah-pindah dari SD Bakalan ke SD Gontor, dari rumah Bu Hadjid ke rumah Pak Carik, menjadi perkara karena kerewelan saya. Tetapi saya tidak pernah dimarahi atau ditegur oleh Cak Fuad.

Bahkan sekitar tiga tahun kemudian ketika saya “mathrud” alias diusir dari Gontor dan dipindahkan bersekolah ke Yogya, Cak Fuad menerima saya di Kadipaten 17 Yogya rumah kosnya tanpa menegur apapun kepada saya. Saya masuk kelas 3 SMP Tampungan Muhammadiyah, bersekolah tiap siang hingga sore memakai sepeda milik kami satu-satunya yang seharusnya merupakan hak Cak Fuad. Karena beliau kuliahnya jauh membelah Yogya sampai pojok utara timur, yakni IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Adab.

Sekali Ini Saja, Demi Ibu

Selama di Kadipaten tidak satu dua kali juga saya bikin perkara. Cak Fuad tenang-tenang saja. Sampai saya keluar dari rumah kos dan tinggal di tempat lain, tak satu kata pun Cak Fuad bertanya atau menegur saya. Bahkan sesekali saya masih diajak ke kampusnya, terutama bertemu dengan Dosen dari Mesir Prof Mahmud Jad Akkawy. Saya sudah mulai menulis-nulis puisi dan kirim ke koran local Yogya, Suluh Marhaen atau Kedaulatan Rakyat. Suatu sore saya membawa buku tulis yang isinya puisi-puisi, teman Cak Fuad yakni beliau Bapak Munthalib Sukandar yang rumahnya di Babat, mengambilnya dari tangan saya dan membacanya. Tiba-tiba beberapa menit kemudian saya mendengar Cak Thalib berkata kepada Cak Fuad: “Lho, ini puisi beneran ternyata, bukan seperti remaja cengeng-cengeng”.

Itu seperti momentum hidayah. Sejak itu saya lebih percaya diri dalam hal menulis puisi. Sampai akhirnya ke kehidupan Malioboro, Persada Studi Klub, Sabana, Umbu Landu Paranggi, yang tetap online dengan Kadipiro dan mendirikan forum Maiyah “Masuisani” di Denpasar beberapa tahun belakangan ini.

Cak Fuad juga tidak pernah memarahi saya bahwa gara-gara begadang tiap malam di Malioboro lantas Sekolah saya di SMA Muhammadiyah I terbengkalai. Pernah satu semester saya membolos 39 kali. Kalau bukan Cak Fuad kakak saya, perjalanan thariqat dan riyadlah kreativitas sastra saya pasti tidak membawa saya sampai ke tahap yang sekarang ini.

Hanya satu kejadian saja: saya lagi-lagi bertengkar dengan Guru-guru di SMA Muhi. Banyak sekali detail yang saya tidak mungkin memaparkannya di sini. Tetapi begitu saya memutuskan untuk keluar dari Muhi, sore-sore Cak Fuad mengobrol dan berkata: “Nun, mbok sekali ini saja jangan keluar dari sekolah. Demi Ibu dan Ayah…”

Dan kalimat itu mujarab. Sehabis shalat maghrib saya langsung jalan kaki ke Ngasem, rumah Wakil Kepala Sekolah Muhi, Pak Kamil Syahri, menyatakan minta maaf dan mohon diizinkan untuk masuk sekolah kembali. Dan Pak Kamil mengabulkannya.

Ada sangat banyak kejadian, perkara atau peristiwa di mana Cak Fuad selalu bersikap tenang, tidak menghardik, tidak pernah ada amarah. Bahkan saya tidak perlu menyebut kata “bijaksana” untuk menggambarkan betapa bijaksananya Cak Fuad menemani masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa saya.

Dan sekarang kita terus maiyahan dibimbing Cak Fuad, dengan istiqamah 7-7-1947 sampai ulang tahun beliau ke-73 barusan ini. *****

Buku dan Merchandise