Ekologi Gambang Syafaat

Di antara kritik yang dilontarkan berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan adalah justru pembangunan kurang membangunan manusia itu sendiri. Sementara itu, perbincangan tentang pembangunan manusia seutuhnya yang dahulu didengungkan tampaknya lebih banyak merupakan realitas minor di tengah arus pembangunan hal-hal yang bersifat fisikal.

Adapun penyentuhan negara kepada manusia yang mungkin kurang pas untuk dapat mewakili apa yang disebut pembangunan manusia kerapkali berbentuk indoktrinasi yang salah satu muaranya adalah melanggengkan kekuasaan sehingga output-nya pun berbeda dari yang dibayangkan sebagi hasil pembangunan manusia.

Sekarang, malahan membangun atau pembangunan manusia sudah bukan merupakan vocabulary politik kita. Sekurang-kurangnya terminologi itu jarang lagi kita dengar. Terminologi itu bernasib serupa diksi-diksi yang tak lagi dipakai.

Hari ini Sabtu 25 Januari 2020 Majelis Ilmu Gambang Syafaat Semarang akan berlangsung dan bertempat sebagaimana biasanya di kompleka Masjid Baiturrahman Simpang Lima. Salah satu rekan kita penggiat GS menyampaikan bahwa komposisi teman-teman yang rutin datang ke GS ini kira-kira 50 persen mahasiswa, dan 50 persen nonmahasiswa. Tentu saja pada keseluruhannya terdapat ragam identifikasi latar belakang mereka, dari usia, asal daerah atau domisili, hobi, hingga jenis pekerjaan mereka.

Perkembangan yang menarik juga ia catat yaitu bahwa para jamaah semakin menemukan kenikmatan di dalam Gambang Syafaat ini, setidaknya dengan indikator mereka jenak bertahan hingga pukul 02.00 atau 02.30 dinihari baik ketika Mbah Nun atau Marja’ Maiyah lainnya tidak hadir maupun apalagi ketika beliau-beliau hadir membersamai mereka.

Perkembangan menarik lain yang ia catat adalah adanya fenomena pada sebagian jamaah untuk berkontribusi meski para penggiat tidak memintanya. Ada yang dalam bentuk bersedekah berupa makanan atau jajanan yang dibagikan kepada sesama jamaah. Sebagai contoh seorang pedagang penyetan dari kota di Jawa Timur kerap membawa jajanan dan buah-buahan buat dibagi kepada para jamaah.

Selain itu, jamaah juga enjoy dalam membeli kopi Gambang dan ketahuilah ini menyebabkan kopi racikan teman-teman GS “terancam” laris manis dalam dalam semalam itu. Demikian pula dengan kaos Gambang Syafaat. Tetapi yang paling menarik buat dicatat adalah rekan kita menyampaikan dari beberapa pengakuan para jamaah bahwa mereka pada datang ke Gambang Syafaat juga karena didorong rasa kangen untuk saling bertemu dengan sesama jamaah. Kebersamaan duduk lesehan bareng mengikuti ngaji di GS ini mereka kangeni. Sudah barang tentu ilmu dan pencerahan adalah hal yang utama yang juga mereka cari.

Dari beberapa perkembangan ini, kita dapat melihat suatu ekologi yang makin terbangun di Gambang Syafaat yang secara organis dan kolaboratif ditopang oleh para penggiat dan jamaah itu sendiri. Suatu ketika Mbah Nun pernah berkata, keadaan jamaah dan penggiat (atau panitia/penyelenggara) adalah ibarat sebuah wadah. Seberapa besar perolehan (ilmu, kegembiraan, dll) yang didapat di dalam satu Maiyahan atau Sinau Bareng berbanding lurus dengan kualitas atau kondisi wadah itu. Makin bagus dan solid wadah tersebut, makin besar yang dapat diperoleh atau dicapai dalam Sinau Bareng.

Semakin ekologisnya Gambang Syafaat seperti digambarkan di atas adalah satu contoh makin berkembangnya wadah yang dimaksud. Kemudian, apa yang berlangsung di Gambang Syafaat itu, juga di berbagai Majelis Ilmu Maiyah lainnya, dapat dibaca bahwa di wilayah grassroot, oleh kerumunan-kerumunan manusia yang berkumpul di berbagai tempat, masih berlangsung keistiqamahan proses pembangunan manusia, lebih tepatnya proses saling membangun manusia atau saling membangun di antara manusia, dalam cara yang baru dan subtil.

Buku dan Merchandise