Doa Pun Berpasangan

Sayyidina Khidlir ‘alaihissalam, Sang Nabi misterius, saudara se-semesta cintanya Kanjeng Nabi Muhammad Saw, adalah lambang dari kesejukan dan kelezatan air, hijaunya dedaunan serta wajah yang indah. Suatu malam di Masjid Madinah, berdoa: “Ya Allah, tolonglah aku atas apa yang bisa menyelamatkan aku dari apa yang paling kutakuti”. Rasulullah Muhammad Saw yang mendengar doa itu, menyuruh sahabat Anas untuk menyampaikan kepada yang melantunkannya: “Mengapa orang itu tidak menyertakan pasangan doa’nya yang seperti ini, Ya Allah berilah kepadaku kerinduan orang-orang shalih yang paling mereka rindukan”.

Kemudian Sayyidina Khidlir menyampaikan balasan: “Wahai Anas, katakan kepada Rasulullah Saw bahwa Allah telah memberi kelebihan karunia kepadanya di atas para Nabi seperti kelebihan kepada ummatnya di atas ummat para nabi lain, seperti kelebihan bulan Ramadhan atas bulan-bulan lainnya dan memberi kelebihan hari Jum’at atas hari-hari yang lain”.

Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, termasuk pria dan wanita serta setiap buah-buahan di bumi maupun sorga. “Allah meninggikan langit dan meletakkan keseimbangan padanya”. Berpasangan adalah salah satu formula keseimbangan. Kanjeng Nabi kekasih-Nya menyempurnakan pengetahuan itu dengan memberi contoh bahwa doa pun berpasangan. Demikian juga cara pandang kita terhadap segala sesuatu. Banyak pembawa Agama lebih mengkonsentrasikan informasinya pada ketakutan terhadap neraka, atau sebaliknya pola kejiwaan manusia yang lebih mendambakan sorga tanpa mengimbanginya dengan ketakutan terhadap neraka. Atau manusia cenderung terlalu cengeng terhadap derita dan kesedihan, tetapi timpang timbangannya dibanding mensyukuri berkah dan kenikmatan dari Allah swt.

Buku dan Merchandise